70
tahun. Kalau diibaratkan manusia, usia 70 tahun itu seperti seorang kakek atau
nenek yang berada di akhir usia. Manusia yang sudah banyak makan asam garam,
istilahnya. Hingga manusia ini inginnya disuapi oleh manusia yang lebih muda,
entah anaknya, cucunya atau siapa saja yang lebih muda. Seorang tua renta yang
butuh perhatian lebih dari orang di sekitarnya. Kelakuannya kembali menjadi
seperti anak kecil; punya lebih banyak waktu senggang untuk bermain, fisik
masih relatif lemah, bersikap manja cenderung kolokan, serta daya ingat yang
ala kadarnya.
Begitulah
kira-kira gambaran manusia di usia 70 tahun yang telah menghabiskan hingar-bingar
segala macam ektase kenikmatan duniawi yang tak ada habisnya. Atau kalau mau
diistilahkan lain, 70 tahun itu ibarat waktu maghrib, sudah petang menjelang
gelap, tinggal menunggu waktu isya ketika bumi semua sudah gelap. Maka sudah
selayaknya bagi orang di usia 7 dekade agar lebih banyak introspeksi diri
mengingat usia yang tidak seberapa lagi.
Indonesia
kini genap berusia 70 tahun. Namun kalau kita analogikan seperti manusia tua
renta rasanya kurang pas mengingat negara ini masih terus bergelora ibarat
gejolak kawula muda. Seperti kata Bang Haji, darah muda darahnya para remaja.
Tercatat ada 3 era perkembangan bangsa yang dulu dikenal bernama Nusantara ini.
Era Orde Lama, Orde Baru, dan Era Reformasi. Dari pembabakan itu rasanya kita
bisa merasakan kalau bangsa ini masih muda, mengingat era reformasi baru saja
dimulai pada 1998 ketika Orde Baru yang bertengger selama 3 dekade lebih mesti
tumbang berganti Reformasi. Entah era apalagi namanya yang akan muncul di
kemudian hari. Mungkin saja Era Dereformasi, atau Era Re-Orde Lama atau bahkan
Re-Orde Baru mengingat teori mengenai ideologi sebagaimana dikemukakan oleh
Hegel seorang filsuf Jerman, hanya berkutat pada 3 macam dialektika: tesis,
antitesis, dan sintesis.
Tengok
saja sekarang soal tren fesyen. Para kawula muda banyak kembali ke jaman dulu
atau lebih akrab dengan istilah jadul. Mode seperti ala gotik, gipsy, atau
retro banyak menjamur belakangan ini. Sama halnya dengan selera musik. Kalau di
jaman Orde Lama musik semacam rock n roll dibilang ngak ngek ngok, kini musik
semacam itu semakin laris manis dengan berbagai macam turunannya. Bahkan banyak
genre musik baru yang terdengar semakin aneh bin nyeleneh seperti
eksperimental, post rock, rock in opposite, diabolic, dan lain sebagainya.
Hal
ini tidak lepas dari pengaruh isme dan pemikiran yang berkembang seiring dengan
perkembangan industri sebuah negara. Manusia cenderung memiliki sifat cepat
bosan. Karena itu banyak genre yang mewadahi masing-masing segmentasi pada
jamannya sendiri. Kalau dulu ada lelaki muda yang pakai celana cut bray, maka
pada masa kini tak heran banyak juga lelaki yang mengulang romantisme masa lalu
beda generasi tersebut. Seperti ingin mencirikan diri sendiri biar tidak
dibilang orang lain ngikut arus atau bahasa kerennya mainstream. Beramai-ramai
tagar #antimainstream semakin jadi tren di berbagai media sosial.
Namun
agaknya gejala nginggris kian tak terbendung. Saya sengaja menggunakan istilah
ini karena tidak ada di kamus besar bahasa Indonesia. Anggaplah istilah
nginggris ini adalah sebuah gejala menakar segala sesuatu sebagai tolok ukur
perkembangan jaman berupa film, fesyen, musik, dan hal yang duniawi melalui
kacamata Barat. Soalnya kalau istilah ngamerika agaknya kurang pas. Alasan lain
karena negara Inggris merupakan pelopor revolusi industri dengan penemuan mesin
uap oleh James Watt yang menjadi cikal bakal berbagai revolusi di dunia.
Entah setan apa yang merasuki generasi muda bangsa ini. Seakan lupa dengan isi Sumpah Pemuda tahun 1928 yang mengaku bertumpah darah, berbangsa, dan berbahasa yang satu, Indonesia. Naga-naganya yang terakhir disebut ini kian hari kian miris. Tengok saja dengan mudah kita dapati penggunaan bahasa antah berantah yang tidak karuan maknanya dicampur seenak jidat dengan bahasa yang dianggap mewakili jatidiri bangsa ini. Maka tak heran seorang Remy Sylado sang budayawan nyentrik menulis salah satu seminar populernya pada tahun 2013 soal ini dengan “Satu Nusa Satu Bangsa(t) Two Languanges”, sebagai sindiran bagi kaum nyinyir yang sok intelek dengan mengaku berbahasa Indonesia.
Sadar
atau tidak, sekarang kita terjebak pada semua atribut merk revolusi global. Seakan
teori iluminati tentang simbol mata satu yang memata-matai dunia global itu
menjadi sahih. Pertanyaan saya sederhana: bayangkan saja semua kegiatan Anda
dalam satu hari sejak baru bangun tidur hingga tidur kembali, adakah Anda sama
sekali tidak menggunakan merk apapun?
Inilah
konsekuensi dari perkembangan revolusi industri. Kita dipaksa secara sadar
maupun tidak sebagai agennya. Atau katakanlah sebagai korbannya. Di satu sisi
hal demikian membawa banyak manfaat, artinya semakin canggih suatu teknologi
maka akan lebih memudahkan penggunanya. Sehingga waktu dan ruang lebih mudah
untuk dipintas sehingga menghemat biaya lebih. Namun perlu digarisbawahi, ada pula sisi lain
yang merupakan lawannya yaitu sisi yang membawa mudarat. Celakanya, bangsa ini
belum siap untuk sisi mudarat teknologi. Seperti saya tulis di awal, ibarat
anak muda atau sebutlah abege yang masih labil, maka bangsa ini belum siap
dengan arus perubahan jaman yang semakin deras. Penggunaan teknologi sudah
semestinya dan selayaknya searah dengan literasi teknologi itu sendiri, atau
katakanlah bahasa mudahnya kecakapan penggunaan teknologi.
Lepas
dari itu semua, inilah Indonesia. Di usia yang memasuki dekade ke-8, bangsa ini
semakin berkembang. Pantas kiranya kita ucapkan tabik dirgahayu untuk bangsa
Indonesia yang telah banyak memberi kita anugerah dan berkah sejak lahir hingga
akhir menutup mata. Di usia yang ke-70 semoga negeri ini mampu menjaga
eksistensi yang ngIndonesia selama-lamanya. Dirgahayu bangsaku, 70 tahun
usiamu!
No comments:
Post a Comment