Kota Gresik menjadi salah satu kota yang saya jelajahi selepas lulus dari Sekolah Menengah Atas. Saya pun sendiri belum mengetahui sejarah ataupun cerita mengenai kota ini, cuma yang saya ketahui kalau kota ini dijuluki kota santri lantaran hampir di setiap sisinya banyak ditemui simbol religius Islam. Belakangan saya tahu muasal nama kota ini dari Prof Daud Rasyid guru besar Universitas Islam Al Azhar Jakarta. Konon kata Gresik berasal dari Qarra As-Syai yang bermakna tempat berkumpulnya atau menancapnya sesuatu.
Alkisah saya memutuskan untuk berhenti kuliah di
semester kedua. Bukan apa-apa namun entah ada perasaan berkecamuk dalam diri
saya bahwa saya mesti mencari ilmu agama yang haq yang bersumber dari guru,
bukan melalui katanya dan katanya. Setelah perdebatan panjang dengan orangtua
saya, ibu dan ayah saya akhirnya setuju saya hijrah ke Gresik untuk menempuh pendidikan agama, ya sebutlah mondok
di pondok pesantren.
Hal semacam ini bukan sesuatu yang mudah di kala itu
bagi anak muda seusia saya yang baru lulus SMA. Bayangkan saja di zaman itu
teknologi tidak secanggih dan semudah sekarang. Masih saya ingat di zaman itu
masih banyak bertebaran di mana-mana apa yang disebut dengan warung telepon
alias disingkat wartel. Teknologi komunikasi tercanggih di saat itu. Adapun
penggunaan henpon alias telepon seluler sangatlah jarang.
Masih ingat di memori saya bagaimana ayah saya kekeuh
ingin mengantarkan saya ke pondok pesantren Al Furqon Al Islami Sedayu Gresik.
Kami berdua naik bus dari terminal Rawamangun tujuan Surabaya via jalur
Pantura. Turun di Terminal Bunder Gresik lanjut dengan bus ke arah Lamongan dan
kami turun di Alun-alun Sedayu untuk kemudian lanjut naik becak ke pondok
pesantren.
Saya dan ayah disambut oleh salah satu santri yang
bernama Ahmadi dari Lombok yang kebetulan ketika itu sedang ditugaskan jadi
penerima tamu. Kami disambut dengan makan bersama di wadah tampah besar dengan
nasi dan lauk pauk ala kadarnya. Lantas ketika hari menjelang sore setelah
ashar, ayah saya pamit dan di situlah batin saya sedih karena harus berpisah
dengan ayah saya dan memulai kehidupan baru sebagai seorang santri pondok
pesantren yang jauh dari hingar bingar kota dan segala macam godaannya.
Ayah saya sempat menanyakan ulang tentang kesungguhan
saya untuk mondok, mungkin dengan harapan saya membatalkan niat awal saya dan
kembali ke Jakarta bersama beliau. Namun bagi saya sudah mantap ingin menimba
ilmu agama di Gresik. Saya masih ingat skena bagaimana kami berpisah di sana,
di depan kantor pondok pesantren Al Furqon Al Islami Sedayu Gresik. Saya pun
masih ingat pesan ayah saya agar selalu bertaqwa dan bersabar, kata bersabar
saya pahami mungkin karena sambutan makan yang ala kadarnya yang kami terima.
Namun bagi saya hal tersebut bukan halangan berarti mengingat niat yang sudah lurus
dan kesungguhan yang berapi-api dari seorang anak muda yang mencari jati dirinya
sebagai hamba Allah.
Saya ingat bertemu dengan sosok yang saya kagumi
hingga kini, namanya Ali Mustain. Beliau banyak mengajarkan saya tentang hidup
di Gresik dan Surabaya khususnya karena beliau tinggal di Surabaya dan setiap
hari pergi pulang dengan sepeda motor kesayangannya Honda GL Pro. Pak Ali, saya
panggil beliau, karena terpaut usia yang lumayan jauh. Beliau tinggal di daerah
terminal Osowilangun Surabaya namun lebih memilih menghabiskan waktunya sebagai
marbot di Masjid Al Gharib Surabaya yang tak jauh dari terminal tersebut.
Hampir setiap pekan Pak Ali selalu mengajak saya sowan
ke tempatnya untuk menginap. Saya pun tidak pernah menyia-nyiakan hal itu. Bagi
saya itu merupakan suatu kehormatan dan rejeki bisa melihat dunia luar yang
sebelumnya belum pernah saya rasakan dengan panca indra. Beliau selalu mengajak saya, atau lebih
tepatnya mentraktir saya nasi bebek di depan Stasiun Pasar Turi. Kenangan itu
selalu teringat oleh saya sampai kini.
Saya ingat nyaris sebulan Ramadan saya menghabiskan waktu
bolak balik Surabaya Gresik dan menginap di Masjid Al Gharib Surabaya tempat
kediaman Pak Ali. Saya merasakan nikmatnya mendapat pertolongan dari seorang
saudara muslim, sesuai dengan namanya Pak Ali Mustain yang bermakna Ali sang
penolong. Masih ingat saya selalu terbangun jam 3 menjelang subuh dan saya
saksikan sendiri Pak Ali sudah tidak di sebelah saya melainkan beliau sedang
khusyuk salat malam di masjid. Saya jadi terheran-heran ketika itu, luar biasa
benar sosok orang ini, siang malam wara-wiri menghabiskan waktu untuk dunia
namun tak lupa malamnya habiskan waktu untuk akhirat.
