oleh RM Kencrotnikmatjivva
Alkisah, awal tahun 2020, ada seorang menteri yang
dengan percaya dirinya berkoar bahwa pagebluk covid-19 tidak bakal masuk
Indonesia, karena ada penangkalnya yaitu doa. Ditambahkan lagi, kasus pagebluk
yang mengenai dua orang warga Depok kala itu tidak perlu dibikin heboh. Beliau
memberikan analogi pagebluk mirip dengan penyakit flu biasa yang kiranya
menurut kacamata orang awam itu mudah diatasi dengan penggunaan obat warung. Celakanya
selang beberapa waktu setelah itu muncul fenomena harga masker melambung
tinggi, dan sang menteri dengan tegasnya menyatakan bahwa penggunaan masker itu
hanya ditujukan untuk orang sakit, tidak ada korelasinya dengan pagebluk. Konon
kata beliau, pernyataan masker hanya untuk orang sakit, begitulah anjuran Badan
Kesehatan Dunia (WHO).
Celaka tigabelasnya, ketika pagebluk masuk Indonesia
dan menunjukkan eksistensi keganasan dengan merenggut korban jiwa, si menteri
malah menghilang seperti ninja di dalam kabut, hilang tanpa jejak. Orang yang
seharusnya tampil di publik untuk memberikan informasi dan edukasi soal
kesehatan di negeri ini malah melakukan sesuatu yang kontra, bukan semestinya.
Rakyat dibikin bingung oleh ulah segelintir oknum pejabat yang kelakukannya
lebih lebay dari akting artis sinetron FTV kisah nyata.
Memang lidah tak bertulang, kiranya begitu tepat menggambarkan
pernyataan orang yang ditunjuk presiden sebagai pembantu. Saya heran, mengapa
orang seperti itu bisa jadi orang nomer satu di Kementerian Kesehatan yang
isinya notabene dihuni oleh orang-orang pakar kesehatan di negeri ini. Artinya si
menteri itu seharusnya jadi juru bicara dan duta besar ibarat Hanoman dalam
dunia wayang yang fungsinya menyampaikan berita menjadi penyambung lidah
rakyat.
Pagebluk covid-19 memang suatu fenomena yang ajaib
dialami oleh dunia. Sejumlah harapan receh dan bercanda menjadi suatu yang
nyata dan terjadi. Saya masih ingat harapan beberapa oknum anak sekolah yang
mengharapkan jika sekolah suatu saat libur panjang dan ujian nasional dihapus.
Ternyata harapan tersebut terjawab karena pagebluk. Tak ada yang mustahil bagi
Allah pemilik semesta. Dulu, kalau kita mendengar kata positif yang ada kita
senang, namun sekarang kata positif telah beralihmakna jadi sesuatu yang punya
bermakna antonimnya yaitu negatif.
Wacana pemerintah membuat premis belajar online itu
keren dalam revolusi industri 4.0 kiranya dipercepat oleh pagebluk. Seluruh institusi
sekolah, kampus, dan lembaga pendidikan menggunakan format online dalam
belajar. Suatu fenomena yang unik dimana siswa diharuskan duduk di depan
monitor ponsel atau laptop atau gawai lainnya yang mendukung program belajar
online. Sekolah-sekolah, kampus-kampus ditutup, jadi sarang setan karena tak
ada penghuninya yang belajar. Semua sibuk di rumah saja. Muncul fenomena
istilah kaum rebahan. Istilah yang sebelumnya tidak pernah ada beberapa tahun
silam. Kaum yang digambarkan malas-malasan hanya berkutat pada gawai canggih
berselancar di dunia maya. Pagebluk telah mengaminkan doa dan harapan kaum
rebahan menjadi kaum mayoritas.
Perilaku manusia terkait pagebluk menjadi sesuatu yang
random dan absurd. Ada catatan mikro dan makro mengenai hal ini. Dalam skala
mikro, banyak tingkah laku unik yang ditunjukkan dengan alasan-alasan receh.
Ada orang yang sibuk mengoleksi tanaman ini dan itu dengan alasan untuk
investasi. Celakanya lagi, ada orang yang menukar mobil pribadi bahkan rumah
pribadinya dengan sejumlah tanaman di dalam pot, dan dengan percaya dirinya
tampil diwawancarai salah satu stasiun televisi. Perilaku yang kontras dengan
keadaan selama pagebluk ditunjukkan oleh oknum semacam itu. Di saat banyak
orang mesti rela kehilangan pekerjaan karena dirumahkan alias kena pemutusan
hubungan kerja (PHK), ada saja oknum manusia yang justru bertindak sebaliknya
dengan santai tanpa beban.
Dalam skala makro, muncul oknum pemerintah yang
diwakili oleh menteri yang melakukan tindakan korupsi. Sempat-sempatnya sang
menteri mengeruk di air keruh. Ada dua menteri yang ketahuan korupsi, yang satu
kasus benih lobster, satu lagi kasus bantuan pagebluk covid19. Untuk yang kasus
benih lobster mungkin memang sudah ajalnya ketahuan. Namun yang paling miris
dan menjadi catatan saya adalah kasus korupsi bantuan sosial pagebluk covid19.
Betapa tidak, bayangkan saja di dalam situasi negeri yang sedang carut marut
karena pagebluk, ada oknum pejabat negeri selevel menteri yang mencatut bantuan
sosial yang seharusnya menjadi semacam solusi untuk meringankan beban rakyat.
Hati nurani seolah sudah mati.
Beralih ke ranah media, muncul fenomena joget-joget massal
yang sebelumnya tidak pernah ada di bangsa ini. Kemunculan fenomena joget-joget
melalui aplikasi media sosial sungguh miris. Entah apa yang ada di benak oknum
manusia tersebut. Sampai detik ini saya tidak menemukan manfaat dari aplikasi
bertema joget sebagai sebuah fenomena sosial yang memiliki dampak secara
pribadi, yang ada hanyalah kepentingan segelintir oknum untuk memanfaat momen waktu
luang atau dalam bahasa anak muda sekarang disebut waktu kegabutan, yang
diambil dari kata gabut atau gaji buta. Benar kiranya, mata dan hati nurani
kita dibikin buta oleh fenomena yang terjadi seiring pagebluk. Kita sulit
mengenai mana yang benar dan mana yang salah, mana yang waras dan mana yang
gila.
Bukan salah pagebluk, namun salah kita memahami
pagebluk sebagai suatu pesan komunikasi transendental dari Maha Pengasih Maha
Penyayang. Kita sibuk mencari siapa yang salah, bukan introspeksi diri. Akhirul
kalam, saya ingin menutup tulisan ini dengan intisari khutbah Jumat yang pernah
saya dengar. Sang khatib menuturkan bahwa program 3M yang dicanangkan
pemerintah sejatinya punya makna di balik itu semua. Menggunakan masker,
mencuci tangan, dan menjaga jarak. Menggunakan masker sejatinya bermakna kita
harus lebih menjaga lisan kita untuk tidak bertuturkata yang buruk, menghiasi
amalan mulut kita dengan sesuatu yang baik dan positif. Mencuci tangan
sejatinya bermakna kita harus selalu menjaga tangan kita selalu bersih dari hal
yang mengotori jiwa dan raga kita, tidak mengambil yang bukan hak kita. Menjaga
jarak sejatinya bermakna kita harus waspada dalam pergaulan sesama manusia
dengan tidak turut campur dalam hal yang buruk, dan selalu ikut pesan kebaikan
yaitu tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan.