Sunday, November 8, 2015

Elegi Kampus Sengkarut



Harap Sedih!
Begitu bait puisi yang saya ingat dari teman saya yang mendiang. Memang pada dasarnya manusia itu makhluk yang rentan. Malas untuk sedih. Rajin untuk senang. Seperti apa yang saya sedang rasakan saat ini yang sedih. Bicara soal sedih tidak sebatas perasaan negatif belaka. Sedih merupakan oposisi biner yang selalu melekat dengan senang. Tapi entah kenapa sedih yang saya rasakan kali ini tidak sepenuhnya sedih. Maksudnya begini, biasanya orang jika mendapat sebuah musibah yang tidak menyenangkan –pastinya- lantas orang itu murung, gundah gulana, galau, ceracau, dan lain sebagainya yang mewakili perasaan tidak menyenangkan.
Saya cerita saja. Singkatnya alkisah saya bekerja di sebuah perusahaan yang katanya perusahaan. Bergerak di bidang pendidikan. Sebut saja kampus. Namun jangan bayangkan universitas, karena yang satu ini sekolah tinggi yang derajatnya di bawah universitas. Awalnya saya menaruh harapan optimis di kampus ini. Oleh karena sebelumnya saya dizalimi oleh salah satu kampus ternama di Jakarta. Anggaplah ini menjadi prolog kisah ini.
Bicara mengenai hal ihwal dizalimi ini mari mundur sejenak ke fase sebelumnya ketika saya direkrut oleh perusahaan yang serupa. Sebut saja kampus anu yang ternama. Inti cerita, setelah proses panjang yang bertele-tele dalam hal perekrutan pegawai merangkap sebagai staf pengajar di kampus ternama itu, ujungnya saya dirumahkan. Sangat tidak menyenangkan memang. Asu lah!. Begitu umpat saya waktu itu. Padahal salah satu staf di kampus tersebut ini sudah menaruh banyak harapan dan lebih dari sekedar persahabatan institusional, situasional dan lokasional belaka.  Hal yang saya ingat terakhir perjumpaan dengan staf kampus itu, beliau traktir saya makan di warteg. Sepele memang namun buat saya itu amatlah berkesan. Saya semakin paham dan semakin kagum beliau. Bahwa jabatan dan kedudukan tidak semerta-merta menjadikan seseorang lupa. Beliau masih dan bahkan selalu bertindak sebagai seorang yang sederhana bersahaja tanpa pencitraan kamera. 
Alih-alih saya tidak diterima untuk jadi bagian kampus ternama tersebut. Tak mengapalah. Cuma yang saya sesalkan mengapa begitu panjang nan lama sekali prosesnya. Seakan posisi saya ketika itu bagaikan cowok abg yang menunggu balasan cinta dari cewek pujaan hatinya. Ujungnya berakhir dengan tragedi, alias cinta bertepuk sebelah tangan disertai dengan PHP (Pemberi Harapan Palsu); kalau istilah anak muda zaman sekarang. Kalau cuma untuk bilang satu kata yakni TIDAK, mengapa butuh waktu yang bertele-tele? Begitu pikir saya waktu itu. Karena saya telah melalui proses panjang berlika-liku untuk tes kemampuan diri saya apakah layak untuk menjadi karyawan kampus ternama itu. Bahkan ujungnya saya disidang dengan menghadirkan ketua yayasan kampus, rektor, wakil rektor, dekan, staf humas, dan admin. Pada awalnya saya kira sidang yudisium ini yang ibarat sidang skripsi hanyalah sebatas formalitas belaka mengingat saya telah melalui proses yang kampus ternama itu sebagai prasyarat yang mereka minta dari saya. Ternyata saya salah. Keliru besar. Walhasil, saya gagal. Ditolak.
Akhirnya saya memutuskan untuk move on dari kampus ternama ini. TIba-tiba selang beberapa waktu ada tawaran dari kampus yang saya sebut pada prolog di atas tadi. Sebut saja kampus tidak ternama yang sekolah tinggi. Langsung ujug-ujug saya diterima. Saya optimis dengan semua pengalaman dan keahlian yang saya miliki, saya mampu berkarya dengan baik. Dengan catatan dan harapan bahwa saya dapat menunjukkan ke mantan kampus ternama tersebut kalau keputusan mereka membuang saya adalah sesuatu yang salah besar.
Saya pun bekerja di kampus ini. Menyenangkan memang. Betapa tidak, hal yang saya impikan terwujud. Saya tidak mesti ikut arus di pagi buta untuk berjibaku dengan warga ibukota mengais nafkah. Mengingat lokasi kampus tempat saya bekerja ini memang terletak di kawasan akademis. Satu jalur berderet yang isinya kampus semua. Amboi!

Waktu berlalu.
Saya pun didesak agar menjadi karyawan tetap di kampus tidak ternama ini.  Awalnya saya merasa risih mengingat kontrak kerja saya belum jelas. Saya masih sebagai karyawan dalam masa percobaan. Begitu pikir saya. Sehingga saya ngotot untuk mengundur dan mengundur ketika dihadapkan pada pertanyaan bahwa saya mestilah mengumpulkan legalisir ijasah agar saya sah sebagai staf pengajar. Karena yang demikian merupakan persyaratan untuk, katakanlah SIM mengajar. Hari H telah tiba. Saya didesak untuk sebuah pilihan HIDUP atau MATI. Hidup, kalau saya mengumpulkan legalisir ijasah. Mati, kalau saya tidak melakukan hal itu, dengan konsekuensi saya mesti meninggalkan kampus tidak ternama ini. Alhasil saya pilih MATI. Saya pilih untuk lebih baik mati namun saya tidak diikat oleh kampus itu.
Saya merasa dizalimi untuk kedua kalinya. Di awal saya kira saya telah lepas dari kandang macan. Ternyata saya salah. Memang benar saya lepas dari kandang macan, namun kemudian saya masuk kandang babi. Dan itu adalah hal yang sangat amat tidak menyenangkan. Katakanlah seperti itu. Apa saja kewajiban yang saya kerjakan tidak sebanding dengan apa saja hak yang saya terima. Sengkarut.
Pada akhirnya saya sedih. Namun saya tidak sedih karena saya harus pergi meninggalkan kampus tidak ternama ini. Saya sedih karena hak yang semestinya saya terima tidak pada tempatnya. Saya sudah berusaha semampu saya, selebihnya saya tawakal. Doa saya semoga tidak ada lagi korban semacam saya dari mafia institusi pendidikan yang katanya ingin mencerdaskan bangsa namun membodohi orang yang membantu dalam proses mencerdaskan bangsa itu. Amin.    

No comments:

Post a Comment