Pak Ali tidak pernah cerita siapa dia sesungguhnya
sampai saya sendiri mencari tau dari berbagai sumber. Kalau tidak salah beliau
lulusan teknik dari kampus negeri di Surabaya. Saya mendapati beliau kerap kali
membaca koran yang bagi anak santri ketika itu merupakan suatu yang tidak
lazim. Pun saya pernah mendapati semacam sketsa gambar teknik desain masjid
yang kemungkinan besar itu hasil karya Pak Ali. Beliau sangat rendah hati,
menurutnya tidak penting segala macam titel duniawi toh pada sejatinya kita
semua adalah hamba Allah, begitu tutur beliau.
Soal pekerjaan saja, Pak Ali memang unik. Beliau
menjadi semacam petugas penyalur zakat infak dan sedekah di bawah naungan Dompet
Duafa Jawa Timur. Saya masih ingat diajak beliau keliling komplek perumahan
orang Arab di daerah dekat makam Sunan Giri Gresik. Gaya Pak Ali pun sangat
sederhana, dengan ciri khas pakai sandal jepit dan jaket sepeda motor dealer
Honda, beliau melaksanakan tugasnya. Pernah beliau cerita ke saya waktu mau jemput
sedekah di salah satu kantor di Surabaya lantas beliau diusir satpam lantaran
pakai sandal jepit. Semenjak itulah beliau siap sedia sepatu kalau ada tugas ke
kantor.
Saya menyaksikan sendiri keluwesan dan kelemahlembutan
akhlak Pak Ali. Saya ingat waktu itu teman saya di pondok mau pulang ke
rumahnya di Buton. Singkat cerita jadwal kapal jurusan Surabaya - Bau Bau
mengalami kendala sehingga terlambat. Si teman saya ini tidak sabar menunggu,
padahal Pak Ali sudah kasih kontak kapten kapal yang akan mengangkut teman saya
ini. Walhasil Pak Ali ambil alih untuk bicara langsung via telepon dengan
kapten kapal. Saya menyaksikan kemahiran beliau dalam berinteraksi dengan orang
yang berbeda suku. Masya Allah.
Pernah juga saya merasakan pengalaman turing bersama
Pak Ali. Rencananya saya dari Surabaya tempat kediaman beliau lanjut ke Solo
tempat kediaman teman saya. Ndilalah Pak Ali juga punya hajat ke Solo, maka
jadilah kami berdua pergi dengan sepeda motor Honda GL Pro kesayangan beliau.
Saya ingat hari pertama kami sowan ke Pondok Pesantren Langitan Tuban yang
terkenal itu, kami salat zuhur dan kemudian lanjut makan siang di sana. Di
sepanjang jalan saya berpikir, hebat benar Pak Ali ini punya kenalan
dimana-mana. Malamnya kami singgah di daerah Blora, di belakang bekas Stasiun
Kereta Api Blora, nginap di rumah temannya Pak Ali. Lagi-lagi saya terheran,
siapa pula ini teman beliau kok bisa ada di Blora. Esoknya kami meneruskan
perjalanan ke daerah Grobogan yang ternyata adalah kampung halaman Pak Ali.
Kami menginap di sana semalam. Saya ingat rumahnya besar ala rumah joglo adat
Jawa.
Besoknya saya menelusuri hutan jati berkelok-kelok
sebelum akhirnya tiba di Sragen, tempat kediaman teman Pak Ali. Saya jadi
bertanya dalam hati kok bisa ya beliau ini punya banyak teman hampir di seluruh
daerah di Pulau Jawa. Hingga akhirnya kami berpisah di pertigaan jalan menuju
kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Masih ingat waktu itu Pak Ali
sempat ditanya teman saya soal statusnya yang masih jomblo, beliau jawab sambil
menggelengkan kepala, menurutnya beliau sudah tua untuk usia 33 tahun kala itu.
Saya hanya diam. Pertanyaan yang saya temukan jawabannya setelahnya, yaitu
beliau tak lepas dari hobinya yang suka menolong orang, selalu ringan tangan
dalam kebaikan, mungkin inilah alasan beliau telat menikah. Semoga Allah balas
beliau dengan surga Firdaus.
Pertemuan terakhir saya dengan Pak Ali terjadi tahun
2016. Singkat cerita saya dapat kesempatan dari kantor untuk berkunjung ke
Surabaya. Entah mengapa saya bersikeras ingin berjumpa dengan beliau. Walhasil
Alhamdulillah berkat izin Allah kami bertemu walau dalam kondisi yang serba
mepet karena saya mesti langsung berangkat ke Bandara Juanda Surabaya mengingat
pesawat take off pukul 19. Saya ingat Pak Ali waktu itu bawa kendaraan roda
empat yang berisikan beliau, istri, dan tiga orang anaknya yang masih kecil
semua. Mobilnya seken, merk Daihatsu Zebra. Saya ingat beliau bilang tidak
masalah mobil jelek tapi intinya berfunsi dan tidak didapat dari harta haram.
Pertemuan yang sangat singkat namun berkesan bagi saya karena saya sangat utang
rasa dengan beliau. Saya ingat saya berpelukan dan kami saling mendoakan dalam
kebaikan disertai kata maaf karena kami tidak bisa bercengkerama dalam waktu lama.
Saya langsung pamit dan masuk bandara. Doa saya yang terbaik untuk beliau dan
keluarga beliau semoga Allah selalu jaga dan semoga kami dipertemukan kembali
di surga Firdaus dengan rahmat Allah. Amin.