Mari
sejenak kita tidak berpikir yang jelimet. Sebut saja kita membayangkan tentang
kampus. Bagi sebagian orang yang pernah mengenyam pendidikan tinggi, tentunya
tak asing lagi dengan kampus. Iya, kampus tempat pertemuan dosen, mahasiswa,
yang sama-sama bertujuan satu yaitu pendidikan, dalam halnya mengangkat
kebodohan dan kejahilan dari diri manusia yang merupakan sifat bawaan sejak
lahir. Bicara soal kampus, hampir semua kota besar di Indonesia telah memiliki
kampus, paling tidak sebagai syarat disebut sebagai kota besar. Tengoklah
seperti di Jakarta, ibukota negara ini, atau Bandung yang Paris-nya Jawa, pun
Yogyakarta mantan ibukota negara tercinta ini. Saya sengaja ambil contoh
tersebut sebagai gambaran kota besar yang selalu berkutat pada macet,sampah,
dan kepadatan penduduk.
Jika
ingin dianalogikan, kampus itu ibarat pasar. Terdapat barang/jasa yang
diperjualbelikan dengan akad disertai alat tukar, sebut saja uang. Ada penjual
yang diwakili oleh pihak kampus meliputi dosen, staf akademik, staf keuangan,
klining serpis, penjaga kantin, dan lain sejenisnya. Adapun pembeli diwakili
oleh mahasiswa mahasiswi dari berbagai penjuru daerah yang sanggup membayar
harga yang ditawarkan oleh penjual yaitu pihak kampus. Bermacam paket yang
ditawarkan yakni ada diploma, strata 1, 2, dan 3, spesialis, profesi, dan
vokasi. Masing-masing paket memiliki kekhususan dari segi harga maupun konten. Ya
sebut saja paket-paket tersebut itu barang dagangan yang berupa jasa, walau
pada akhirnya inti dari semua itu berupa hitam di atas putih setidaknya 2
lembar kertas berupa ijazah dan transkrip nilai.
Kalau
dipikir secara rinci sampai mumet, kuliah itu memang sesuatu yang edan. Betapa
tidak, sudah capek-capek menempuh masa studi sekian tahun lamanya, pada
ujungnya cuma diberi lembaran kertas tersebut di atas tadi. Tapi lagi-lagi
tidak sesederhana yang demikian, artinya ada proses yang melahirkan bermacam
kenangan di dalamnya. Boleh jadi Anda yang pernah kuliah di Universitas
Indonesia pada awal tahun 2000-an, contohnya, pasti pernah punya kenangan
dengan pedagang kios Stasiun Universitas Indonesia (UI). Mengingat pada awal
tahun 2013 terjadi penggusuran masif dan komperhensif terhadap seluruh stasiun
kereta milik PT KAI, dan Stasiun UI termasuk di dalamnya.
Saya
punya kenangan dengan si bapak penjual asongan yang punya kios di Stasiun UI.
Beliau banyak cerita celoteh ini itu soal kehidupan. Pun saya berhutang budi
pada si abang penjaga kios printer di sebelahnya. Betapa tidak hampir seluruh
tugas yang saya buat ketika itu ujungnya saya eksekusi di tempat itu, maksudnya
saya prin; saya cetak dan saya bayar tentunya. Teman saya yang namanya tidak
ingin disebut pernah mengungkapkan bahwa mahasiswa UI berhutang budi pada pedagang
di Stasiun UI. Betul. Saya pun mengiyakan tanpa pikir panjang.
Bergeser
agak jauh sekitar 500km ke timur ada cerita yang tidak kalah menariknya. Iya
sebutlah Yogyakarta. Kota yang juga punya kenangan tersendiri bagi saya. Kota
pelajar yang telah melahirkan berbagai profesi dari mulai dosen sampai seniman
ini memang selalu membuat saya kangen. Tak ayal saya menyematkan sebutan ‘mantan
terindah’ macam judul lagunya Raisa, untuk kota yang dipimpin oleh Sultan
Hamengku Bawono X sebagai pewaris terakhir tahta Kerajaan Mataram Islam ini.
Namun
di tengah hingar bingar kota yang berpredikat daerah istimewa yang satu ini
ternyata tak dapat dilepaskan dari peran kampus. Tak dapat disangkal bahwa
sederet nama kampus beken di Jogja memang telah membawa keramaian di kota
pelajar ini. Mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia berkumpul di Jogja untuk
berbagai kepentingan. Maka tak heran kalau dimanapun di sudut kota ini kita
dapat menemui warung, stasiun, bandara, terminal, yang isinya mahasiswa dan
mahasiswi wara-wiri ke sana kemari. Mereka sibuk membuat kenangan dan sejarah
di kota sekaligus propinsi ini.
Bayangkan
pula berapa rupiah yang berputar dan mengalir di kota ini. Memang jumlahnya
tidak besar namun yang pasti ada. Berkah kampus telah memberi hadiah bagi
Yogyakarta untuk setangkup rindu ala Kla Project. Maka patut dan sudah selayaknya
bagi saya untuk mengucapkan terimakasih pada kampus yang telah memberi banyak
kenangan manis dan pahit, serta sejarah yang tidak terulang di masa depan.
Teriring salam dan doa untukmu mantan terindah. Yogyakarta.