Thursday, June 4, 2015

Dimana Allah: Prolog



Dimana Allah?

Pertanyaan sepele yang memiliki banyak jawaban. Sekilas pertanyaan ini merupakan sesuatu yang kecil, namun memiliki makna yang besar karena inilah keyakinan paling asasi dari seorang yang mengaku beriman kepada Allah Yang Maha Esa. Orang yang mengikuti millah Ibrahim alaihissalam, agama monotheisme yang mengakui keesaan Allah. Coba saja tanyakan pertanyaan ini kepada orang yang ber-KTP Islam, maka akan Anda temukan jawaban yang beragam: “Allah ada di mana-mana”, “Allah ada di hati saya”, “Tidak tahu”. Serta jawaban-jawaban lain yang jelas menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal pertanyaan ini pernah ditanyakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam 14 abad silam. Adapun ulama ahlussunnah wal jama’ah telah sepakat (ijma’) soal masalah ini, tanpa ada perselisihan.
Cukuplah tugas kita sebagai umat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengikuti sunnahnya sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. [33:21]
Lantas apa jawabannya?
Mari kita jawab syubhat di atas satu per satu. Kemudian kita jelaskan jawaban yang haq secara tekstual (dalil naqli) dan kontekstual (dalil ‘aqli) berdasarkan pemahaman para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga mudah dipahami.

“Allah ada di mana-mana”
Jawaban ini jelas batil. Mengapa? Logika seperti ini tidak rasional dengan mengatakan Dzat yang Maha Mulia ada di mana-mana. Lantas apa makna Maha Suci Allah dari segala penyerupaan makhluk. Bukankah Allah berfirman:
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat” [42: 11]
Ibnu Katsir menafsirkan makna ayat tersebut yakni tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Sang Maha Pencipta seluruhnya karena sesungguhnya Dia Maha Esa Maha Bergantung Segala Sesuatu [Mubarakfuri, Shafiyuddin. Al Mishbah Al Munir fi Tafsir Ibn Kathir: 1231]
Dapat kita pahami juga dengan logika akal sehat, jika Allah ada di mana-mana lantas apakah tulisan yang sedang Anda baca ini juga Allah? Karena premis di awal “Allah ada di mana-mana”. Logika semacam ini tak ada ubahnya dengan agama lain yang mengklaim Tuhan saya ada di tempat anu, atau ada di batu, dan lain sebagainya. Padahal Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya sebagaimana firman-Nya:
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat”. [42:11]
Ayat di atas sekaligus membantah golongan orang yang meniadakan sifat Allah (Mu’atthilah). [Syaikh Nasir As Sa’di, Taisir Karim Ar Rahman]
Pertanyaan selanjutnya dari ayat di atas, masih pantaskah kita menyerupakan Dzat yang Maha Mendengar Maha Melihat dengan sesuatu apapun? Padahal Allah telah menyangkal dengan tegas dan jelas.
Adapun ulama telah sepakat bahwasanya orang yang menganggap Allah ada di mana-mana termasuk dalam golongan Hululiyyah (aliran yang menganggap Allah menyatu dengan makhluk). [Fatwa dari Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi (Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Iftah) [3/217-219], Pertanyaan Pertama dari Fatwa no. 5213]

“Allah ada di hati saya”
Jawaban ini juga jelas batil. Mengapa? Bukankan seruan muazin setiap hari 5 waktu selalu dimulai dengan Allahu Akbar [Allah Maha Besar]. Artinya apa? Artinya segala sesuatu selain Allah itu kecil, karena Dia Dzat yang Maha Besar tanpa ada tandingan bagi-Nya. Hati manusia itu teramat kecil untuk disandingkan dengan eksistensi Allah yang Maha Besar kerajaan-Nya. Bahkan kekuasaan-Nya meliputi langit dan bumi siang dan malam. Lantas apa logika semacam ini masih bisa diterima dengan akal sehat?
Bukankah Allah telah berfirman:
“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu”. [65: 12]
Ibnu Katsir menafsirkan firman Allah tersebut yakni hal yang demikian menunjukkan kabar bahwasanya kekuasaan Allah itu sempurna dan kerajaan-Nya amatlah agung [Mubarakfuri, Shafiyuddin. Al Mishbah Al Munir fi Tafsir Ibn Kathir: 1419]
Logikanya, jika Allah sanggup menciptakan tujuh langit dan tujuh bumi yang amat besar bagi seorang manusia, lantas apakah Dia sebagai Sang Pencipta lebih kecil dari ciptaan-Nya? Akal sehat manusia pasti bilang tidak.

“Tidak tahu”
Dari sekian banyak jawaban yang ada, bentuk jawaban “tidak tahu” merupakan jawaban yang jelas batil dan merupakan kesalahan fatal dalam beragama. Logikanya sederhana, bagaimana mungkin Dzat yang kita sembah setiap hari sepanjang masa, yang kita agung-agungkan kebesaran-Nya, yang kita saksikan ciptaan-Nya dengan panca indera, sedangkan kita tidak tahu dimana Dia berada? Apa kita menyangkal eksistensi-Nya? Atau atas dasar kebodohan belaka sehingga kita bersikap nihil meniadakan-Nya. Sungguh sebuah kezaliman besar. Sedangkan Allah telah nyatakan secara jelas dan gamblang perihal nama-Nya yang mulia di dalam Al Quran ketika sedang berdialog dengan Musa ‘alaihissalam:
“Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: "Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” [20: 11-14]
Akal sehat manusia disertai iman pastilah tidak menyangkal bahwa Musa alaihissalam pernah berbicara dengan Allah. Logikanya, dengan premis jawaban “tidak tahu”, kalau begitu Allah itu tidak ada, lantas dengan siapa Musa berbicara?

Lantas, dimana Allah?

Cintaku Tertinggal di Kancut Itu: Apologia



Dengan menyesal yang tiada pakai kata sangat, saya tidak melanjutkan cerita bersambung “Cintaku Tertinggal di Kancut Itu” dengan alasan sudah tidak bersemangat untuk melanjutkan tulisan ini. Entah tulisan apa lagi yang nantinya kelak saya unggah masih menjadi misteri.

-333