Harap Sedih!
Begitu
bait puisi yang saya ingat dari teman saya yang mendiang. Memang pada dasarnya
manusia itu makhluk yang rentan. Malas untuk sedih. Rajin untuk senang. Seperti
apa yang saya sedang rasakan saat ini yang sedih. Bicara soal sedih tidak
sebatas perasaan negatif belaka. Sedih merupakan oposisi biner yang selalu
melekat dengan senang. Tapi entah kenapa sedih yang saya rasakan kali ini tidak
sepenuhnya sedih. Maksudnya begini, biasanya orang jika mendapat sebuah musibah
yang tidak menyenangkan –pastinya- lantas orang itu murung, gundah gulana,
galau, ceracau, dan lain sebagainya yang mewakili perasaan tidak menyenangkan.
Saya
cerita saja. Singkatnya alkisah saya bekerja di sebuah perusahaan yang katanya
perusahaan. Bergerak di bidang pendidikan. Sebut saja kampus. Namun jangan
bayangkan universitas, karena yang satu ini sekolah tinggi yang derajatnya di
bawah universitas. Awalnya saya menaruh harapan optimis di kampus ini. Oleh
karena sebelumnya saya dizalimi oleh salah satu kampus ternama di Jakarta.
Anggaplah ini menjadi prolog kisah ini.
Bicara
mengenai hal ihwal dizalimi ini mari mundur sejenak ke fase sebelumnya ketika
saya direkrut oleh perusahaan yang serupa. Sebut saja kampus anu yang ternama.
Inti cerita, setelah proses panjang yang bertele-tele dalam hal perekrutan
pegawai merangkap sebagai staf pengajar di kampus ternama itu, ujungnya saya
dirumahkan. Sangat tidak menyenangkan memang. Asu lah!. Begitu umpat saya waktu
itu. Padahal salah satu staf di kampus tersebut ini sudah menaruh banyak
harapan dan lebih dari sekedar persahabatan institusional, situasional dan
lokasional belaka. Hal yang saya ingat
terakhir perjumpaan dengan staf kampus itu, beliau traktir saya makan di
warteg. Sepele memang namun buat saya itu amatlah berkesan. Saya semakin paham
dan semakin kagum beliau. Bahwa jabatan dan kedudukan tidak semerta-merta
menjadikan seseorang lupa. Beliau masih dan bahkan selalu bertindak sebagai
seorang yang sederhana bersahaja tanpa pencitraan kamera.
Alih-alih
saya tidak diterima untuk jadi bagian kampus ternama tersebut. Tak mengapalah.
Cuma yang saya sesalkan mengapa begitu panjang nan lama sekali prosesnya.
Seakan posisi saya ketika itu bagaikan cowok abg yang menunggu balasan cinta
dari cewek pujaan hatinya. Ujungnya berakhir dengan tragedi, alias cinta
bertepuk sebelah tangan disertai dengan PHP (Pemberi Harapan Palsu); kalau
istilah anak muda zaman sekarang. Kalau cuma untuk bilang satu kata yakni
TIDAK, mengapa butuh waktu yang bertele-tele? Begitu pikir saya waktu itu.
Karena saya telah melalui proses panjang berlika-liku untuk tes kemampuan diri
saya apakah layak untuk menjadi karyawan kampus ternama itu. Bahkan ujungnya
saya disidang dengan menghadirkan ketua yayasan kampus, rektor, wakil rektor, dekan,
staf humas, dan admin. Pada awalnya saya kira sidang yudisium ini yang ibarat
sidang skripsi hanyalah sebatas formalitas belaka mengingat saya telah melalui
proses yang kampus ternama itu sebagai prasyarat yang mereka minta dari saya.
Ternyata saya salah. Keliru besar. Walhasil, saya gagal. Ditolak.
Akhirnya
saya memutuskan untuk move on dari kampus ternama ini. TIba-tiba selang
beberapa waktu ada tawaran dari kampus yang saya sebut pada prolog di atas
tadi. Sebut saja kampus tidak ternama yang sekolah tinggi. Langsung ujug-ujug
saya diterima. Saya optimis dengan semua pengalaman dan keahlian yang saya
miliki, saya mampu berkarya dengan baik. Dengan catatan dan harapan bahwa saya
dapat menunjukkan ke mantan kampus ternama tersebut kalau keputusan mereka
membuang saya adalah sesuatu yang salah besar.
Saya
pun bekerja di kampus ini. Menyenangkan memang. Betapa tidak, hal yang saya
impikan terwujud. Saya tidak mesti ikut arus di pagi buta untuk berjibaku
dengan warga ibukota mengais nafkah. Mengingat lokasi kampus tempat saya
bekerja ini memang terletak di kawasan akademis. Satu jalur berderet yang
isinya kampus semua. Amboi!
Waktu
berlalu.
Saya
pun didesak agar menjadi karyawan tetap di kampus tidak ternama ini. Awalnya saya merasa risih mengingat kontrak
kerja saya belum jelas. Saya masih sebagai karyawan dalam masa percobaan.
Begitu pikir saya. Sehingga saya ngotot untuk mengundur dan mengundur ketika
dihadapkan pada pertanyaan bahwa saya mestilah mengumpulkan legalisir ijasah
agar saya sah sebagai staf pengajar. Karena yang demikian merupakan persyaratan
untuk, katakanlah SIM mengajar. Hari H telah tiba. Saya didesak untuk sebuah
pilihan HIDUP atau MATI. Hidup, kalau saya mengumpulkan legalisir ijasah. Mati,
kalau saya tidak melakukan hal itu, dengan konsekuensi saya mesti meninggalkan
kampus tidak ternama ini. Alhasil saya pilih MATI. Saya pilih untuk lebih baik
mati namun saya tidak diikat oleh kampus itu.
Saya
merasa dizalimi untuk kedua kalinya. Di awal saya kira saya telah lepas dari
kandang macan. Ternyata saya salah. Memang benar saya lepas dari kandang macan,
namun kemudian saya masuk kandang babi. Dan itu adalah hal yang sangat amat
tidak menyenangkan. Katakanlah seperti itu. Apa saja kewajiban yang saya
kerjakan tidak sebanding dengan apa saja hak yang saya terima. Sengkarut.
Pada
akhirnya saya sedih. Namun saya tidak sedih karena saya harus pergi
meninggalkan kampus tidak ternama ini. Saya sedih karena hak yang semestinya
saya terima tidak pada tempatnya. Saya sudah berusaha semampu saya, selebihnya
saya tawakal. Doa saya semoga tidak ada lagi korban semacam saya dari mafia
institusi pendidikan yang katanya ingin mencerdaskan bangsa namun membodohi
orang yang membantu dalam proses mencerdaskan bangsa itu. Amin.
No comments:
Post a Comment