Sunday, December 6, 2015

Perjalanan Entah Kemana



Suatu hari di kantor, waktu menunjukkan pukul 18. Saya bergegas mengambil air wudhu kemudian menuju masjid. Di tengah perjalanan, saya melewati ruangan kantor yang telah sepi. Penyejuk ruangan (AC) telah dimatikan. Beberapa lampu utama pun telah dipadamkan. Suasana agak sejuk dan gelap langsung menyeruak.

Dalam keheningan itu, saya jadi bertanya dalam hati. Seperti apa nanti jika saya telah wafat, pergi meninggalkan dunia ini. Ruangan apa yang akan saya lewati. Apa ada penyejuk ruangannya? Lampunya? Lantas apakah sepi seperti ini? Kemana manusia yang biasa hidup bersama saya? Berondongan pertanyaan langsung terlintas di pikiran saya mengenai sebuah perjalanan setelah hidup di dunia ini.

Satu per satu bayangan mengenai hidup setelah kematian itu menggelayuti benak saya. Gambaran mengerikan tentang sosok malaikat munkar nakir sang penanya alam kubur seolah semakin nyata di saat itu. Belum ada manusia yang pernah melihat senjata yang dibawa malaikat penjaga alam kubur. Masalahnya, kalau di dunia ada manusia yang tertembak pistol atau dipenggal kepalanya langsung mati, lantas bagaimana dengan alam kubur? Ini pertanyaan yang mengganggu pikiran saya. Karena tidak ada kematian setelah kematian. Artinya kalau kepala saya ditembak AK-47 oleh malaikat kubur lalu saya mati, otomatis saya akan hidup lagi, untuk kemudian ditembak, mati, hidup lagi, begitu seterusnya siksaan yang saya dapat.

Kemudian saya teringat sebuah ayat dari kitab suci Alquran: “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal” (Al Baqarah: 197). Tak ada bekal terbaik kecuali taqwa. Dan Allah menyandingkan perihal taqwa dengan akal. Taqwa tidak mungkin dapat diraih kecuali dengan akal yang sehat bebas dari kesyirikan, bid’ah, dan penyakit hati. Dan di ayat itu Allah memanggil orang yang menggunakan akalnya demi meraih ketaqwaan.

Saya jadi membayangkan manusia yang mudik di hari Lebaran. Beramai-ramai, berbondong-bondong manusia saling berebut untuk bisa kembali ke kampung halaman. Masing-masing membawa bekal di perjalanan dan juga untuk dibagikan kepada sanak kerabat handai taulan di kampung. Jauhnya jarak perjalanan tidak mereka hiraukan, asal dapat berkumpul dengan keluarga di kampung. Waktu mereka korbankan di jalan, berjibaku dengan sesama pemudik lain. Letih lelah lesu tak dapat menggoyahkan semangat untuk bisa kembali pulang setelah sibuk oleh urusan di kota. Tak jarang ada korban jiwa dalam ritual mudik tiap tahun.

Padahal yang demikian hanyalah mudik di dunia. Bagaimana dengan mudik ke kampung halaman keabadian yang bernama kampung akhirat? Orang berakal pasti menggunakan akalnya untuk sesuatu yang paling agung dan paling berharga, yaitu pulang ke akhirat yang merupakan satu keniscayaan sebagai konsekuensi atas manusia yang hidup di dunia. Percayalah, kampung akhirat itu jaraknya amat sangat jauh. Karena belum pernah ada manusia yang bisa kembali pulang ke dunia setelah dia pergi meninggalkannya. Untuk itu pastilah kita butuh perbekalan dan persiapan yang tidak main-main. Kalau lah untuk mudik di dunia saja kita siapkan uang, makanan, minuman, peta, GPS. Maka sudah selayaknya kita siapkan perbekalan serta navigasi yang baik agar kita tidak tersesat ketika pulang ke kampung akhirat.

Kalau di dunia mungkin saya bisa pulang kampung ketika terang benderang karena ada sinar matahari. Lantas bagaimana nanti kalau saya pulang ke kampung akhirat?