Prolog
Aku
tak menyesal atas apa yang sudah terjadi. Gerangan cinta memang tidak bisa
ditebak macam orang berjudi dengan koin yang peluangnya hanya 50:50. Fifty
fifty kalau bahasa anak sekarangnya. Bagiku cinta itu ya mengalir apa adanya.
Eh gak sih itu mah terlalu klise. Ralat deh. Bagiku cinta itu mengalor-ngidul
apa adanya. Gak ada definisi baku soal cinta. Mbah Albert Einstein yang kata
orang otaknya jenius saja gak punya rumus buat menjabarkan apa yang disebut
dengan CINTA. Nah apalagi aku yang cuma tamatan SMA, walau sekarang lagi
kuliah. Haha. Ya begitulah cinta yang deritanya tiada akhir, kata Sun Pat Kay
dalam cerita Kera Sakti. Kalau ada akhirnya mah nanti filmnya habis dong. Terus
penontonnya bubar.
Cinta
mampu menembus batas. Walau memang sih gak bisa menembus wings pembalut kalau pas aku lagi dapet. Becanda. Maaf kalau aku
kelewatan. Maksudku cinta bisa mempersatukan manusia yang dulunya sering
berantem bahkan jadi musuh utama hingga jadi satu. Iya sih jadi satu maksudnya
bukan fisiknya tapi ya kalau meminjam istilah politik jaman sekarang sih
menyatukan visi dan misi. Ceileh. Kenapa? Gak suka ya kalau aku ngomong soal
politik. Bilang aja kalau politik itu kotor. Ah gak juga tuh. Politikus yang
katanya jorok kayak tikus aja punya cinta. Walau cintanya itu karena
kepentingan. Istilahkan saja: cinta kepentingan.
Nah
sekiranya nanti aku bertemu si anu di linimasa hidupku kelak, aku gak akan
menyesal. Malahan sabar ya buat yang gak dapat aku mention. Hahaha. Sok pede.
Bahasamu itu lho nak si mbah ndak ngerti, begitu kata si mbahku yang putri.
Maklum beliau kan gak pernah tahu yang namanya Twitter. Gini lho, maksudku
siapa saja yang bisa jadi teman hidupku aku akan jadi teman hidupnya. Mengabdi
untuknya atau lebih pasnya yaitu berkhidmat untuknya sampai waktu yang tidak
ditentukan. Saling memberi dan menerima. Begitu bahasa santun dan ringkasnya.
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Kami
baku tindih.
Ah
tidak. Kenapa badanku malah semakin semangat, bukannya malah menolak. Entah ada
kekuatan gaib dari mana hingga bikin aku cuma terpana sekaligus berapi-api
ingin baku cium dengan lelaki yang ada di depan bibirku ini. Ibarat penonton
yang punya tugas ya cuma untuk menonton tanpa boleh komentar barang sedikitpun.
Gila, pikirku. Siapa pula manusia berjenis kelamin laki-laki yang dengan
seenaknya bisa merampas bibirku ini. Sekonyong-konyong badanku secara reflex
mengikuti fitrahnya. Kami baku peluk.
Aku
gak munafik. Aku sadar aku cuma manusia yang tergadai atas fitrahnya. Apalagi
aku wanita yang katanya sebagai si tulang rusuk yang hilang dari laki-laki.
Kalau bahasaku sih tulang rusuk yang masih nyelip dan akan terus setia nyelip.
Oh
iya aku lupa, sebelum aku semakin lupa, amit-amit jadi pikun. Kenalkan namaku
Sarinah. Gak keren ya? Aku sendiri merasa begitu. Namaku gak gaul.
Bersambung…
No comments:
Post a Comment