CAST
Agil as Pak Boas
Wira as Juhri
INTRO
Pak Boas sedang mengampu mata kuliah Sejarah Pranata
Uni Soviet di Ruang 424 Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
Jumlah mahasiswa 15 orang. Pak Boas mengajar dengan gaya semangat berapi-api.
Di mejanya terdapat beberapa buku referensi mata kuliah Sejarah Pranata Uni
Soviet dalam Bahasa Inggris. Beliau dikenal sebagai dosen yang fasih berbahasa
Inggris walaupun dengan aksen logat Batak. Maklum karena beliau memang berasal
dari Sumatera Utara.
Pak Boas memberikan tugas untuk membuat resume
mengenai Bolshevik, salah satu cikal bakal berdirinya Uni Soviet.
PAK BOAS
Saya kasih waktu kalian sampai pertemuan berikutnya
untuk mengerjakan tugas ini ya.
MAHASISWA
Iya, Pak.
KONFLIK
Ada satu mahasiswa bernama Juhri yang tidak mengerjakan
tugas yang diberikan oleh Pak Boas. Tugasnya sederhana yaitu membuat resume,
namun tidak sesederhana sebagaimana membuat tugas resume pada umumnya karena
mahasiswa harus terlebih dahulu mentranslasi dari sumber bacaan Bahasa Inggris
dalam jumlah banyak untuk kemudian dijadikan makalah.
Pak Boas menatap fokus ke arah Juhri. Lebih tepatnya
menghardik.
PAK BOAS
Mana tugasmu?
JUHRI
Anu, Pak. Saya… Anu… tidak mengerjakan, Pak.
PAK BOAS
Maksud Saudara tidak mengerjakan itu bagaimana? Apa
memang sama sekali tidak mengerjakan tugas yang saya berikan?
JUHRI
Iya, Pak. Maaf.
Juhri tertunduk seraya malu.
PAK BOAS
Saya paling benci dengan orang yang malas macam kau
ini.
Juhri diam. Pak Boas menunjuk dengan jari telunjuk
tangan kanannya dengan tegas ke arah Juhri. Sontak mahasiswa lain sedikit
tercengang dengan peristiwa itu.
Terjadi konflik batin dalam diri Juhri. Antara ingin
melawan Pak Boas atau pasrah menerima takdir dimarahi dengan cara yang tidak
diduga sebelumnya.
PAK BOAS
Kau tahu, dulu saya kuliah di Belanda waktu S2 sama
sekali nggak paham soal Bahasa Inggris. Tapi saya tidak nyerah gitu aja. Setiap
ketemu kata-kata yang tidak saya paham maka saya catat. Kemudian saya cari di
dalam kamus. Saya paling benci dengan mahasiswa malas macam kau ini. Saya lebih
suka dan menghargai mahasiswa yang bodoh namun dia mau berusaha.
JUHRI
Iya, Pak.
Saya minta maaf atas kesalahan saya. Dan saya pun
berjanji tak akan ulangi seperti ini lagi.
Beberapa bulan berlalu, Juhri berusaha menepati
janjinya. Dia belajar dengan keras terutama untuk mata kuliah Sejarah Pranata
Uni Soviet yang rujukannya Bahasa Inggris dan Rusia. Singkat cerita ketika
Ujian Tengah Semester berakhir, Juhri mendapat nilai tertinggi di kelas. Pujian
pun datang dari sang dosen pengampu, Pak Boas.
FASE 2
Dalam fase ini Juhri berusaha mengoreksi apa saja
kesalahan yang dia telah lakukan. Untuk itu dia berusaha untuk mencari kosakata
bahasa Inggris yang dia tidak mengerti di kamus. Dia pun aktif berdiskusi
dengan Pak Boas demi rasa keingintahuaanya yang besar.
PAK BOAS
Selamat!
Kamu dapat nilai tertinggi waktu UTS kemarin. Untuk
itu saya tugaskan kamu untuk persentasi pertama pasca UTS ini ya.
Saya kasih catatan untuk kamu, seandainya persentasimu
bagus nanti, maka saya akan kasih nilai A untukmu tanpa prasyarat harus ikut
Ujian Akhir Semester. Artinya adalah nilai UAS tidak berpengaruh pada nilai
akhirmu yang sudah pasti dapat A.
Juhri terperangah. Dia girang sekaligus bingung.
Kenapa bingung? Karena janji yang diberikan oleh Pak Boas memang sungguh di
luar dugaan.
PESAN MORAL.
Sesungguhnya Pak Boas hanya ingin agar mahasiswanya
melampaui beliau. Dosen atau guru adalah masa lalu sedangkan mahasiswa adalah
masa depan. Tidak ada kebahagiaan seorang dosen atau guru melainkan muridnya
dapat jauh melampaui dirinya. Itulah kebahagiaan dosen atau guru yang paling
utama, karena itulah bukti sukses dalam mendidik dan mengajar. Semua orang
dapat dengan mudah mengajar, namun tidak semua orang dapat mendidik. Mendidik
adalah membentuk sebuah karakter yang melibatkan kemampuan intelejensi emosi (emotional quotient) dan intelejensi
akademik (intelligent quotient) secara bersamaan. Hal ini membutuhkan waktu
panjang dan tidak dapat diraih dengan proses instan.
No comments:
Post a Comment