Monday, May 8, 2017

Saya Malas Bercerita: (1) PDJ


Saya malas bercerita. Tapi ada hal kuat yang mendorong saya untuk menulis. 20 tahun lalu mungkin adalah waktu yang panjang bagi saya. Dan saya merasa telah melewatkannya dengan tergesa. Sejak lepas SMA, saya ingin mencari jatidiri layaknya manusia abege alias anak baru gede. Maaf kalau bahasa Indonesia saya carut marut. Saya sengaja menggunakan bahasa Indonesia yang tepat dan indah, bukan baik dan benar, Karena penggunaan bahasa Indonesia yang baku baik dan benar malah bikin bahasa itu kaku dan tak punya kedigdayaan.

Langsung saja tanpa bertele-tele. Saya mulai kisah ini selepas saya SMA. Saya adalah anak yang tidak pernah memprogram masa depan saya, besok mau jadi apa, siapa, bagaimana, kapan, dimana. 5w+1h. Saya rasa hidup ini ya harus dijalani dengan hidup. Tanpa perlu tahu besok mau ngapain. Dan saya anak yang nurut orangtua. Bagi saya orangtua itu segalanya. Artinya kalau mereka bahagia, itu sudah jadi kebahagian bagi saya. Makanya itu saya kuliah pun atas saran mereka. Saya tidak pernah berambisi untuk bisa kuliah bahkan di kampus mentereng sekalipun. Di benak saya hanya ingin lulus SMA lanjut kerja, itu saja. Namun ternyata takdir membawa saya masuk kampus Universitas Indonesia yang katanya banyak diimpikan anak seusia saya ketika itu. Maklum nama UI memang punya sejarah besar di Indonesia sebagai cikal bakal kampus negeri. Saya tak ambil pusing. Pun waktu ujian SPMB waktu itu saya benar-benar tidak niat banget mau masuk jurusan tertentu, ternyata takdir berkata saya masuk kampus kuning. 

(1) PDJ
Waktu berjalan. Saya mulai kuliah. Dan lebih tepatnya memahami apa arti kuliah. Ternyata kuliah itu seru. Bisa ketemu hal baru yang selama ini saya tidak temukan. Termasuk saya kenal apa yang disebut dengan wanita, tapi kalau pada masa ini sebutannya cewek. Sebut saja namanya, PDJ. Saya masih hafal betul namanya parasnya waktu itu. Mungkin dia adalah representasi wanita cantik idaman saya waktu itu. Dia kuliah di jurusan Sastra Jerman. Rumahnya di Bogor Lake Side, menurut pengakuannya. Rumahnya tak berpagar karena mungkin saking besarnya. Saya gak terlalu paham apa maksudnya. Dia sering curhat ke saya soal kehidupannya yang sebenarnya mewah namun dia sering merasa kesepian karena mungkin kurang gaul. Entahlah. Tapi yang jelas buat saya, dia itu pernah singgah di hidup saya. Hal yang paling saya ingat dan simpan sampai sekarang, dia pernah kasih saya foto dalam bentuk cetakan fotobox. Kalau gak tahu bisa googling apa itu. Enak ya jaman sekarang kalau gak tahu sesuatu tinggal tanya Google. Kalau dulu mah boro-boro. 

PDJ ini biasa dipanggil Poe, dibaca Pu oleh temannya. Dia pernah sekelas dengan saya di matakuliah umum kalau gak salah itu PDPT alias Pendidikan Dasar Perguruan Tinggi. Saya lebih sering memplesetkan istilah PDPT itu dengan PenDemPeTan, tindak lanjut dari PeDeKaTe alias pendekatan. Istilah di Indonesia memang semau gue, bebas. Sah-sah saja asal enak diucapkan enak didengar. Nah waktu kuliah PDPT itu si Pu pernah satu kelompok dengan saya. Saya waktu itu kan masih cupu abis. Cupu itu mungkin istilah kependekan dari culun punya. Rambut saya waktu itu macam orang habis sakit. Gak berbentuk apapun. Gak jelas. Saya memang orang yang cuek soal penampilan termasuk rambut. Anehnya semua jenis potongan rambut sudah pernah saya coba. Tapi saya tidak merasa cocok dengan satu jenis model potongan rambut. Lagipula bahas rambut tidak penting di paragraf ini. Balik ke si PDJ, nah saya masih menyimpan potongan kertas halaman komentar mahasiswa menilai mahasiswa lain ya semacam borang isian gitu lah. Dia tulis gini: 1. “Mi, kenapa gak masuk jurusan Politik aja?  2. Senyum elo manis kok, jangan nunduk mulu *emot senyum

