Thursday, July 9, 2015

Ramadan



Marhaban Ya Ramadan. Selamat menunaikan ibadah puasa. Begitu isi tulisan-tulisan yang terpampang di spanduk, baliho, banner, papan reklame dan lain sebagainya. Semua gembira dengan datangnya bulan Ramadan yang kerap disebut bulan puasa dalam lisan Melayu. Memang benar tak keliru bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda perihal orang yang gembira dengan datangnya Ramadan kelak akan dihapuskan dosanya yang telah lalu. Namun agaknya pemaknaan hadits itu semakin ke sini semakin melenceng dari arti sesungguhnya.

Ramadan secara bahasa bermakna pembakaran. Adapun yang dimaksud istilah pembakaran ini merujuk kepada dosa-dosa yang dibakar pada bulan ini dimana setan-setan dibelenggu, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup. Memang benar setan dibelenggu secara hakikat. Namun banyak manusia yang lupa bahwa setan itu punya 1001 cara menyesatkan manusia meski ia sendiri dibelenggu. Bukankah setan masih punya mulut untuk berbisik ke hati manusia? Justru di bulan inilah setan beraksi dengan metode yang lain. Janganlah pernah lupa bahwa nenek moyang manusia, Adam dan Hawa menjadi korban eksperimen setan yang pertama, dan sukses dengan gilang gemilang. Lancar.

Semakin ke sini semakin berbeda. Ramadan bukanlah bermakna ritual ibadah melainkan dimaknai sebagai ritual tahunan untuk berlomba-lomba, berpacu, namun bukan dalam semangat ibadah melainkan untuk urusan duniawi. Mudah saja kita dapati, coba tengok di masjid. Semakin mendekati akhir Ramadan, justru masjid semakin mengalami kemajuan. Ya benar kemajuan, tapi kemajuan di sini itu ditulis dalam tanda kutip, “kemajuan”. Maksudnya kemajuan dalam hal shaf yang semakin maju akibat jumlah jamaah masjid yang semakin sedikit. Lantas dimana jamaah yang hilang itu? Jawabannya ada di mal-mal, di pasar-pasar, di pusat perbelanjaan, di terminal, di tempat-tempat kenikmatan dunia lainnya. Kita sibuk untuk mengisi hingar-bingar ektase dunia yang tidak apa-apanya dibanding akhirat yang luasnya laksana ampunan Allah yang melebihi alam semesta ini. Padahal semulia-mulianya dunia ini niscaya tak lebih hina seperti air yang menempel di jari ketika wudhu, sebagaimana yang ditegaskan nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lewat hadits riwayat Muslim. Dunia ini kecil, sangat cemen dibandingkan akhirat yang besar, bahkan teramat besar.

Bulan Ramadan ini merupakan bulan yang spesial melebihi gelar yang disematkan pada martabak telur spesial. Di bulan ini, Allah turunkan Al Quran sebagai petunjuk dan penawar bagi segala jenis penyakit manusia. Di bulan inilah Jibril, malaikat paling perkasa turun untuk menemui nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di gua Hira untuk menyampaikan wahyu pertama yang berbunyi: IQRA! (Bacalah!). Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Alaq: 1-5:
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Tahukah kita? Bahwa di bulan Ramadan ini ada satu malam yang keutamaannya melebihi seribu malam. Artinya kalau dikonversi itu setara 83 tahun. Ibadah di satu malam itu sama dengan ibadah sepanjang hayat manusia, bahkan lebih. Malam itu bernama malam kemuliaan atau lazim disebut lailatul qadr. Allah dengan cantiknya menggambarkan betapa salam dan berkah dari langit bagi hamba-Nya dengan turunnya Jibril beserta rombongan para malaikat dengan izin-Nya dari langit untuk turun memenuhi langit dunia hingga fajar tiba. Malaikat-malaikat itu mencatat amal siapa saja dari hamba-Nya yang tafakur, merenung, mengingat akan kebesaran dan keesaan Allah. Mereka itu hamba-Nya yang senantiasa berdoa mengharap ampunan, rahmat, dan agar dijauhkan dari siksa api neraka

Lantas kemudian, pantaskah bagi kita untuk menyia-nyiakan kesempatan yang tidak pasti datang setiap hari? Ingatlah saudaraku, kita tidak pernah tahu apakah tahun ini adalah Ramadan yang terakhir atau bukan bagi kita. Tamu yang agung ini selalu dinantikan kehadirannya, karena dia banyak membawa keutamaan yang tidak dibawa bulan lainnya.Di bulan inilah Allah mengobral besar-besaran pahala dan keutamaan berlipat-lipat ganda dan memberikan ampunan yang seluas-luasnya. Oleh karena itu jangan sia-siakan Ramadan, dia datang untuk kita, dia datang untuk hamba Allah yang merindukan surga.

Dan kemenangan yang nyata adalah ketika kita menyempurnakan ibadah Ramadan dengan ditutup takbir pada hari Idul Fitri. Di situlah lebaran, dimana hati kita menjadi lebar karena ampunan Allah dan rahmat-Nya kepada semesta yang bertakbir mengagungkan nama-Nya yang penuh segala puja dan puji. Allahu Akbar wa Lillah Al Hamd.

No comments:

Post a Comment