RM Kencrot
Lima menit sebelum azan maghrib saya menyiapkan
makanan berbuka puasa, tiba-tiba perut saya mules. Kontan saya langsung menuju
ke toilet menuntaskan hajat buang air besar alias berak. Sambil berak saya
merenung. Isi renungannya tentang kenikmatan yang Allah tuliskan di Alquran,
bahwa manusia tidak mungkin untuk menghitung nikmat yang banyak ini saking
banyaknya. Ada hal menarik yaitu Allah menggunakan pilihan kata “manusia tidak
akan sanggup merincinya”, artinya bukan hanya menghitung namun sekaligus
menjabarkan satu per satu bentuk nikmat itu dan berikut konsekuensinya yang
terangkum dalam oposisi biner jika X maka Y, begitupun sebaliknya.
Lantas muncul pertanyaan di benak saya: bagaimana jika
nikmat itu dicabut?
Jika manusia tidak berak, maka berapa besar kerugian
yang harus diganti dari perihal berak tersebut. Padahal berak itu sepele namun
itulah cara Allah menunjukkan kuasa-Nya. Bayangkan kalau manusia sulit berak,
atau minimal sulit kentut. Dapat dipastikan penyakit menghinggapi, entah apa
namanya. Lengkap dengan rentetan biaya yang mesti dikeluarkan, yang pastinya
menjadikan sesuatu yang tidak enak bagi manusia.
Selesai berak, saya lanjut buka puasa. Di situ saya
merenung lagi soal kenikmatan yang Allah tantang manusia akan perihal tersebut.
Perkara minum saja, manusia makhluk yang lemah sangat membutuhkan air.
Bayangkan kalau manusia hidup tanpa air, akibatnya akan menjadi lemah kemudian
mati. Begitulah cara Allah mengajak manusia untuk berkomunikasi lewat akal yang
sehat dan pemahaman agama yang lurus. Banyak ayat di Alquran yang berisikan
selalu Allah menyandingkan kisah-kisah orang terdahulu dan akal, agar dijadikan
sebagai pelajaran sehingga tidak terulang di masa depan.
Hal yang saya pahami bahwa tidak mungkin ilmu Allah
yang amat luas dapat dikuasai sepenuhnya oleh manusia. Tidak mungkin pula Allah
berkomunikasi langsung dengan hamba-Nya kecuali dengan apa yang Dia kehendaki.
Kenapa? Karena zat Allah yang memiliki energi maha dahsyat meliputi semesta
jagad raya ini tidak mungkin bisa ditandingi oleh makhluk manapun, apalagi
manusia. Imaji yang diilustrasikan Allah
di dalam Alquran itu sesungguhnya hanya konsep bahasa yang mampu dijangkau oleh
akal manusia yang terbatas. Ilustrasi perkara-perkara gaib dari mulai perihal
kejadian sebelum manusia lahir sampai surga dan neraka sesungguhnya tidak mampu
dijangkau akal manusia seutuhnya. Contoh saja, bagaimana mungkin manusia mendeskripsikan
seperti apa itu surga, yang sifatnya tidak pernah dilihat oleh mata, tidak
pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia. Sungguh
amat kufurnya kalau manusia menentang Allah.
Oleh karena itu Allah utus sang pembawa pesan dari
langit ke bumi melalui malaikat Jibril, sang malaikat pilihan, malaikat terkuat
dan terpercaya. Pesan bernama wahyu itu turun kepada manusia pilihan yang
pernah hidup di bumi ini yaitu Nabi Muhammad ﷺ, nabi terakhir, manusia pilihan yang terpercaya.
Jelas sekali hal ini agar manusia bisa mengambil contoh teladan langsung dari
manusia yang hidup berdampingan di muka bumi. Profil manusia terlengkap ada di
beliau ﷺ, sosok pemimpin, ayah, anak,
guru, dan segala hal kebaikan terkumpul dalam diri beliau ﷺ. Artinya kalau seorang mengaku cinta Allah, maka
ikutilah segala sesuatunya dari A sampai Z soal Nabi Muhammad ﷺ, karena beliau sebaik-baik contoh manusia yang
pernah hidup di muka bumi ini.
Ya Allah ampuni hamba-Mu
yang zalim ini, yang tidak tahu caranya bersyukur kepada-Mu. Jadikan hamba
sebagai hamba-Mu yang bersyukur dan selalu bersyukur.