Dimana
Allah?
Pertanyaan sepele
yang memiliki banyak jawaban. Sekilas pertanyaan ini merupakan sesuatu yang
kecil, namun memiliki makna yang besar karena inilah keyakinan paling asasi
dari seorang yang mengaku beriman kepada Allah Yang Maha Esa. Orang yang
mengikuti millah Ibrahim alaihissalam, agama monotheisme yang mengakui keesaan
Allah. Coba saja tanyakan pertanyaan ini kepada orang yang ber-KTP Islam, maka
akan Anda temukan jawaban yang beragam: “Allah ada di mana-mana”, “Allah ada di
hati saya”, “Tidak tahu”. Serta jawaban-jawaban lain yang jelas menyelisihi
sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal pertanyaan ini pernah
ditanyakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam 14 abad silam. Adapun ulama
ahlussunnah wal jama’ah telah sepakat (ijma’) soal masalah ini, tanpa ada
perselisihan.
Cukuplah tugas kita
sebagai umat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengikuti
sunnahnya sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah”. [33:21]
Lantas apa
jawabannya?
Mari kita jawab
syubhat di atas satu per satu. Kemudian kita jelaskan jawaban yang haq secara
tekstual (dalil naqli) dan kontekstual (dalil ‘aqli) berdasarkan pemahaman para
sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga mudah dipahami.
“Allah
ada di mana-mana”
Jawaban ini jelas
batil. Mengapa? Logika seperti ini tidak rasional dengan mengatakan Dzat yang
Maha Mulia ada di mana-mana. Lantas apa makna Maha Suci Allah dari segala
penyerupaan makhluk. Bukankah Allah berfirman:
“Tidak
ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan
Melihat” [42: 11]
Ibnu
Katsir menafsirkan makna ayat tersebut yakni tidak ada sesuatu pun yang
menyerupai Sang Maha Pencipta seluruhnya karena sesungguhnya Dia Maha Esa Maha
Bergantung Segala Sesuatu [Mubarakfuri, Shafiyuddin. Al Mishbah Al Munir fi
Tafsir Ibn Kathir: 1231]
Dapat kita pahami
juga dengan logika akal sehat, jika Allah ada di mana-mana lantas apakah
tulisan yang sedang Anda baca ini juga Allah? Karena premis di awal “Allah ada
di mana-mana”. Logika semacam ini tak ada ubahnya dengan agama lain yang
mengklaim Tuhan saya ada di tempat anu, atau ada di batu, dan lain sebagainya.
Padahal Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya sebagaimana firman-Nya:
“Tidak
ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan
Melihat”. [42:11]
Ayat
di atas sekaligus membantah golongan orang yang meniadakan sifat Allah
(Mu’atthilah). [Syaikh Nasir As Sa’di, Taisir Karim Ar Rahman]
Pertanyaan
selanjutnya dari ayat di atas, masih pantaskah kita menyerupakan Dzat yang Maha
Mendengar Maha Melihat dengan sesuatu apapun? Padahal Allah telah menyangkal
dengan tegas dan jelas.
Adapun ulama telah
sepakat bahwasanya orang yang menganggap Allah ada di mana-mana termasuk dalam
golongan Hululiyyah (aliran yang menganggap Allah menyatu dengan makhluk). [Fatwa dari Komisi Tetap Urusan
Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi (Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al
‘Ilmiyah wal Iftah) [3/217-219], Pertanyaan Pertama dari Fatwa no. 5213]
“Allah
ada di hati saya”
Jawaban ini juga
jelas batil. Mengapa? Bukankan seruan muazin setiap hari 5 waktu selalu dimulai
dengan Allahu Akbar [Allah Maha Besar]. Artinya apa? Artinya segala sesuatu
selain Allah itu kecil, karena Dia Dzat yang Maha Besar tanpa ada tandingan
bagi-Nya. Hati manusia itu teramat kecil untuk disandingkan dengan eksistensi
Allah yang Maha Besar kerajaan-Nya. Bahkan kekuasaan-Nya meliputi langit dan
bumi siang dan malam. Lantas apa logika semacam ini masih bisa diterima dengan
akal sehat?
Bukankah Allah
telah berfirman:
“Allah-lah
yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku
padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu,
dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu”. [65: 12]
Ibnu
Katsir menafsirkan firman Allah tersebut yakni hal yang demikian menunjukkan
kabar bahwasanya kekuasaan Allah itu sempurna dan kerajaan-Nya amatlah agung
[Mubarakfuri, Shafiyuddin. Al Mishbah Al Munir fi Tafsir Ibn Kathir: 1419]
Logikanya,
jika Allah sanggup menciptakan tujuh langit dan tujuh bumi yang amat besar bagi
seorang manusia, lantas apakah Dia sebagai Sang Pencipta lebih kecil dari
ciptaan-Nya? Akal sehat manusia pasti bilang tidak.
“Tidak tahu”
Dari sekian banyak
jawaban yang ada, bentuk jawaban “tidak tahu” merupakan jawaban yang jelas
batil dan merupakan kesalahan fatal dalam beragama. Logikanya sederhana,
bagaimana mungkin Dzat yang kita sembah setiap hari sepanjang masa, yang kita
agung-agungkan kebesaran-Nya, yang kita saksikan ciptaan-Nya dengan panca
indera, sedangkan kita tidak tahu dimana Dia berada? Apa kita menyangkal
eksistensi-Nya? Atau atas dasar kebodohan belaka sehingga kita bersikap nihil
meniadakan-Nya. Sungguh sebuah kezaliman besar. Sedangkan Allah telah nyatakan
secara jelas dan gamblang perihal nama-Nya yang mulia di dalam Al Quran ketika
sedang berdialog dengan Musa ‘alaihissalam:
“Maka
ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: "Hai Musa. Sesungguhnya
Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu
berada dilembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah
apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak
ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk
mengingat Aku.” [20: 11-14]
Akal
sehat manusia disertai iman pastilah tidak menyangkal bahwa Musa alaihissalam
pernah berbicara dengan Allah. Logikanya, dengan premis jawaban “tidak tahu”,
kalau begitu Allah itu tidak ada, lantas dengan siapa Musa berbicara?
Lantas, dimana Allah?