Monday, May 11, 2015

Cintaku Tertinggal di Kancut Itu: Inah Pelayan Seksi



Memang namaku kelihatan kampungan walau sekilas tampak kota. Soalnya kamu pasti tahu dong, nama pusat perbelanjaan pertama di Jakarta. Kemarin pas Obama datang ke Jakarta dia kan sempat nyebut soal ini. Maklum saja jaman itu kan pusat perbelanjaan belum ramai seperti sekarang. Alih-alih waktu aku tanya orangtua soal namaku, mereka jawab sih gitu. Nama yang mentereng waktu itu ya Sarinah. Jadilah namaku Sarinah Lestari. Perkara sukukata yang kedua ini, bapakku rupanya tergila-gila sama penyanyi Gombloh dengan lagunya Berita Cuaca. Di lagu itu kan ada kata lestari-nya. Lestari alamku lestari pacarku, gitu bapak menirukan. Hahaha. 

Bapakku orangnya rada nyentrik. Aku banyak berguru dari beliau. Nah balik ke soal namaku ini, ada yang mengganjal diriku. Soalnya waktu SD dulu temanku sering mengejek dengan panggil aku: Inah. Mereka bilang itu nama pembantu rumah tangga yang ngetren kala itu. Sial. Padahal kan guru-guruku panggil aku dengan Sari. Atau kalau di rumah aku dipanggil singkat saja, Rin. Oh iya waktu jaman SMA juga aku sering diejek gini. Inah Pelayan Seksi. Kalau ini maklum lah karena bentuk tubuhku waktu itu memang sudah aduhai. Saat itu aku merasa ejekan itu sekaligus pujian, makanya aku tanggapi dengan santai macam artis jaman sekarang kalau lagi kena badai gosip. Sok elegan padahal aslinya nyinyir kepo.

Aku anak pertama perempuan, adikku laki. Makanya aku amat disayang orangtua. Maklum lah aku pun bisa paham mengapa mereka begitu overprotektif kepadaku. Yang disebut belakangan ini aku pahami setelah aku lulus SMA. Aku jadi makin peka soal perasaan terutama yang menyangkut orangtua. Bisa jadi ini akibat pergaulanku yang banyak berteman dengan orang usia lebih tua, maksudnya dewasa. Soalnya aku sering debat dengan temanku soal kata tua dan dewasa. Menurutku kata dewasa lebih bermakna ke pada pemikiran ketimbang fisik semata. Kalau tua sih itu jelas dari data dan fakta serta tampilan luar. Argumenku sih gini, coba kalian lihat merek anggur kolesom itu apa hayo, Orang Tua atau Orang Dewasa? Hahaha.

Okelah. Intinya aku Sarinah, kalau ditanya siapa namaku aku jawab Arin. Panggil saja Rin. Gitu. Aku orangnya cuek. Lagipula di Indonesia nama sepanjang apapun pasti orang bakal memanggil dengan sebutan yang enak dan semaunya. Gak percaya? Sebut saja presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono yang akrab disapa SBY dengan mengeja es be ye, atau kadang ada juga orang yang menyapa Pak SBY atau Pak Beye. Jarang atau bahkan tidak ada orang yang memanggil dengan misalnya, Pak Susilo atau Pak Bambang. Karena menurut konsep Indonesiawi yang demikian tidak ada, karena tidak enak.

Aku jadi membayangkan pergaulan Pak SBY kecil. Dengan apa teman-temannya memanggil dirinya? Pasti kalian pernah dong punya masa kecil dimana teman kalian panggil atau lebih tepatnya teriak di depan rumah kalian dengan menyingkat panggilan nama, biasanya dua suku kata. Sebut saja Budi yang aku yakin dipanggil Bud. Eh omong-omong soal Budi ini aku malahan jadi ingat sama wakil presiden semasa Pak SBY, yaitu Pak Budiono. Sebenarnya bisa sih kalau Pak Bud, begitu beliau biasa disapa, kepingin dipanggil dengan yang lebih keren mentereng sedikit, Dion. Hahaha. Maafkan pak, anandamu ini cuma membayangkan saja, boleh toh?

Beda dengan konsep nama di luar negeri. Ambil misal Maria Sharapova, petenis cantik asal Rusia. Dia punya nama lengkap Maria Yurievna Sharapova. Namun bangsa Rusia punya konsep nama panggilan kecil yang sudah baku ada formatnya. Nah kalau Maria itu nama panggilan kecilnya Masha atau panggilan sayangnya, Mashenka. Tapi perlu digarisbawahi, mereka bangsa Rusia lebih merasa dihargai apabila dipanggil dengan nama lengkap mereka. Penjelasannya begini, Maria itu nama pendek (nickname), Yurievna itu nama ayah (father’s name) karena nama ayahnya Yuri, dan Maria itu perempuan maka jadilah Yurievna, dan Sharapova itu nama keluarga (family name) dari kata Sharapov.     

