Monday, February 29, 2016
Sunday, February 28, 2016
Surat untuk Mantan
Dear mantan.
Apa
kabar? Semoga kamu selalu sehat panjang umur serta mulia seperti lirik yang
terkenal itu. Lagipula kan kita sudah sama-sama sepakat soal syairnya Sapardi
Djoko Damono yang penyair hujan itu, yang katanya kalau aku mencintaimu itu
sebabnya aku tak pernah selesai mendoakan keselamatanmu. Kalau gak salah juga
itu jadi akhir percakapan kita di salah satu socmed yang gak mau disebut
namanya Whats App, takut riya katanya, lagipula kan dia gak bayar jadi sponsor
kita.
Aku
mau sedikit bercerita, katakanlah monolog soal kamu. Soal mantan. Aku tidak
menyebutmu dengan sebutan bekas. Soalnya kalau bekas nanti takut kamu dikiloin
sama pengepul besi bekas dari pulau garam itu loh, yang kalau mau ke sana bisa
lewat jembatan Suramadu yang terkenal romantis dan angker, perpaduan yin dan
yang yang menarik. Kira-kira begini
monolognya:
Aku
kenal kamu bukan sehari, sebulan, bahkan setahun. Aku kenal kamu lebih dari
itu. Ya memang aku kenal kamu dan mengenalimu bukan bertahun-tahun. Tapi aku
rasa cukup untuk menyempurnakan maksud kata cinta yang kita sama-sama sepakati
bersama. Kita sepakat kalau cinta itu tidak perlu banyak diobral macam cuci
gudang akhir tahun. Cinta menurut versi kita itu seperti iman. Diikrarkan
dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diwujudkan dengan perbuatan.
Hai
mantan.
Aku
tidak pernah menganggap kamu itu bekas. Kalau seandainya kamu itu bekas,
artinya cinta kita itu juga bekas, yang bisa kita jual ke orang yang lebih
membutuhkan. Aku masih ingat dialog kita sebelum sama-sama masuk dimensi cinta
soal wanita. Aku yakin kamu pasti masih ingat. Waktu itu aku pernah bilang ke
kamu kalau cewek itu kadang seperti langit, enak dipandang tapi gak enak untuk
didekat karena teramat jauh.
Sekarang
aku sudah paham dengan kalimatku itu sendiri. Jika cewek itu ibarat langit,
maka kamu itu ibarat bintang di langit. Kamu sudah menghiasi hidupku selama
ini. Dan kamu selalu abadi dan setia hadir setiap malam. Bintang itu indah
karena dia ada di langit nun jauh di sana. Kalau didekati maka siapapun akan
terbakar karena gesekan atmosfir. Begitu pula kamu. Tak ada yang bisa
mengusikmu di sana. Kamu sudah jadi bintang di hidupku. Kalau ada yang coba sok
mendekatimu pasti dia akan terbakar.
Aku
selalu jawab ini ke siapa saja yang tanya siapa kamu.
Dan
aku ingin haturkan apresiasi yang luarbinasa dan luarbiadab untuk dirimu. Tidak
ada sepanjang hidupku wanita sepertimu yang penurut sabar luarbiasa penuh
kasih. Kamu tidak pernah membantah aku bahkan untuk hal sepele. Aku ingat kamu
pernah sampai pingsan di kantormu cuma gegara aku gak ijinkan kamu untuk ikut
pergi bersama teman-temanmu. Padahal aku tahu kamu bersikeras sangat amat ingin
datang bersenang-senang dengan teman-temanmu. Tapi karena ketundukanmu
kepadaku, kamu lebih memilih aku ketimbang mereka. Kamu sudah buktikan dirimu
layak jadi bintang di hidupku. Sehingga tak ada ruang lagi untuk aku membencimu
atau dengan bahasa lain tak ada alasan untuk aku tidak sayang kamu.
Kalau
pinjam istilah Twitter, kamu itu sudah jadi tab favorit di linimasaku. Bahkan kalau
bisa kamu itu jadi pinned tweet. Lebaynya lagi, kamu itu selebtwit di hatiku.
Halah.
Aku
juga masih ingat kalimatmu, kalau cinta itu adalah hal yang paling klasik, hal
yang paling sederhana ada di dunia ini, dan hal yang sederhana ini mampu
menciptakan kejadian yang kompleks dan paling megah sedunia.
Sekian
dulu monologku kali ini. Lain waktu aku sambung lagi. Semoga kamu selalu dan
selalu dan selalu…..(isi sendiri biar banyak doanya). Salam hangat dari
mantanmu yang selalu genit dan masih ganteng plus waras.
~
John Koplo
Subscribe to:
Posts (Atom)