Wednesday, August 23, 2023

Belajar Menulis Baik dan Benar sesuai Kaidah KBBI

 

Belajar Menulis Baik dan Benar Sesuai Kaidah KBBI

oleh John Koplo

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuhu

Halo teman teman perkenalkan nama saya asal Abnor, kependekan dari Abnormal, domisili dari Jakarta. Saat ini alhamdulillah saya sudah menikah dan dikaruniai dua anak, satu laki dan satu perempuan; Kesibukan saya saat ini menjadi pengangguran swasta, pekerjaan saya sibuk ibadah, sampingan saya ngajar di salah satu kampus swasta di Jakarta. Hobi saya baca, naik motor dan naik gunung. Cita-cita saya ingin jadi storyteller, karena menurut saya jadi storyteller itu sangat sulit. Idola saya dalam dunia storytelling itu adalah Nabi Muhammad ﷺ. Kalau yang di dunia nyata sekarang ini ada 2 yang pertama itu Pandji Pragiwaksono dan kedua itu Ferry Irwandi. Bedanya Cuma 1, saya Cuma follow Ferry Irwandi.

Bicara tentang manusia dengan hubungannya, saya akan bercerita tentang kisah hubungan saya dengan istri dari awal ketemu sampai kami nikah. Setidaknya ada dua premis utama dalam cerita saya ini.

Pertama, saya adalah orang yang sangat tidak percaya pada istilah cinta pada pandangan pertama, karena saya yakin mata saya mudah sekali berkhianat sehingga lisan saya gampang bilang cinta seandainya emang ada cinta pada pandangan pertama.

Kedua, saya percaya pada akhirnya semesta ini kadang memang suka bercanda cuma kita aja yang terlalu serius. Banyak hal di hidup kita yang sebenarnya berjalan tanpa kita ketahui bagaimana caranya. Manusia hanya mampu berusaha dan berdoa, itu aja.

Lanjut

Untuk menjelaskan premis saya yang pertama, awal saya ketemu istri itu aja udah absurd. Saya orang yang yakin dengan istilah coba aja dulu siapa tau rejeki atau jodoh. Singkat cerita saya ketemu istri saya itu dikenalin sama temen saya. Ya intinya kenal via instagram, pada waktu itu akun ig istri saya itu digembok, sampai sekarang juga sih. Di saat itu tujuan saya sederhana, Cuma mau minta nomer kontaknya aja. Dan ringkas cerita dikasih. Kamipun bertemu di salah satu kedai pizza di bilangan Jakarta Timur sebut aja Rawamangun.

Waktu itu hari Selasa. Di tempat itu saya gak banyak basa-basi, artinya Cuma sedikit ngomong basa-basi kenalan di awal dan selebihnya saya jujur langsung to the poin intinya saya mau bahas apa di situ. Anehnya ternyata si istri saya pun menjawab hal serupa. Intinya kami ketika itu bukan nyari pacar, melainkan nyari pasangan hidup alias suami istri. FYI aja istri saya itu orang yang termasuk introvert soal percintaan, itu akhirnya bisa saya pahami karena masalalu doi yang pernah gagal dalam urusan cinta. Okelah.

Balik ke cerita.

Saya anterin istri saya pulang ke rumahnya abis dari kedai pizza itu. Di tengah jalan sebelum sampai ke rumahnya dia sempet nanya saya, lebih tepatnya nantang sih. Dia tanya mau gak saya serius ketemu orangtuanya pas besok wiken. Saya jawab siapa takut. Saya menerima tantangan itu. Jadinya Sabtu besok abis zuhur saya diundang ke rumahnya.

Walhasil berjalan waktu. Sampailah saya di hari Sabtu. Ada hal menarik saat itu, yaitu pada hari itu saya janjian sama cewek juga paginya, mau ngapain? Saya mau taaruf. Jadi sebelum saya ketemu istri saya itu sebenernya saya lagi ikut program taaruf yang diadakan oleh salah satu ustadz ternama di Jakarta. Singkat cerita paginya saya ketemu si cewek itu, ternyata emang gak cocok. Siangnya saya cabut ke rumah istri saya, tak lupa saya bawa buah tangan, yaitu Japanese cake yang ternyata ampuh buat mencuri hati mertua saya. Cerita ini saya dapet setelah nikah.

Waktu berjalan, dan berjalan. Pada akhirnya kami menikah. Prosesnya pun boleh dibilang sederhana dan berjalan lancar atas izin Allah. Tercatat dalam catatan pribadi saya, orang tua saya ketemu mertua itu Cuma sekali pas sebelum lamaran, sekali pas lamaran, dan sekali pas nikah. Cuma tiga kali. Total waktu kami, saya dan istri, dari awal kenalan sampai menikah itu kurang lebih tiga bulan. Dan hal yang paling berkesan buat saya dan istri saya yaitu kamu menikah di Kantor Urusan Agama (KUA) di hari Jumat sebelum jumatan. Saya inget banget. Sebelum hal semacam ini viral di media sosial kalau ternyata nikah di KUA itu gratis. Tanpa mengurangi khidmat dan sakral sebuah pernikahan.

Lanjut ya

Ada sebuah hal unik setelah kami menikah yaitu satu hal. Ceritanya waktu itu kami, saya dan istri saya lagi berkunjung ke rumah orangtua saya di daerah Bekasi. Jadi sebelum kami menikah, istri saya itu nyaris nikah dengan mantannya. Nah si mantan pacarnya yang laki ini ternyata pacaran sama tetangga orangtua saya di Bekasi itu. Uniknya setelah kami menikah, istri saya sering cerita soal si istri mantannya ini. Ibaratnya saya itu nyusun puzzle cerita istri saya, jadi istri saya itu cerita ciri-ciri istri mantannya, dari mulai ciri fisik, tempat mereka nikah, kerjaannya dan kerjaan lakinya, anak-anaknya. Dan ajaibnya semua cocok dengan yang diceritain orangtua saya soal tetangga saya itu yang adalah istri dari mantan bini saya.

Jadi pas istri saya lagi di tempat orangtua saya itu, ndilalah ketemulah dengan istri mantannya itu. Dan sekalian juga ketemu papasan dengan mantannya. Hal yang terjadi udah saya tebak yaitu canggung alias awkward. Begitulah kesimpulannya dari premis saya yang kedua bahwa semesta itu kadang bercanda, Cuma kita aja sebagai manusia yang terlalu serius dan angkuh pada kesombongan yang kita bawa.

Ternyata kesimpulan dari kisah di atas itu salah satunya sangat sulit menulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia. Mengapa? Karena Indonesia sendiri merupakan sebuah kata yang merangkum keragaman dalam satu frase.istilahnya ya gado-gado. Bahasa dan bangsa Indonesia lahir dari ketidaksengajaan manusia berinteraksi, yang sifatnya fitrah. Untuk itu marilah bersama agar berhenti dari memberi label atau cap sebagai paling Indonesia karena sejatinya tidak akan pernah ada.

x