Balik ke namaku yang Inah. Aku cuek saja kalau dipanggil Inah. Memang awalnya aku risih karena terdengar ndeso dan sedikit katrok. Tapi setelah ku tahu film Inem Pelayan Sexy[1] keluaran tahun 1976 yang dibintangi Doris Callebaut sebagai Inem, Jalal sebagai Brontoyudo dan Titiek Puspa sebagai istri Pak Cokro yang melambungkan nama mereka, makanya aku makin bangga. Untungnya aku tidak sampai besar kepala. Film produksi PT Candi Film dan PT Suptan Film itu berhasil setidaknya mendobrak jagad sinema tanah air dengan penampilan seorang pembantu rumah tangga yang biasanya identik dengan tampilan desa. Terbukti setelah itu dengan hadirnya sekuel lanjutan kedua dan ketiga dari film ini. Di film ini sosok pembantu ditampilkan seolah seperti majikan dalam penampilannya, sebut saja seksi. Kata seksi ini yang ditulis sexy dalam ejaan resmi film tersebut memunculkan multitafsir oleh penonton waktu itu.

Cerita film besutan sutradara Nya Abbas Akup yang bergenre komedi itu memang cukup unik. Keseksian sosok pembantu dibungkus dengan balutan lawak dan cerita sehari-hari. Inem yang dibintangi Doris memang punya karakter yang kuat. Betapa tidak seorang pengusaha muda bernama Jalal sampai tergila-gila bahkan bertekuk lutut berkat semua yang dimiliki oleh Inem yang sejatinya hanya seorang babu. Sehingga tak ayal ketika itu dia seperti menjadi simbol seks di kalangan penonton film layar lebar. Ibarat Amrik yang punya Marylin Monroe atau Brigitte Bardot. Hasilnya pun sungguh spektakuler, film ini menyabet penghargaan dari Festival Film Indonesia pada tahun 1977 sebagai juara Film Terlaris 1977-1978 (Piala Antemas) yang diwakili Andy Azhar sebagai sang produser.

Dan…
Aku bangga kalau misalnya nanti besok atau kapanpun di masa datang dipanggil Inah. Apalagi dengan embel-embel Inah Pelayan Sexy. Pasti aku respon dengan memplesetkan namaku itu yang Inah dengan sebuah jawaban elegan: iyah.

Bersambung….

Saturday, May 2, 2015

Cintaku Tertinggal di Kancut Itu: Prolog


Prolog

Aku tak menyesal atas apa yang sudah terjadi. Gerangan cinta memang tidak bisa ditebak macam orang berjudi dengan koin yang peluangnya hanya 50:50. Fifty fifty kalau bahasa anak sekarangnya. Bagiku cinta itu ya mengalir apa adanya. Eh gak sih itu mah terlalu klise. Ralat deh. Bagiku cinta itu mengalor-ngidul apa adanya. Gak ada definisi baku soal cinta. Mbah Albert Einstein yang kata orang otaknya jenius saja gak punya rumus buat menjabarkan apa yang disebut dengan CINTA. Nah apalagi aku yang cuma tamatan SMA, walau sekarang lagi kuliah. Haha. Ya begitulah cinta yang deritanya tiada akhir, kata Sun Pat Kay dalam cerita Kera Sakti. Kalau ada akhirnya mah nanti filmnya habis dong. Terus penontonnya bubar.

Cinta mampu menembus batas. Walau memang sih gak bisa menembus wings pembalut kalau pas aku lagi dapet. Becanda. Maaf kalau aku kelewatan. Maksudku cinta bisa mempersatukan manusia yang dulunya sering berantem bahkan jadi musuh utama hingga jadi satu. Iya sih jadi satu maksudnya bukan fisiknya tapi ya kalau meminjam istilah politik jaman sekarang sih menyatukan visi dan misi. Ceileh. Kenapa? Gak suka ya kalau aku ngomong soal politik. Bilang aja kalau politik itu kotor. Ah gak juga tuh. Politikus yang katanya jorok kayak tikus aja punya cinta. Walau cintanya itu karena kepentingan. Istilahkan saja: cinta kepentingan.

Nah sekiranya nanti aku bertemu si anu di linimasa hidupku kelak, aku gak akan menyesal. Malahan sabar ya buat yang gak dapat aku mention. Hahaha. Sok pede. Bahasamu itu lho nak si mbah ndak ngerti, begitu kata si mbahku yang putri. Maklum beliau kan gak pernah tahu yang namanya Twitter. Gini lho, maksudku siapa saja yang bisa jadi teman hidupku aku akan jadi teman hidupnya. Mengabdi untuknya atau lebih pasnya yaitu berkhidmat untuknya sampai waktu yang tidak ditentukan. Saling memberi dan menerima. Begitu bahasa santun dan ringkasnya.
  

----------------------------------------------------------------------------------------------------
Kami baku tindih.
Ah tidak. Kenapa badanku malah semakin semangat, bukannya malah menolak. Entah ada kekuatan gaib dari mana hingga bikin aku cuma terpana sekaligus berapi-api ingin baku cium dengan lelaki yang ada di depan bibirku ini. Ibarat penonton yang punya tugas ya cuma untuk menonton tanpa boleh komentar barang sedikitpun. Gila, pikirku. Siapa pula manusia berjenis kelamin laki-laki yang dengan seenaknya bisa merampas bibirku ini. Sekonyong-konyong badanku secara reflex mengikuti fitrahnya. Kami baku peluk.

Aku gak munafik. Aku sadar aku cuma manusia yang tergadai atas fitrahnya. Apalagi aku wanita yang katanya sebagai si tulang rusuk yang hilang dari laki-laki. Kalau bahasaku sih tulang rusuk yang masih nyelip dan akan terus setia nyelip.

Oh iya aku lupa, sebelum aku semakin lupa, amit-amit jadi pikun. Kenalkan namaku Sarinah. Gak keren ya? Aku sendiri merasa begitu. Namaku gak gaul.


Bersambung…