Entah apa yang ada di benak para supir taksi
yang berdemo, melakukan aksi, konon katanya, dengan semangat juang 45.
Memberhentikan sejumlah kendaraan laksana superhero di film hollywood, yang
bahkan tidak ada sangkut pautnya macam ojek yang berupa roda dua. Bahkan
alih-alih, taksi yang beroda empat tak luput dari sasaran aksi yang sudah
menjadi reaksi bernama kebrutalan. Bahkan seorang ibu yang membawa anak, yang
tidak jelas juntrungannya dan tidak ada hubungannya dalam kasus perang analog
vs digital itu, karuan ikut jadi pemain figuran. Dipaksa turun dari taksi.
Sebuah nama yang membawa sebuah nilai besar di dalamnya harus dipaksa hancur
dalam waktu sekejap. Si burung biru yang katanya jadi pelopor kendaraan modern
bernama taksi itu harus cemar dalam waktu kedipan mata.
Dimanakah nurani sembunyi? Entah
setan dari antah berantah mana yang datang masuk ke arena bernama ibukota
Jakarta. Mungkin Lucifer menitipkan kakitangannya untuk membisikkan hasut dan
dengki pada manusia-manusia berseragam biru. Atau mungkin ada terselip Sengkuni
yang menyamar diantara kerumunan manusia itu. Bertempik sorak seraya bilang
hore. Untuk kemudian mengeksekusi dengan satu tujuan: destruksi.
Taksi oh taksi. Sungguh malang
nasibmu. Di tengah serbuan menggila dari revolusi industri digital bernama
online, seharusnya engkau wahai taksi konvensional membuka mata dan hati. Bukan
sebaliknya dengan cara kotor berbalut anarki. Cukuplah sudah bangsa ini
menderita atas penjajahan bangsa asing. Tak perlu lagi ada tangis anak negeri
di negerinya sendiri.
Ketika akal sehat tidak lagi
bisa bicara. Beginikah cara menyelesaikan persoalan? Meminjam kebalikan dari
istilah pegadaian, mungkin inilah namanya cara menyelesaikan masalah dengan
masalah.
No comments:
Post a Comment