oleh John KW
Masih terngiang di kepala saya waktu ada pemimpin,
atau sebutlah mantan pemimpin ibukota yang dulu hobinya blusukan. Bayangkan,
ada orang penting yang memiliki jabatan di ibukota negara rela bolak balik
keluar masuk gorong-gorong tempat saluran air yang kumuh dengan masih
menggunakan pakaian rapi protokoler dengan minimal pakai batik dan celana
panjang hitam berikut sepatu pantofel dengan rambut sedikit klimis menggunakan
minyak rambut. Sebuah pemandangan unik yang epik dan tidak lazim dari seorang
pemimpin suatu kaum yang terdiri dari etnis majemuk.
Pertanyaan demi pertanyaan melintas di kepala saya.
Apa kepentingannya masuk gorong-gorong? Saya coba menjawab sendiri pertanyaan
tersebut. Mungkin beliau mau mengecek saluran air guna memastikan tidak ada
hambatan yang mengganggu demi hajat hidup orang banyak. Atau alternatif jawaban lainnya, mungkin
beliau ingin menyapa tikus-tikus atau penghuni gorong-gorong dari kalangan
hewan dan tumbuhan, sekalian menyapa mahkluk tak kasat mata yang menghuni
gorong-gorong. Mungkin.
Ada pula pemimpin daerah yang kerap marah-marah kepada
rakyat yang dipimpinnya. Permasalahan sepele dan receh yang mestinya dapat
diselesaikan dengan cara baik dan tidak mesti melibatkan beliau sebagai tampuk
pimpinan, alias anak buah beliau juga mampu menyelesaikan tugas tersebut.
Anehnya pola-pola semacam ini berulang.
Jawaban demi jawaban saya coba pikirkan.
Alih-alih.
Ada seorang calon legislatif miskin mencoba
peruntungannya menjadi anggota dewan perwakilan rakyat daerah. Miskin yang kata
halusnya itu kurang mampu memiliki arti miskin dari segi financial dan miskin
dari segi gagasan dan pemikiran. Lagi-lagi, isu janji politik palsu dan semu
dijual yaitu dengan janji menurunkan harga bahan pokok yang sejatinya jika
ditilik dan dipikir dengan hati jernih merupakan sebuah kemustahilan yang
berujung pada kebohongan belaka. Janji politik menurunkan harga bahan pokok di
negara berkembang merupakan isu klasik namun laris manis memikat hati
masyarakat kelas bawah yang jauh dari informasi dan pengetahuan dasar mengenai
hukum ekonomi sebab-akibat terkait dengan kegiatan produksi, konsumsi, dan
distribusi. Padahal seharusnya yang dilakukan adalah bagaimana suatu daerah
menaikkan produksi dan menurunkan konsumsi agar harga stabil
Politik Indonesia dipenuhi oleh orang-orang dengan
ambisi tinggi namun tanpa dibekali amunisi pengetahuan dan kekayaan intelektual
serta finansial. Sungguh naïf sekali orang-orang semacam itu dipilih melalui
mekanisme partai yang konon mewakili aspirasi rakyat. Entah rakyat yang sebelah
mana. Padahal jika melek mata dengan jelas gamblang bahwa ada peraturan tak
tertulis mengenai ongkos politik Indonesia adalah mahal, bahkan sangat mahal.
Logistik politik merupakan sesuatu yang aneh bin ajaib di negara ini, dimana
orang bisa menghabiskan uang dengan mudahnya tanpa adanya jaminan uang kembali
karena menang atau kalah ibarat pepatah klasik orang berkelahi, menang jadi
arang kalah jadi abu.
Pada akhirnya slogan seperti wakil rakyat, berjuang
untuk rakyat, dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat, dan segala macam yang
mengatasnamakan rakyat hanyalah semu isapan jempol belaka dari negeri utopia
bernama Indonesia. Entah sampai kapan segala sesuatu yang ada embel-embel
rakyat bakalan stop digunakan oleh segelintir orang rakus dan haus kekuasaan.
Kasihan rakyat.
z255d2zbozn645 cheap sex toys,cheap sex toys,dildo,sex chair,wolf dildo,sex chair,vibrators,realistic sex dolls,horse dildo v885m5egbch226
ReplyDelete