Wednesday, March 23, 2016

Taksi Konvensional vs Taksi Online



Entah apa yang ada di benak para supir taksi yang berdemo, melakukan aksi, konon katanya, dengan semangat juang 45. Memberhentikan sejumlah kendaraan laksana superhero di film hollywood, yang bahkan tidak ada sangkut pautnya macam ojek yang berupa roda dua. Bahkan alih-alih, taksi yang beroda empat tak luput dari sasaran aksi yang sudah menjadi reaksi bernama kebrutalan. Bahkan seorang ibu yang membawa anak, yang tidak jelas juntrungannya dan tidak ada hubungannya dalam kasus perang analog vs digital itu, karuan ikut jadi pemain figuran. Dipaksa turun dari taksi. Sebuah nama yang membawa sebuah nilai besar di dalamnya harus dipaksa hancur dalam waktu sekejap. Si burung biru yang katanya jadi pelopor kendaraan modern bernama taksi itu harus cemar dalam waktu kedipan mata.

Dimanakah nurani sembunyi? Entah setan dari antah berantah mana yang datang masuk ke arena bernama ibukota Jakarta. Mungkin Lucifer menitipkan kakitangannya untuk membisikkan hasut dan dengki pada manusia-manusia berseragam biru. Atau mungkin ada terselip Sengkuni yang menyamar diantara kerumunan manusia itu. Bertempik sorak seraya bilang hore. Untuk kemudian mengeksekusi dengan satu tujuan: destruksi.


Taksi oh taksi. Sungguh malang nasibmu. Di tengah serbuan menggila dari revolusi industri digital bernama online, seharusnya engkau wahai taksi konvensional membuka mata dan hati. Bukan sebaliknya dengan cara kotor berbalut anarki. Cukuplah sudah bangsa ini menderita atas penjajahan bangsa asing. Tak perlu lagi ada tangis anak negeri di negerinya sendiri.

Ketika akal sehat tidak lagi bisa bicara. Beginikah cara menyelesaikan persoalan? Meminjam kebalikan dari istilah pegadaian, mungkin inilah namanya cara menyelesaikan masalah dengan masalah.

No comments:

Post a Comment