Suatu hari, saya pernah menjumpai seorang bapak di pelataran Stasiun Bogor. Si bapak ini tampak merenung sembari merokok. Tampak raut kebingungan dari wajahnya. Seakan beliau tidak menikmati rokok di tangannya melainkan pikirannya entah kemana. Saya coba iseng bertanya ke beliau dengan basa-basi ala Melayu.
“Pak, numpang tanya. Kalau dari sini ke Terminal Baranangsiang naik angkot apa ya?”. Begitu kira-kira kalimat basa-basi saya. Kemudian si bapak menjawab dengan detail. Malahan beliau tahu benar rute trayek angkot sekitaran Stasiun Bogor. Makanya saya tanya kembali kok si bapak bisa paham berbagai rute di situ. Ternyata jawabnya beliau baru saja kecopetan di angkot.
Saya pun diam sejenak.
Pikiran-pikiran muncul di otak saya. Pikiran yang didasari hati seraya membayangkan kalau saya dalam posisi si bapak ini. Atau mungkin saja bapak saya, ibu saya, atau anak saya atau siapapun itu yang berada dalam posisi si bapak ini, pastilah sesuatu yang tidak menyenangkan. Lagipula siapa sih orang yang ingin kecopetan?
Lantas saya bertanya dimana rumahnya? Beliau jawab dengan rinci alamatnya, yang saya ingat itu di daerah Tenabang. Kemudian beliau balas tanya dengan dugaan kalau saya itu orang asli Betawi, menurutnya dialek saya seperti orang Betawi tengah yang selalu menyisipkan frase Arab seperti ane dan ente. Memang banyak orang asing yang belum kenal saya biasanya menebak asal saya dari Betawi.
Kemudian si bapak itu saya bantu dengan sedekah uang receh. Beliau mengucap syukur Alhamdulillah kemudian berterima kasih kepada saya. Namun saya malah bilang kenapa tidak cerita dari awal, beliau jawab kalau beliau malu untuk meminta-minta jadinya beliau diam saja sambil berpikir mencari cara bagaimana bisa pulang. Lantas beliau menyebut alamatnya dengan lengkap tadi itu seraya ditambahkan jika saya mau mampir ke rumahnya maka beliau akan sangat senang. Tidak penting sebenarnya, namun hal yang terpenting digarisbawahi bahwa si bapak itu sampai menyebut alamatnya lengkap menunjukkan rasa terima kasihnya dan rasa senangnya masih ada orang yang menolong beliau.
Akhirnya saya berpamitan dan beliau pun lanjut masuk ke Stasiun Bogor untuk pulang ke rumahnya.