Sunday, August 24, 2014

Beratkah Kata 'Maaf' dari Pihak JNX?

Salam hormat,
Langsung to the point
Saya berdomisili di Yogyakarta (kost), dikirimi paket oleh ayah saya dari Jakarta. Karena saya perlu barangnya segera saya minta dipaketkan dengan paket YES tertanggal Jumat 22/08/2014. Saya dikabari nomor resinya  sbb:
No.resi                       :           CGK2C01586561114
Kota asal                    :           CGK100000
No. Pelanggan          :           10637300
Alamat Tujuan         :           John Koplo
                                                Jl. Jalan no.XXX Yogyakarta
                                                0812XXXXXXX
Kemudian saya dikabari oleh kurir ybs menjelang malam soal paket saya yang akan diantar ke tempat tujuan. Lantas ketika si kurir ybs tiba di tempat saya kira-kira pukul 19 lebih, saya sedang ke kamar mandi. Selang tak beberapa lama saya baca sms si kurir yang bilang kalau dia sudah coba hubungi alamat kost saya. Dan saya pun inisiatif menghubungi si kurir, namun selang beberapa lama si kurir sudah jauh meninggalkan tempat saya, bahkan dia sms kalau sudah pulang ke rumah, dan barang saya diantar ke kantor JNX.  Akhirnya si kurir sms menawarkan saya apakah paket ingin diantar kembali (dengan konsekuensi hari Senin 25/08/2014) atau saya ambil sendiri di kantor JNX malam ini juga. Saya jawab saya ambil sendiri, Saya tanyakan alamat, dibalas si kurir di Jl. Parangtritis KM 4,5 Utara Ring Road Selatan,  posisinya ketika itu sudah menjelang malam pukul 21. Tak lama si kurir memberitahu saya kantor JNX mau tutup di jam tersebut. Saya balas kalau begitu besok saya ambil dan saya tanyakan jam operasional kantor, dijawab si kurir jam 10 s/d 15. Besoknya saya coba ambil paket di kantor JNX pukul 11 namun ternyata kantor tutup. Saya tanyakan ke si kurir namun jawabannya seakan cuci tangan dan berargumen kalau dia tidak tahu kantornya buka atau tutup, karena sebelumnya si kurir sudah mengatakan kalau kantornya buka pada jam tersebut di atas, dan seakan sudah melakukan pekerjaan sesuai prosedur. Ini jelas suatu kebohongan terhadap konsumen. Saya tidak mempermasalahkan soal paket yang tidak sampai di tangan saya, namun yang saya sesalkan sikap si kurir yang cenderung ngotot dan seolah-olah tidak bersalah sama sekali, serta tidak memiliki sopan santun sehingga sulit untuk mengucapkan kata ‘maaf’ kepada konsumen yang bersangkutan. Apakah dari pihak JNX tidak memiliki kode etik dalam menjalankan tugas sehingga kata ‘maaf’ yang manusiawi saja tidak bisa keluar sedikitpun. Semoga jadi bahan pembelajaran.
Salam hormat
John Koplo
NB: saya lampirkan bukti sms si kurir ybs



----------- Balasan dari JNX-------


Bapak John Koplo yang terhormat,
 
Terima kasih atas email yang Bapak sampaikan kepada Customer Care JNX.
 
Kami mohon maaf atas adanya ketidaknyamanan yang Bapak alami dalam menggunakan layanan JNX.
 
Petugas pengantar dari pihak operasional JNX Yogyakarta tersebut memang sudah bekerja sesuai dengan prosedur dan seharusnya memang kantor cabang JNX Yogyakarta tetap buka pada hari libur.
Kami teruskan email keluhan Bapak ke pihak operasional JNX Yogyakarta untuk dapat diberikan info yang lebih akurat.
 
Demikian yang dapat kami sampaikan, apabila terdapat hal lain yang ingin ditanyakan mengenai layanan JNX, mohon untuk tidak ragu menghubungi kami kembali melalui:

JNX Contact Center                              : 021 - 2927xxxx
Facsimile                                                : 021 - 56714xxx
JNX Website                                          : www.jnx.xxx
 
Terima kasih.
 
Salam,
 
Gayus Tambalban
Customer Care Division

Tuesday, August 19, 2014

[Archives] d.a. files [4]



Jun,
Saya sudah baca ulang semua bab. Tinggal satu pertanyaan pokok: Apa fungsi analisis framing Robert Entman yang kau kutip di Bab 1?

Saya baca sampai bab terakhir, analisis Entman tidak kau pakai sama sekali, tetapi kau menggunakan Zhang dan Kosicki. Ada beberapa alternatif yang bisa kau lakukan untuk mengurusi kutipan Entman ini:

1. Kalau tidak dipakai untuk analisis, kutipan Entman itu dibuang saja.
2. Kalau tetap kau cantumkan, beri kritik terhadap Entman atau alasan mengapa kau tidak memakai Entman tetapi memakai Zhang dan Kosicki
3. Kau mengkombinasikan keduanya untuk analisis.

Sebetulnya, cara analisis Entman lebih bagus karena ia membantu membongkar substansi berita tentang terorisme dan mencoba untuk melihat konstruksi media. Sementara Zhang dan Kosicki terkesan sangat teknis sehingga kita tidak mendapatkan evaluasi yang mendalam dari analisis yang kau bikin. Tetapi silakan pilih, mana yang akan kau lakukan.

