Saturday, May 2, 2015

Cintaku Tertinggal di Kancut Itu: Prolog


Prolog

Aku tak menyesal atas apa yang sudah terjadi. Gerangan cinta memang tidak bisa ditebak macam orang berjudi dengan koin yang peluangnya hanya 50:50. Fifty fifty kalau bahasa anak sekarangnya. Bagiku cinta itu ya mengalir apa adanya. Eh gak sih itu mah terlalu klise. Ralat deh. Bagiku cinta itu mengalor-ngidul apa adanya. Gak ada definisi baku soal cinta. Mbah Albert Einstein yang kata orang otaknya jenius saja gak punya rumus buat menjabarkan apa yang disebut dengan CINTA. Nah apalagi aku yang cuma tamatan SMA, walau sekarang lagi kuliah. Haha. Ya begitulah cinta yang deritanya tiada akhir, kata Sun Pat Kay dalam cerita Kera Sakti. Kalau ada akhirnya mah nanti filmnya habis dong. Terus penontonnya bubar.

Cinta mampu menembus batas. Walau memang sih gak bisa menembus wings pembalut kalau pas aku lagi dapet. Becanda. Maaf kalau aku kelewatan. Maksudku cinta bisa mempersatukan manusia yang dulunya sering berantem bahkan jadi musuh utama hingga jadi satu. Iya sih jadi satu maksudnya bukan fisiknya tapi ya kalau meminjam istilah politik jaman sekarang sih menyatukan visi dan misi. Ceileh. Kenapa? Gak suka ya kalau aku ngomong soal politik. Bilang aja kalau politik itu kotor. Ah gak juga tuh. Politikus yang katanya jorok kayak tikus aja punya cinta. Walau cintanya itu karena kepentingan. Istilahkan saja: cinta kepentingan.

Nah sekiranya nanti aku bertemu si anu di linimasa hidupku kelak, aku gak akan menyesal. Malahan sabar ya buat yang gak dapat aku mention. Hahaha. Sok pede. Bahasamu itu lho nak si mbah ndak ngerti, begitu kata si mbahku yang putri. Maklum beliau kan gak pernah tahu yang namanya Twitter. Gini lho, maksudku siapa saja yang bisa jadi teman hidupku aku akan jadi teman hidupnya. Mengabdi untuknya atau lebih pasnya yaitu berkhidmat untuknya sampai waktu yang tidak ditentukan. Saling memberi dan menerima. Begitu bahasa santun dan ringkasnya.
  

----------------------------------------------------------------------------------------------------
Kami baku tindih.
Ah tidak. Kenapa badanku malah semakin semangat, bukannya malah menolak. Entah ada kekuatan gaib dari mana hingga bikin aku cuma terpana sekaligus berapi-api ingin baku cium dengan lelaki yang ada di depan bibirku ini. Ibarat penonton yang punya tugas ya cuma untuk menonton tanpa boleh komentar barang sedikitpun. Gila, pikirku. Siapa pula manusia berjenis kelamin laki-laki yang dengan seenaknya bisa merampas bibirku ini. Sekonyong-konyong badanku secara reflex mengikuti fitrahnya. Kami baku peluk.

Aku gak munafik. Aku sadar aku cuma manusia yang tergadai atas fitrahnya. Apalagi aku wanita yang katanya sebagai si tulang rusuk yang hilang dari laki-laki. Kalau bahasaku sih tulang rusuk yang masih nyelip dan akan terus setia nyelip.

Oh iya aku lupa, sebelum aku semakin lupa, amit-amit jadi pikun. Kenalkan namaku Sarinah. Gak keren ya? Aku sendiri merasa begitu. Namaku gak gaul.


Bersambung…

No comments:

Post a Comment