Suatu hari di kantor, waktu
menunjukkan pukul 18. Saya bergegas mengambil air wudhu kemudian menuju masjid.
Di tengah perjalanan, saya melewati ruangan kantor yang telah sepi. Penyejuk
ruangan (AC) telah dimatikan. Beberapa lampu utama pun telah dipadamkan.
Suasana agak sejuk dan gelap langsung menyeruak.
Dalam keheningan itu, saya
jadi bertanya dalam hati. Seperti apa nanti jika saya telah wafat, pergi
meninggalkan dunia ini. Ruangan apa yang akan saya lewati. Apa ada penyejuk
ruangannya? Lampunya? Lantas apakah sepi seperti ini? Kemana manusia yang biasa
hidup bersama saya? Berondongan pertanyaan langsung terlintas di pikiran saya
mengenai sebuah perjalanan setelah hidup di dunia ini.
Satu per satu bayangan
mengenai hidup setelah kematian itu menggelayuti benak saya. Gambaran
mengerikan tentang sosok malaikat munkar nakir sang penanya alam kubur seolah
semakin nyata di saat itu. Belum ada manusia yang pernah melihat senjata yang
dibawa malaikat penjaga alam kubur. Masalahnya, kalau di dunia ada manusia yang
tertembak pistol atau dipenggal kepalanya langsung mati, lantas bagaimana
dengan alam kubur? Ini pertanyaan yang mengganggu pikiran saya. Karena tidak
ada kematian setelah kematian. Artinya kalau kepala saya ditembak AK-47 oleh
malaikat kubur lalu saya mati, otomatis saya akan hidup lagi, untuk kemudian
ditembak, mati, hidup lagi, begitu seterusnya siksaan yang saya dapat.
Kemudian saya teringat sebuah
ayat dari kitab suci Alquran: “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal
adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal” (Al
Baqarah: 197). Tak ada bekal terbaik kecuali taqwa. Dan Allah menyandingkan
perihal taqwa dengan akal. Taqwa tidak mungkin dapat diraih kecuali dengan akal
yang sehat bebas dari kesyirikan, bid’ah, dan penyakit hati. Dan di ayat itu
Allah memanggil orang yang menggunakan akalnya demi meraih ketaqwaan.
Saya jadi membayangkan manusia
yang mudik di hari Lebaran. Beramai-ramai, berbondong-bondong manusia saling
berebut untuk bisa kembali ke kampung halaman. Masing-masing membawa bekal di
perjalanan dan juga untuk dibagikan kepada sanak kerabat handai taulan di
kampung. Jauhnya jarak perjalanan tidak mereka hiraukan, asal dapat berkumpul
dengan keluarga di kampung. Waktu mereka korbankan di jalan, berjibaku dengan sesama
pemudik lain. Letih lelah lesu tak dapat menggoyahkan semangat untuk bisa
kembali pulang setelah sibuk oleh urusan di kota. Tak jarang ada korban jiwa
dalam ritual mudik tiap tahun.
Padahal yang demikian hanyalah
mudik di dunia. Bagaimana dengan mudik ke kampung halaman keabadian yang
bernama kampung akhirat? Orang berakal pasti menggunakan akalnya untuk sesuatu
yang paling agung dan paling berharga, yaitu pulang ke akhirat yang merupakan
satu keniscayaan sebagai konsekuensi atas manusia yang hidup di dunia. Percayalah,
kampung akhirat itu jaraknya amat sangat jauh. Karena belum pernah ada manusia
yang bisa kembali pulang ke dunia setelah dia pergi meninggalkannya. Untuk itu
pastilah kita butuh perbekalan dan persiapan yang tidak main-main. Kalau lah
untuk mudik di dunia saja kita siapkan uang, makanan, minuman, peta, GPS. Maka sudah
selayaknya kita siapkan perbekalan serta navigasi yang baik agar kita tidak
tersesat ketika pulang ke kampung akhirat.
Kalau di dunia mungkin saya
bisa pulang kampung ketika terang benderang karena ada sinar matahari. Lantas bagaimana
nanti kalau saya pulang ke kampung akhirat?