Dari saya sudah selesai. Silakan ke pembimbing ke dua.

d.a.

Monday, August 18, 2014

[Archives] d.a. files [3]



Jun,
Ada 2 jenis komentar: teknis dan substantive. Yang teknis berkaitan dengan teknis penulisan. Ada di di Bab 1 dan Bab 2. Yang substantif ada di Bab 4 dan 5. Semuanya perlu diperbaiki. Semua lihat di margin bab-bab yg saya kirimkan kembali.

Kalau kau bisa memperbaiki cepat, sy lepaskan untuk sidang meskipun sy masih belum puas dengan sejumlah hal.

d.a.

[Archives] d.a. files [2]



Jun,
Frame berita yang berbeda akan menghasilkan pemaknaan yang berbeda. Kau harus selalu berpikir dengan cara itu. Perbedaan 5W+1H seperti kau contohkan itu belum berarti banyak. Framing yang kau pakau jadinya tak berbeda dengan analisis biasa.

Contoh framing itu begini, misalnya:

Untuk peristiwa yang sama penangkapan dan penembakan teroris, misalnya nedia mungkin memberi bingkai yang berbeda:
Media A: Densus 88 menembak mati teroris
Media B: Densus 88 sewenang-wenang menembak terduga teroris
Media C: Densus 88 bentrok dengan para jihadis.

Media A lebih deskriptif sifatnya dalam melaporkan peristiwa itu, Media B bersikap kritis terhadap densus, Media C memiliki sikap positif terhadap teroris. Analisis framing seperti ini yang seharusnya muncul. Kalau pintu masukmu itu lewat perangkat/komponen jurnalistik spt yang kau contohkan, ujungnya harus bisa menunjukkan apa makna di balik framing itu.

Mungkin analisis framing itu bisa kau kaitkan dengan siapa audiens media tersebut -- selain pengelolanya.

Silakan penelitian, dalami teknik dan makna framing sambil jalan.

d.a.


[Archives] d.a. files [1]



Jun,
Hampir sampai. Ada beberapa komentar:
1. Halaman 16 tentang RQ itu kau narasikan saja biar tidak mengecoh pembaca bahwa itu adalah pertanyaan penelitianmu. Terus beri keterangan, apakah kau mau meneliti sebab-sebab pemilihan framing oleh republika? Kalau iya, RQ itu bisa kau pakai, memang. Tetapi kau harus memodifikasi rumusan masalahmu, tidak sekadar "bagaimana fraing dilakukan" tetapi "mengapa republika memakai framing tertentu?"

Jika kau membatasi pada deskripsi saja, maka RQ-RQ itu gak langsung berguna bagi penelitianmu. Dan berarti kau harus menegaskan bahwa kau tidak ingin menjawab faktor2 penentu pemilihan framing.

2. Prosedur pembacaan framing masih abstrak. Coba, beri saya contoh, bagaimana sebuah framing kau dapatkan dari berita yang kau baca. Tunjukkan, lalu sedikit berikan gambaran bahwa ada framing lainnya yang mungkin diambi republika api tak digunakan dalam berita itu.

Kalau kau bisa memberi contoh, kau bisa segera penelitian. Contoh itu gak usah panjang, cukup diringkas satu halaman saja, dan kirim ke saya lewat email.

d.a.

Tuesday, August 12, 2014

Diskusi Repoeblik Berak Lantjar: in Memoriam Eko Prasetyo




Diskusi Repoeblik Berak Lantjar: in Memoriam Eko Prasetyo (25 Maret 1986 – 8 Agustus 2012).

Diskusi Repoeblik Berak Lantjar mengenang kepergian mendiang Eko Prasetyo bin Tumidjo. Dihadiri oleh Shubhi Abdillah, Hendaru Tri Hanggoro, M. Arief Dharmawan, Ospi Dharma, Jun Khaer. Dalam acara ini membahas rencana peluncuran buku antologi puisi Eko Prasetyo beserta beberapa karya seni miliknya. Kami memang merasa kehilangan sosok seniman langka yang setia pada kesederhanaan hingga akhir hayatnya. Saya ingat gelar “bedebah serampangan” yang disematkan Eko buat saya karena menyaksikan gaya saya yang nyeneleh bin ngawur dalam pergaulan, yang menurutnya saya itu tidak ikut mainstream. Ah terlalu indah kenangan kita, ko.
Saya ingat pesan Eko di status Facebook-nya waktu itu:

teringat dulu itu ada seorang teman yang kalo tiap ketemu sapaan hangatnya begini, "gemana, dul, berak lancar?" [Eko Prasetyo]
hehehe... hidup ternyata cuma seluas kamar kos [Eko Prasetyo]

Ada quotes menarik ketika itu dari Ospi pada waktu malam itu tentang alasan mengapa kami berserikat dan berkumpul untuk mengenang Eko, begini bunyinya:
“Agar lengkap pengabdian kita sebagai kawan” [Ospi Dharma]

Sekarang kau berbahagia kawan. Semoga tempatmu tidak seluas kamar kos durjana yg cuma ada di dunia. Selamat berak lancar di sana! [Jun Khaer]