Dari sini saya mulai makin simpati sama cewek ini. Tapi gak merasa ge-er karena bagi saya dipuji atau enggak saya gak butuh. Saya cuma butuh orangnya. Dan di mata saya ketika itu si Pu ini mewakili tafsiran saya atas wanita. Cantik, manis, keibuan, kulitnya putih, tinggi semampai, dan segala sifat kesempurnaan dan keindahan ala kaum Hawa. Apalagi kalau dia sudah bertuturkata, laki-laki pasti mampus dibuatnya. Suaranya halus merdu seperti suara embak-embak bagian barang hilang di mal. Usut punya usut dia hobi mendongeng dan katanya pernah juara lomba dongeng se-SMA Bogor. Suatu hari Pu pernah cerita dia pulang ke rumahnya naik KRL. Dia digodain cowok-cowok. Ternyata alasannya klasik, dia pakai baju agak minim. Ya jelas lah cowok mana yang gak tertarik. Saya cuma jawab sederhana, kalau semua laki-laki itu baik ya gak akan ada yang namanya cowok brengsek atau sejenisnya. Sampai rumah, dia mewek, curhat ke kakaknya yang cewek. Maklum anak bungsu jadinya gak punya adik. Pu juga pernah cerita suatu hari lewat rekaman tep rekorder kaset, isinya tentang cerita hidupnya sehari-hari. Bagaimana dia melewati hari demi hari sebagai mahasiswi yang kesepian. Melankolis. Itu kata yang tepat mewakilinya. Saya gak nyangka di balik senyum yang selalu menghiasi bibirnya yang manis dan paras cantik berikut tubuh semampai yang dimilikinya ternyata tidak menghalangi kesedihan untuk ikut campur dalam kehidupannya. Apa yang dilihat manusia pada umumnya memang tidak bisa dinilai sebagai suatu kebenaran.

Suatu waktu saya diajak Pu singgah ke kosannya. Sebelumnya dia kasih prolog soal kosannya yang lebih tepat disebut sebagai kastil dan dia sebagai putrinya. Segala kemewahan yang ada di rumahnya di Bogor dia bawa ke sana. Awalnya saya tidak percaya karena belum menyaksikan secara langsung. Namun ketika saya sampai di depan gerbang kosannya saya tercengang. Kenapa? Saya disambut oleh sekuriti. Lantas saya berpikir dalam hati. Kosan anak kuliahan saja kok ada satpamnya? Ckckck. Kekaguman saya tidak berhenti sampai di situ. Begitu saya dipersilakan oleh simpunya kosan alias Pu, saya langsung tercengang. Tampak dia sudah berdiri dengan manis, berbeda dari tampilan biasanya di kampus. Lebih cantik dan natural. Saya tidak melihat kosan sebagaimana layaknya. Namun di mata saya yang ada yaitu istana megah bertingkat dengan segala fasilitas yang luar biasa mewah. Pekarangan yang luas dipenuhi pohon dan bunga berbagai jenis. Saya sulit menggambarkan betapa wah nya tempat itu. Pu bercerita kalau kosannya itu kerap kali dijadikan tempat syuting film. Entah film apa. Yang jelas pada hati itu hati saya berbunga-bunga.


Yang lebih mencengangkan lagi, di kosan itu terdapat besmennya. Ajaibnya si Pu baru mengetahui hal itu setelah hampir setahun dia tinggal di sana. Menurut pengakuannya, di kamarnya terdapat televisi berikut piranti canggih lainnya macam cd walkman. Maklum pada masa itu punya walkman kaset saja sudah terlihat gaul apalagi dalam format cd rasanya hanya orang berduit yang punya ketika itu.
Pu pernah bercerita waktu pertama kali dia ke Taman Ismail Marzuki naik Kopaja dan Metro Mini. Menurutnya itu adalah pengalaman luar biasa. Saya bisa paham karena betapa sulitnya menjadi dirinya yang ibarat putri keraton tak bisa sembarang kemana-mana sendirian. Pu bercerita dengan betapa polos dan tulusnya. Saya jarang bertemu momen semacam itu. Kebanyakan yang saya dapat itu cerita biasa bahkan dibuat-buat macam naskah drama.

Sampai kini saya gak ngerti kenapa Pu bisa punya perasaan cinta ke saya. Saya berpikir berkali-kali hingga akhirnya sampai pada suatu kesimpulan bahwa cinta itu tidak bisa diukur dengan standar logika saja. Kalau cinta sudah beralasan maka otomatis sudah merusak makna aslinya. Cinta itu tak butuh pengorbanan, kalau sudah butuh pengorbanan itu namanya sinetron. Mungkin karena saya jadi diri saya sendiri, saya tampil dengan pribadi yang apa adanya, tiada duanya. Manusia punya banyak kepribadian, makanya itulah alasan kenapa ada jurusan psikologi. Namun saya hadir dengan pribadi yang satu. Dan itu sudah menghancurkan pemahaman manapun soal cinta itu tak ada yang pasti, semua serba relatif dan bahkan kadang naif. 

Segitu saja yang bisa saya ceritakan dari PDJ. Sebenarnya tidak ada yang spesial amat namun paling tidak dia pernah singgah di perjalanan hidup saya. Seperti saya sudah tulis di awal kalau saya malas bercerita.