Monday, August 17, 2015

Dirgahayu Bangsaku, 70 Tahun Usiamu


70 tahun. Kalau diibaratkan manusia, usia 70 tahun itu seperti seorang kakek atau nenek yang berada di akhir usia. Manusia yang sudah banyak makan asam garam, istilahnya. Hingga manusia ini inginnya disuapi oleh manusia yang lebih muda, entah anaknya, cucunya atau siapa saja yang lebih muda. Seorang tua renta yang butuh perhatian lebih dari orang di sekitarnya. Kelakuannya kembali menjadi seperti anak kecil; punya lebih banyak waktu senggang untuk bermain, fisik masih relatif lemah, bersikap manja cenderung kolokan, serta daya ingat yang ala kadarnya. 
Begitulah kira-kira gambaran manusia di usia 70 tahun yang telah menghabiskan hingar-bingar segala macam ektase kenikmatan duniawi yang tak ada habisnya. Atau kalau mau diistilahkan lain, 70 tahun itu ibarat waktu maghrib, sudah petang menjelang gelap, tinggal menunggu waktu isya ketika bumi semua sudah gelap. Maka sudah selayaknya bagi orang di usia 7 dekade agar lebih banyak introspeksi diri mengingat usia yang tidak seberapa lagi.
Indonesia kini genap berusia 70 tahun. Namun kalau kita analogikan seperti manusia tua renta rasanya kurang pas mengingat negara ini masih terus bergelora ibarat gejolak kawula muda. Seperti kata Bang Haji, darah muda darahnya para remaja. Tercatat ada 3 era perkembangan bangsa yang dulu dikenal bernama Nusantara ini. Era Orde Lama, Orde Baru, dan Era Reformasi. Dari pembabakan itu rasanya kita bisa merasakan kalau bangsa ini masih muda, mengingat era reformasi baru saja dimulai pada 1998 ketika Orde Baru yang bertengger selama 3 dekade lebih mesti tumbang berganti Reformasi. Entah era apalagi namanya yang akan muncul di kemudian hari. Mungkin saja Era Dereformasi, atau Era Re-Orde Lama atau bahkan Re-Orde Baru mengingat teori mengenai ideologi sebagaimana dikemukakan oleh Hegel seorang filsuf Jerman, hanya berkutat pada 3 macam dialektika: tesis, antitesis, dan sintesis. 
Tengok saja sekarang soal tren fesyen. Para kawula muda banyak kembali ke jaman dulu atau lebih akrab dengan istilah jadul. Mode seperti ala gotik, gipsy, atau retro banyak menjamur belakangan ini. Sama halnya dengan selera musik. Kalau di jaman Orde Lama musik semacam rock n roll dibilang ngak ngek ngok, kini musik semacam itu semakin laris manis dengan berbagai macam turunannya. Bahkan banyak genre musik baru yang terdengar semakin aneh bin nyeleneh seperti eksperimental, post rock, rock in opposite, diabolic, dan lain sebagainya. 
Hal ini tidak lepas dari pengaruh isme dan pemikiran yang berkembang seiring dengan perkembangan industri sebuah negara. Manusia cenderung memiliki sifat cepat bosan. Karena itu banyak genre yang mewadahi masing-masing segmentasi pada jamannya sendiri. Kalau dulu ada lelaki muda yang pakai celana cut bray, maka pada masa kini tak heran banyak juga lelaki yang mengulang romantisme masa lalu beda generasi tersebut. Seperti ingin mencirikan diri sendiri biar tidak dibilang orang lain ngikut arus atau bahasa kerennya mainstream. Beramai-ramai tagar #antimainstream semakin jadi tren di berbagai media sosial. 
Namun agaknya gejala nginggris kian tak terbendung. Saya sengaja menggunakan istilah ini karena tidak ada di kamus besar bahasa Indonesia. Anggaplah istilah nginggris ini adalah sebuah gejala menakar segala sesuatu sebagai tolok ukur perkembangan jaman berupa film, fesyen, musik, dan hal yang duniawi melalui kacamata Barat. Soalnya kalau istilah ngamerika agaknya kurang pas. Alasan lain karena negara Inggris merupakan pelopor revolusi industri dengan penemuan mesin uap oleh James Watt yang menjadi cikal bakal berbagai revolusi di dunia.

Entah setan apa yang merasuki generasi muda bangsa ini. Seakan lupa dengan isi Sumpah Pemuda tahun 1928 yang mengaku bertumpah darah, berbangsa, dan berbahasa yang satu, Indonesia. Naga-naganya yang terakhir disebut ini kian hari kian miris. Tengok saja dengan mudah kita dapati penggunaan bahasa antah berantah yang tidak karuan maknanya dicampur seenak jidat dengan bahasa yang dianggap mewakili jatidiri bangsa ini. Maka tak heran seorang Remy Sylado sang budayawan nyentrik menulis salah satu seminar populernya pada tahun 2013 soal ini dengan “Satu Nusa Satu Bangsa(t) Two Languanges”, sebagai sindiran bagi kaum nyinyir yang sok intelek dengan mengaku berbahasa Indonesia.
Sadar atau tidak, sekarang kita terjebak pada semua atribut merk revolusi global. Seakan teori iluminati tentang simbol mata satu yang memata-matai dunia global itu menjadi sahih. Pertanyaan saya sederhana: bayangkan saja semua kegiatan Anda dalam satu hari sejak baru bangun tidur hingga tidur kembali, adakah Anda sama sekali tidak menggunakan merk apapun?
Inilah konsekuensi dari perkembangan revolusi industri. Kita dipaksa secara sadar maupun tidak sebagai agennya. Atau katakanlah sebagai korbannya. Di satu sisi hal demikian membawa banyak manfaat, artinya semakin canggih suatu teknologi maka akan lebih memudahkan penggunanya. Sehingga waktu dan ruang lebih mudah untuk dipintas sehingga menghemat biaya lebih.  Namun perlu digarisbawahi, ada pula sisi lain yang merupakan lawannya yaitu sisi yang membawa mudarat. Celakanya, bangsa ini belum siap untuk sisi mudarat teknologi. Seperti saya tulis di awal, ibarat anak muda atau sebutlah abege yang masih labil, maka bangsa ini belum siap dengan arus perubahan jaman yang semakin deras. Penggunaan teknologi sudah semestinya dan selayaknya searah dengan literasi teknologi itu sendiri, atau katakanlah bahasa mudahnya kecakapan penggunaan teknologi. 
Lepas dari itu semua, inilah Indonesia. Di usia yang memasuki dekade ke-8, bangsa ini semakin berkembang. Pantas kiranya kita ucapkan tabik dirgahayu untuk bangsa Indonesia yang telah banyak memberi kita anugerah dan berkah sejak lahir hingga akhir menutup mata. Di usia yang ke-70 semoga negeri ini mampu menjaga eksistensi yang ngIndonesia selama-lamanya. Dirgahayu bangsaku, 70 tahun usiamu!

No comments:

Post a Comment