Friday, September 21, 2018

Script Film Pak Boas


CAST
Agil as Pak Boas
Wira as Juhri

INTRO
Pak Boas sedang mengampu mata kuliah Sejarah Pranata Uni Soviet di Ruang 424 Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Jumlah mahasiswa 15 orang. Pak Boas mengajar dengan gaya semangat berapi-api. Di mejanya terdapat beberapa buku referensi mata kuliah Sejarah Pranata Uni Soviet dalam Bahasa Inggris. Beliau dikenal sebagai dosen yang fasih berbahasa Inggris walaupun dengan aksen logat Batak. Maklum karena beliau memang berasal dari Sumatera Utara.
Pak Boas memberikan tugas untuk membuat resume mengenai Bolshevik, salah satu cikal bakal berdirinya Uni Soviet.

PAK BOAS
Saya kasih waktu kalian sampai pertemuan berikutnya untuk mengerjakan tugas ini ya.
MAHASISWA
Iya, Pak.

KONFLIK
Ada satu mahasiswa bernama Juhri yang tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh Pak Boas. Tugasnya sederhana yaitu membuat resume, namun tidak sesederhana sebagaimana membuat tugas resume pada umumnya karena mahasiswa harus terlebih dahulu mentranslasi dari sumber bacaan Bahasa Inggris dalam jumlah banyak untuk kemudian dijadikan makalah.
Pak Boas menatap fokus ke arah Juhri. Lebih tepatnya menghardik.
PAK BOAS
Mana tugasmu?
JUHRI
Anu, Pak. Saya… Anu… tidak mengerjakan, Pak.
PAK BOAS
Maksud Saudara tidak mengerjakan itu bagaimana? Apa memang sama sekali tidak mengerjakan tugas yang saya berikan?
JUHRI
Iya, Pak. Maaf.
Juhri tertunduk seraya malu.

PAK BOAS
Saya paling benci dengan orang yang malas macam kau ini.

Juhri diam. Pak Boas menunjuk dengan jari telunjuk tangan kanannya dengan tegas ke arah Juhri. Sontak mahasiswa lain sedikit tercengang dengan peristiwa itu.
Terjadi konflik batin dalam diri Juhri. Antara ingin melawan Pak Boas atau pasrah menerima takdir dimarahi dengan cara yang tidak diduga sebelumnya.

PAK BOAS
Kau tahu, dulu saya kuliah di Belanda waktu S2 sama sekali nggak paham soal Bahasa Inggris. Tapi saya tidak nyerah gitu aja. Setiap ketemu kata-kata yang tidak saya paham maka saya catat. Kemudian saya cari di dalam kamus. Saya paling benci dengan mahasiswa malas macam kau ini. Saya lebih suka dan menghargai mahasiswa yang bodoh namun dia mau berusaha.

JUHRI
Iya, Pak.
Saya minta maaf atas kesalahan saya. Dan saya pun berjanji tak akan ulangi seperti ini lagi.

Beberapa bulan berlalu, Juhri berusaha menepati janjinya. Dia belajar dengan keras terutama untuk mata kuliah Sejarah Pranata Uni Soviet yang rujukannya Bahasa Inggris dan Rusia. Singkat cerita ketika Ujian Tengah Semester berakhir, Juhri mendapat nilai tertinggi di kelas. Pujian pun datang dari sang dosen pengampu, Pak Boas.

FASE 2
Dalam fase ini Juhri berusaha mengoreksi apa saja kesalahan yang dia telah lakukan. Untuk itu dia berusaha untuk mencari kosakata bahasa Inggris yang dia tidak mengerti di kamus. Dia pun aktif berdiskusi dengan Pak Boas demi rasa keingintahuaanya yang besar.



PAK BOAS
Selamat!
Kamu dapat nilai tertinggi waktu UTS kemarin. Untuk itu saya tugaskan kamu untuk persentasi pertama pasca UTS ini ya.

Saya kasih catatan untuk kamu, seandainya persentasimu bagus nanti, maka saya akan kasih nilai A untukmu tanpa prasyarat harus ikut Ujian Akhir Semester. Artinya adalah nilai UAS tidak berpengaruh pada nilai akhirmu yang sudah pasti dapat A.

Juhri terperangah. Dia girang sekaligus bingung. Kenapa bingung? Karena janji yang diberikan oleh Pak Boas memang sungguh di luar dugaan.

PESAN MORAL.
Sesungguhnya Pak Boas hanya ingin agar mahasiswanya melampaui beliau. Dosen atau guru adalah masa lalu sedangkan mahasiswa adalah masa depan. Tidak ada kebahagiaan seorang dosen atau guru melainkan muridnya dapat jauh melampaui dirinya. Itulah kebahagiaan dosen atau guru yang paling utama, karena itulah bukti sukses dalam mendidik dan mengajar. Semua orang dapat dengan mudah mengajar, namun tidak semua orang dapat mendidik. Mendidik adalah membentuk sebuah karakter yang melibatkan kemampuan intelejensi  emosi (emotional quotient) dan intelejensi akademik (intelligent quotient) secara bersamaan. Hal ini membutuhkan waktu panjang dan tidak dapat diraih dengan proses instan.

