Saturday, February 26, 2022

Lima Menit Sebelum Azan Maghrib

RM Kencrot

Lima menit sebelum azan maghrib saya menyiapkan makanan berbuka puasa, tiba-tiba perut saya mules. Kontan saya langsung menuju ke toilet menuntaskan hajat buang air besar alias berak. Sambil berak saya merenung. Isi renungannya tentang kenikmatan yang Allah tuliskan di Alquran, bahwa manusia tidak mungkin untuk menghitung nikmat yang banyak ini saking banyaknya. Ada hal menarik yaitu Allah menggunakan pilihan kata “manusia tidak akan sanggup merincinya”, artinya bukan hanya menghitung namun sekaligus menjabarkan satu per satu bentuk nikmat itu dan berikut konsekuensinya yang terangkum dalam oposisi biner jika X maka Y, begitupun sebaliknya.

Lantas muncul pertanyaan di benak saya: bagaimana jika nikmat itu dicabut?

Jika manusia tidak berak, maka berapa besar kerugian yang harus diganti dari perihal berak tersebut. Padahal berak itu sepele namun itulah cara Allah menunjukkan kuasa-Nya. Bayangkan kalau manusia sulit berak, atau minimal sulit kentut. Dapat dipastikan penyakit menghinggapi, entah apa namanya. Lengkap dengan rentetan biaya yang mesti dikeluarkan, yang pastinya menjadikan sesuatu yang tidak enak bagi manusia.

Selesai berak, saya lanjut buka puasa. Di situ saya merenung lagi soal kenikmatan yang Allah tantang manusia akan perihal tersebut. Perkara minum saja, manusia makhluk yang lemah sangat membutuhkan air. Bayangkan kalau manusia hidup tanpa air, akibatnya akan menjadi lemah kemudian mati. Begitulah cara Allah mengajak manusia untuk berkomunikasi lewat akal yang sehat dan pemahaman agama yang lurus. Banyak ayat di Alquran yang berisikan selalu Allah menyandingkan kisah-kisah orang terdahulu dan akal, agar dijadikan sebagai pelajaran sehingga tidak terulang di masa depan.

Hal yang saya pahami bahwa tidak mungkin ilmu Allah yang amat luas dapat dikuasai sepenuhnya oleh manusia. Tidak mungkin pula Allah berkomunikasi langsung dengan hamba-Nya kecuali dengan apa yang Dia kehendaki. Kenapa? Karena zat Allah yang memiliki energi maha dahsyat meliputi semesta jagad raya ini tidak mungkin bisa ditandingi oleh makhluk manapun, apalagi manusia.  Imaji yang diilustrasikan Allah di dalam Alquran itu sesungguhnya hanya konsep bahasa yang mampu dijangkau oleh akal manusia yang terbatas. Ilustrasi perkara-perkara gaib dari mulai perihal kejadian sebelum manusia lahir sampai surga dan neraka sesungguhnya tidak mampu dijangkau akal manusia seutuhnya. Contoh saja, bagaimana mungkin manusia mendeskripsikan seperti apa itu surga, yang sifatnya tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia. Sungguh amat kufurnya kalau manusia menentang Allah.

Oleh karena itu Allah utus sang pembawa pesan dari langit ke bumi melalui malaikat Jibril, sang malaikat pilihan, malaikat terkuat dan terpercaya. Pesan bernama wahyu itu turun kepada manusia pilihan yang pernah hidup di bumi ini yaitu Nabi Muhammad ﷺ, nabi terakhir, manusia pilihan yang terpercaya. Jelas sekali hal ini agar manusia bisa mengambil contoh teladan langsung dari manusia yang hidup berdampingan di muka bumi. Profil manusia terlengkap ada di beliau ﷺ, sosok pemimpin, ayah, anak, guru, dan segala hal kebaikan terkumpul dalam diri beliau ﷺ. Artinya kalau seorang mengaku cinta Allah, maka ikutilah segala sesuatunya dari A sampai Z soal Nabi Muhammad ﷺ, karena beliau sebaik-baik contoh manusia yang pernah hidup di muka bumi ini.

 

Ya Allah ampuni hamba-Mu yang zalim ini, yang tidak tahu caranya bersyukur kepada-Mu. Jadikan hamba sebagai hamba-Mu yang bersyukur dan selalu bersyukur.