Wednesday, September 30, 2015

Terimakasih, Kampus!



Mari sejenak kita tidak berpikir yang jelimet. Sebut saja kita membayangkan tentang kampus. Bagi sebagian orang yang pernah mengenyam pendidikan tinggi, tentunya tak asing lagi dengan kampus. Iya, kampus tempat pertemuan dosen, mahasiswa, yang sama-sama bertujuan satu yaitu pendidikan, dalam halnya mengangkat kebodohan dan kejahilan dari diri manusia yang merupakan sifat bawaan sejak lahir. Bicara soal kampus, hampir semua kota besar di Indonesia telah memiliki kampus, paling tidak sebagai syarat disebut sebagai kota besar. Tengoklah seperti di Jakarta, ibukota negara ini, atau Bandung yang Paris-nya Jawa, pun Yogyakarta mantan ibukota negara tercinta ini. Saya sengaja ambil contoh tersebut sebagai gambaran kota besar yang selalu berkutat pada macet,sampah, dan kepadatan penduduk.
Jika ingin dianalogikan, kampus itu ibarat pasar. Terdapat barang/jasa yang diperjualbelikan dengan akad disertai alat tukar, sebut saja uang. Ada penjual yang diwakili oleh pihak kampus meliputi dosen, staf akademik, staf keuangan, klining serpis, penjaga kantin, dan lain sejenisnya. Adapun pembeli diwakili oleh mahasiswa mahasiswi dari berbagai penjuru daerah yang sanggup membayar harga yang ditawarkan oleh penjual yaitu pihak kampus. Bermacam paket yang ditawarkan yakni ada diploma, strata 1, 2, dan 3, spesialis, profesi, dan vokasi. Masing-masing paket memiliki kekhususan dari segi harga maupun konten. Ya sebut saja paket-paket tersebut itu barang dagangan yang berupa jasa, walau pada akhirnya inti dari semua itu berupa hitam di atas putih setidaknya 2 lembar kertas berupa ijazah dan transkrip nilai.
Kalau dipikir secara rinci sampai mumet, kuliah itu memang sesuatu yang edan. Betapa tidak, sudah capek-capek menempuh masa studi sekian tahun lamanya, pada ujungnya cuma diberi lembaran kertas tersebut di atas tadi. Tapi lagi-lagi tidak sesederhana yang demikian, artinya ada proses yang melahirkan bermacam kenangan di dalamnya. Boleh jadi Anda yang pernah kuliah di Universitas Indonesia pada awal tahun 2000-an, contohnya, pasti pernah punya kenangan dengan pedagang kios Stasiun Universitas Indonesia (UI). Mengingat pada awal tahun 2013 terjadi penggusuran masif dan komperhensif terhadap seluruh stasiun kereta milik PT KAI, dan Stasiun UI termasuk di dalamnya.
Saya punya kenangan dengan si bapak penjual asongan yang punya kios di Stasiun UI. Beliau banyak cerita celoteh ini itu soal kehidupan. Pun saya berhutang budi pada si abang penjaga kios printer di sebelahnya. Betapa tidak hampir seluruh tugas yang saya buat ketika itu ujungnya saya eksekusi di tempat itu, maksudnya saya prin; saya cetak dan saya bayar tentunya. Teman saya yang namanya tidak ingin disebut pernah mengungkapkan bahwa mahasiswa UI berhutang budi pada pedagang di Stasiun UI. Betul. Saya pun mengiyakan tanpa pikir panjang.
Bergeser agak jauh sekitar 500km ke timur ada cerita yang tidak kalah menariknya. Iya sebutlah Yogyakarta. Kota yang juga punya kenangan tersendiri bagi saya. Kota pelajar yang telah melahirkan berbagai profesi dari mulai dosen sampai seniman ini memang selalu membuat saya kangen. Tak ayal saya menyematkan sebutan ‘mantan terindah’ macam judul lagunya Raisa, untuk kota yang dipimpin oleh Sultan Hamengku Bawono X sebagai pewaris terakhir tahta Kerajaan Mataram Islam ini.
Namun di tengah hingar bingar kota yang berpredikat daerah istimewa yang satu ini ternyata tak dapat dilepaskan dari peran kampus. Tak dapat disangkal bahwa sederet nama kampus beken di Jogja memang telah membawa keramaian di kota pelajar ini. Mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia berkumpul di Jogja untuk berbagai kepentingan. Maka tak heran kalau dimanapun di sudut kota ini kita dapat menemui warung, stasiun, bandara, terminal, yang isinya mahasiswa dan mahasiswi wara-wiri ke sana kemari. Mereka sibuk membuat kenangan dan sejarah di kota sekaligus propinsi ini.
Bayangkan pula berapa rupiah yang berputar dan mengalir di kota ini. Memang jumlahnya tidak besar namun yang pasti ada. Berkah kampus telah memberi hadiah bagi Yogyakarta untuk setangkup rindu ala Kla Project. Maka patut dan sudah selayaknya bagi saya untuk mengucapkan terimakasih pada kampus yang telah memberi banyak kenangan manis dan pahit, serta sejarah yang tidak terulang di masa depan. Teriring salam dan doa untukmu mantan terindah. Yogyakarta.

Thursday, September 24, 2015

Lambang Negara Republik Berak Lancar


Oleh Tri Shubhi Abdillah

Dari bicara ke bicara, dari gelas kopi sampai gelas teh, kita telah sampai pada kesimpulan bahwa makanan terbaik bagi kita-kita orang adalah pepaya. Fungsi-fungsi alami pepaya penting bagi elan vital kehidupan berbangsa.
Ditemukannya bio-gas makin mengukuhkan peran penting pepaya dalam menjaga keseimbangan hidup berbangsa. Kandungan serat dalam pepaya dan sifatnya yang mengademkan jeroan sangat penting dalam memperlancar pencernaan. Mempermudah prosesi buang hajat. 

Kedaulatan buang hajat dalam hidup bernegara musti dijaga sejak kini. Kotoran manusia ialah sumber energi terbarukan yang tak akan habis. Jangan sampai itu dikuasai oleh asing. Jangan biarkan perusahaan-perusahaan bio-gas dari Amerika, Cina, Saudi, Jepang, Jerman dan lain-lain menguasai dan memonopoli kotoran kita. Kita musti sadar, lakunya obat-obat masuk angin di negeri kita menunjukan kandungan gas alami yang sangat potensial jika diolah dengan baik. Bangsa yang sering masuk angin pada hakikatnya adalah bangsa yang beruntung. Memiliki sumber daya terbarukan mutu nomor satu. Oleh karena itu, kita harus berdaulat atas kotoran kita sendiri.

Di masa depan, ribuan mega kilo bahan bakar berbahan dasar kotoran akan menjadi penyelamat manusia dari krisis minyak bumi dan listrik tak terbarukan. Oleh karena itu, mari kita budayakan makan pepaya dan membudidayakan pepaya. Demi kedaulatan negri ini. Jangan sampai hajat kita yang paling intim dan sangat dekat itu dikuasai oleh asing.

Dan ini lah lambang republik kita setelah diperbaharui alakadarnya, Republik Berak Lancar..,