Wednesday, September 12, 2018

Cintaku Tertinggal di Stasiun Palmerah


CAST
Alfit as Hafid
Tiara as Kasih
Directed by Gilar
Story by John Copelow

INTRO
Kasih adalah mahasiswi semester menengah salah satu kampus swasta ternama di Jakarta. Dia punya pacar seorang pengangguran swasta. Begitu kata sang pacar jika ditanya apa pekerjaannya. Singkat cerita mereka baru saja jadian. Iya jadian, layaknya sebuah hubungan dengan status antara resmi dan tidak resmi. Maksudnya tidak resmi karena tidak ada dokumen legal yang sah di mata hukum bahwasanya mereka telah resmi berpacaran. Nama pacarnya Hafid. Begitu dia biasa dipanggil.

Cerita bermula ketika Kasih dan Hafid yang baru saja jadian, sedang dimabuk asmara. Mereka berdua melintasi selatan Jakarta di atas roda dua dengan riang gembira. Tersebutlah nama Blok M sebagai tujuan mereka bercengkerama. Setelah janjian akhirnya mereka tiba di salah satu tempat makan ala anak muda tepatnya di Plaza Blok M.

Setelah asyik masyuk mereka bercengkerama, tibalah saatnya pulang ke rumah masing-masing. Kasih tinggal bersama tantenya di Bumi Serpong Damai, biasa disingkat BSD. Sedangkan Hafid tinggal bersama kedua orangtuanya di daerah Pulo Gadung Jakarta. Tiba saatnya bagi Hafid mengantar sang pujaan hati ke Stasiun Palmerah untuk lanjut naik kereta komuter ke Serpong.

Kasih sangat mengenal sifat Hafid sejak lama, karena mereka berdua terlibat cinta lokasi akibat sering bertemu di dunia maya tepatnya di blog. Hafid sifatnya memang suka iseng, apalagi kalau bonceng sepeda motor bersama cewek yang dia suka, pasti dia bikin sengaja salah jalan. Sepele, alasannya agar dia bisa ngobrol semakin lama. Kalau istilahnya Hafid yaitu tersesat di jalan yang lurus.

KONFLIK
Sepeda motor yang mereka tumpangi berdua salah jalan. Kasih marah-marah, atau lebih tepatnya ngamuk-ngamuk. Dia berceracau tak jelas dengan bahasa Indonesia yang bercampur aduk layaknya orang sedang marah. Hafid hanya diam. Dia memang tipe lelaki penyabar. Baginya marah tidak menyelesaikan masalah, hanya buang-buang energi.

KASIH
(!@#$%^&*() ----- Monolog tidak jelas. Marah-marah)
Apa aku bilang. Kamu itu gak pernah mau denger omonganku. Udah aku bilang tanya orang aja. Kamu pake sok-sok an nekat cari jalan. Begini kan akibatnya. Aku bisa terlambat.
HAFID
(Diam)

Singkat cerita setelah Hafid sempat mampir di SPBU untuk mengisi bensin, maka sampailah mereka di tujuan, Stasiun Palmerah. Lantas Kasih langsung spontan turun dari sepeda motor Hafid seraya masih jengkel akibat kelakuan Hafid. Namun tanpa disangka, Kasih melakukan sebuah tindakan fatal, alias blunder, dia masih mengenakan helm milik Hafid. Walhasil Hafid sebenarnya ingin ketawa lepas namun karena demi menjaga perasaan Kasih, dia masih tetap diam. Pun begitu sebenarnya Kasih ingin tertawa. Iya, menertawakan kebodohannya sendiri karena sebuah benda bernama helm.

Akhirnya Kasih pun masuk ke dalam stasiun. Lantas tanpa pikir panjang Hafid langsung menancap gas sepedamotornya, dia pacu dengan kencang. Kasih pun bermonolog. Bertanya dalam hati apa maksud pujaan hatinya tersebut. Apakah dia marah atau apalah itu. Seketika muncul banyak pertanyaan di benaknya.

Ternyata Hafid tidak pergi. Dia hanya memutar untuk kemudian parkir di seberang stasiun. Kemudian Hafid masuk stasiun. Di sinilah terjadi konflik kedua.

ENDING
Hafid duduk mendekati Kasih yang lebih dahulu duduk di bangku stasiun. Dia hanya diam, diam, dan diam. Kasih pun ikut diam. Tiba-tiba Hafid mengulurkan tangan kanannya ke arah Kasih. Awalnya Kasih hanya menoleh. Terjadi dialog singkat. Hafid akhirnya buka suara seraya tersenyum simpul.

HAFID
Maafin aku ya. Aku salah.

KASIH
Iya. Aku juga.

