Memang namaku kelihatan
kampungan walau sekilas tampak kota. Soalnya kamu pasti tahu dong, nama pusat
perbelanjaan pertama di Jakarta. Kemarin pas Obama datang ke Jakarta dia kan
sempat nyebut soal ini. Maklum saja jaman itu kan pusat perbelanjaan belum
ramai seperti sekarang. Alih-alih waktu aku tanya orangtua soal namaku, mereka
jawab sih gitu. Nama yang mentereng waktu itu ya Sarinah. Jadilah namaku
Sarinah Lestari. Perkara sukukata yang kedua ini, bapakku rupanya tergila-gila
sama penyanyi Gombloh dengan lagunya Berita Cuaca. Di lagu itu kan ada kata
lestari-nya. Lestari alamku lestari pacarku, gitu bapak menirukan. Hahaha.
Bapakku orangnya rada
nyentrik. Aku banyak berguru dari beliau. Nah balik ke soal namaku ini, ada
yang mengganjal diriku. Soalnya waktu SD dulu temanku sering mengejek dengan
panggil aku: Inah. Mereka bilang itu nama pembantu rumah tangga yang ngetren
kala itu. Sial. Padahal kan guru-guruku panggil aku dengan Sari. Atau kalau di
rumah aku dipanggil singkat saja, Rin. Oh iya waktu jaman SMA juga aku sering
diejek gini. Inah Pelayan Seksi. Kalau ini maklum lah karena bentuk tubuhku
waktu itu memang sudah aduhai. Saat itu aku merasa ejekan itu sekaligus pujian,
makanya aku tanggapi dengan santai macam artis jaman sekarang kalau lagi kena
badai gosip. Sok elegan padahal aslinya nyinyir kepo.
Aku anak pertama perempuan,
adikku laki. Makanya aku amat disayang orangtua. Maklum lah aku pun bisa paham
mengapa mereka begitu overprotektif kepadaku. Yang disebut belakangan ini aku
pahami setelah aku lulus SMA. Aku jadi makin peka soal perasaan terutama yang
menyangkut orangtua. Bisa jadi ini akibat pergaulanku yang banyak berteman
dengan orang usia lebih tua, maksudnya dewasa. Soalnya aku sering debat dengan
temanku soal kata tua dan dewasa. Menurutku kata dewasa lebih bermakna ke pada
pemikiran ketimbang fisik semata. Kalau tua sih itu jelas dari data dan fakta
serta tampilan luar. Argumenku sih gini, coba kalian lihat merek anggur kolesom
itu apa hayo, Orang Tua atau Orang Dewasa? Hahaha.
Okelah. Intinya aku Sarinah,
kalau ditanya siapa namaku aku jawab Arin. Panggil saja Rin. Gitu. Aku orangnya
cuek. Lagipula di Indonesia nama sepanjang apapun pasti orang bakal memanggil
dengan sebutan yang enak dan semaunya. Gak percaya? Sebut saja presiden
Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono yang akrab disapa SBY dengan mengeja
es be ye, atau kadang ada juga orang yang menyapa Pak SBY atau Pak Beye. Jarang
atau bahkan tidak ada orang yang memanggil dengan misalnya, Pak Susilo atau Pak
Bambang. Karena menurut konsep Indonesiawi yang demikian tidak ada, karena
tidak enak.
Aku jadi membayangkan
pergaulan Pak SBY kecil. Dengan apa teman-temannya memanggil dirinya? Pasti
kalian pernah dong punya masa kecil dimana teman kalian panggil atau lebih
tepatnya teriak di depan rumah kalian dengan menyingkat panggilan nama,
biasanya dua suku kata. Sebut saja Budi yang aku yakin dipanggil Bud. Eh
omong-omong soal Budi ini aku malahan jadi ingat sama wakil presiden semasa Pak
SBY, yaitu Pak Budiono. Sebenarnya bisa sih kalau Pak Bud, begitu beliau biasa
disapa, kepingin dipanggil dengan yang lebih keren mentereng sedikit, Dion.
Hahaha. Maafkan pak, anandamu ini cuma membayangkan saja, boleh toh?
Beda dengan konsep nama di
luar negeri. Ambil misal Maria Sharapova, petenis cantik asal Rusia. Dia punya
nama lengkap Maria Yurievna Sharapova. Namun bangsa Rusia punya konsep nama
panggilan kecil yang sudah baku ada formatnya. Nah kalau Maria itu nama
panggilan kecilnya Masha atau panggilan sayangnya, Mashenka. Tapi perlu
digarisbawahi, mereka bangsa Rusia lebih merasa dihargai apabila dipanggil
dengan nama lengkap mereka. Penjelasannya begini, Maria itu nama pendek (nickname),
Yurievna itu nama ayah (father’s name) karena nama ayahnya Yuri, dan Maria itu
perempuan maka jadilah Yurievna, dan Sharapova itu nama keluarga (family name)
dari kata Sharapov.
Balik ke namaku yang Inah.
Aku cuek saja kalau dipanggil Inah. Memang awalnya aku risih karena terdengar
ndeso dan sedikit katrok. Tapi setelah ku tahu film Inem Pelayan Sexy[1]
keluaran tahun 1976 yang dibintangi Doris Callebaut sebagai Inem, Jalal sebagai
Brontoyudo dan Titiek Puspa sebagai istri Pak Cokro yang melambungkan nama mereka,
makanya aku makin bangga. Untungnya aku tidak sampai besar kepala. Film
produksi PT Candi Film dan PT Suptan Film itu berhasil setidaknya mendobrak
jagad sinema tanah air dengan penampilan seorang pembantu rumah tangga yang
biasanya identik dengan tampilan desa. Terbukti setelah itu dengan hadirnya
sekuel lanjutan kedua dan ketiga dari film ini. Di film ini sosok pembantu
ditampilkan seolah seperti majikan dalam penampilannya, sebut saja seksi. Kata
seksi ini yang ditulis sexy dalam ejaan resmi film tersebut memunculkan
multitafsir oleh penonton waktu itu.
Cerita film besutan sutradara
Nya Abbas Akup yang bergenre komedi itu memang cukup unik. Keseksian sosok
pembantu dibungkus dengan balutan lawak dan cerita sehari-hari. Inem yang
dibintangi Doris memang punya karakter yang kuat. Betapa tidak seorang
pengusaha muda bernama Jalal sampai tergila-gila bahkan bertekuk lutut berkat
semua yang dimiliki oleh Inem yang sejatinya hanya seorang babu. Sehingga tak
ayal ketika itu dia seperti menjadi simbol seks di kalangan penonton film layar
lebar. Ibarat Amrik yang punya Marylin Monroe atau Brigitte Bardot. Hasilnya
pun sungguh spektakuler, film ini menyabet penghargaan dari Festival Film
Indonesia pada tahun 1977 sebagai juara Film Terlaris 1977-1978 (Piala Antemas)
yang diwakili Andy Azhar sebagai sang produser.
Dan…
Aku bangga kalau misalnya
nanti besok atau kapanpun di masa datang dipanggil Inah. Apalagi dengan
embel-embel Inah Pelayan Sexy. Pasti aku respon dengan memplesetkan namaku itu
yang Inah dengan sebuah jawaban elegan: iyah.
Bersambung….