================================================================
Based on True Story on Kasihelia’s Blog

sebenernya gue tuh cuma bayi jelek egois yang melindungi diri dengan balutan kostum wanita dewasa yang (sok) pengertian.

ketakutan gue akan kesakitan, luka akibat penerimaan yang mengecewakan, dan kekecewaan karena ditinggal sendirian, membuat gue, tanpa sadar, membentengi diri. 
Menjadi wanita 'tinggi' yang susah disentuh. Biar, gak perlu ada yang nyakitin gue.

tapi dia, belenggang dateng, curhat seenaknya, gantengnya keterlaluan, ngegodanya berlebihan.
hati gue gak tahan kan jadinya.

padahal dia itu tipe yang paling gue hindarin banget. tipe yang kadang bisa dan kadang gak bisa gue analisa. sebagian dirinya begitu mudah ditebak, tapi sebagiannya begitu meledak-ledak.

dia tipe yang paling berbahaya buat hati gue. beracun, candu, dan gak sopan karena bisa ngaduk-ngaduk perasaan gue seenaknya...


==========================

gue emang orangnya egois dan seenaknya. gue pengen nyoba aja sejauh mana dia bisa sabar sih sama gue. abis dia duluan yang dateng dan bilang dengan pedenya, "aku bisa!"
dan ketika pada akhirnya dia kehabisan kesabaran, gue cuma bisa berkata, "Sial, udah terlanjur gak bisa lepas dari dia..." 

lagian ngapain dia goda gue pake bibirnya, pake cerita-ceritanya, pake perhatiannya, pake ke-masa bodo-annya, pake kebegoannya, pake kepolosannya, pake kemarahannya, pake kebaikannya, pake kesabarannya, pake ...ahhh semuanya lah....gue cinta...

gue pernah ngambek,... gue pengen liat sejauh apa dia bisa sabar. sebates ngambek, dia keliatannya bisa diandelin buat ngerayu hati gue yang panasan.

gue pernah marah..... kayak pas kejadian di stasiun kereta, sebenernya pas turun dari motor dia, gue udah bener-bener marah dan bertekad gak mau naik motor sama dia lagi. gue suruh dia pergi sementara gue masuk ke stasiun. sesekali gue ngeliat ke parkiran di peron seberang. sedikit berharap dia muncul sih, tapi gue saat itu udah bener-bener antipati, melukai hati sendiri dan berusaha gak peduli mau dia datengin gue lagi atau enggak.

dan ternyata dia dateng...

SUMPAH! Gue pikir, dia dateng mau maki-maki gue. Yah minimal nanya lah, "Apa maksud lo turun dari motor gue gitu aja?"
Ternyata, dia ...................................minta maaf. :|
Gimana gue gak makin tersentuh, siaaal!

tapi memang waktu itu dia yang salah sih. maksud gue kan bener-bener ngekhawatirin keselamatan dianya. 
gue ngerti banget adat dia kalo jalan pasti ada deh melenceng2 dikit. paling sedikit 2 kali puter balik karena (sengaja) salah jalan. pedenya gue sih, ngira dia begitu supaya lebih lama ngebonceng gue. 

Nah, maka dari itu, waktu itu gue sngaja ngajak pulang jam 4 perihal gue ngerti dia banget. Dari blok m ke palmerah kalau nyantai itu setengah jam lebih dikit bisa lah..tapi adat doi yang suka ke jalan-jalan aneh itu bikin gue harus ngelebihin perkiraan waktu.. dan memang bener, di jalan pasti ada yang aneh2 yang menghambat perjalanan. tapi doi ga ngerti itu. gue jadi gemes kan, ya marah lah jadinya... 

gue cuma minta sedikit kok dari dia, salah satunya supaya dia jaga diri,...supaya dia sehat terus, selamat di jalan.. dan one day, bisa ketemu gue lagi gitu..
untunglah, dengan sedikit pengertian, doi mau ngerti..
gue bahagia banget waktu itu, bisa berantem, berdebat, dan baikan lagi layaknya bestfriend. karena menurut gue, itulah cinta.

menurut gue, cinta dan pernikahan itu adalah tentang mengganggu orang yang spesial di hidup kita, tanpa takut kehilangan jati diri kita. which means, pasangan itu harus bisa jadi kakak, adek, orang tua, sahabat, dan kekasih sekaligus.

gue belum sempurnalah.
gue belum bisa seperti itu.
tapi gue berusaha, karena gue mau ngebahagiain dia.


===============================

gue gak tahu gimana dengan dia.
apa gue cuma ujung jalur puter balik yang dia ambil atau apa.
yang jelas, dia udah punya arti banget di hidup gue semenjak kita pertama kali jalan.
mati-matian gue tahan, mati-matian gue sabarin, waktu dia cerita tentang si X atau si Y.. berusaha gue terus ngejaga motivasi gue tetep tulus ngebantu dia dan kehidupan percintaannya, sampe akhirnya kita berdua ketemu lagi di lain kesempatan dan membawa perubahan yang drastis begini. 

membawa pulang cetakan racun bibir yang bikin rindu setengah mati. aku demam. demam cinta.

===================================

sekarang gue lagi introspeksi. 
apa lagi yang kurang, yang perlu gue perbaiki.
dan pas introspeksi tadi, gue tiba-tiba kepengen nulis beginian.
semoga dia gak ke sini dulu sampe 200 tahun lagi biar ga usah ngeliat ini tulisan.