Dia adalah Dilanku tahun 1990.
Begitu kalimat pembuka di sampul buku yang bergambar seorang anak lelaki SMA sedang bergaya di samping sepeda motornya.
Bandung kala September
1990 ternyata menyimpan kisah menarik sepasang insan yang bernama Milea Adnan
Hussain yang akrab disapa Lia dan Dilan. Cinta berlatar SMA ini menarik untuk
disimak. Pidi Baiq sang Imam Besar The Panas Dalam Ketua Front Pembela Islam
Kristen Hindu Budha mengupas cerita klasik ini dengan apik. Dilan seorang cowok
yang tergabung dalam geng motor namun dia berbeda dari kebanyakan cowok geng
motor yang dikenal urakan, justru kebalikannya. Konflik cerita yang dinamis
kala Lia yang telah mempunyai cowok di Jakarta bernama Beni yang harus
menentukan sikapnya pada hati yang telah terpaut pada pesona Dilan. Di dalam
novel ini digambarkan sosok Dilan seorang lelaki sederhana yang misterius,
penuh canda, romantis namun tidak alay. Dia merupakan sosok teladan bagi anak
muda seusianya yang selalu memperjuangkan apa yang benar meskipun harus
berhadapan dengan gurunya sekalipun. Dilan selalu punya cara unik untuk
membahagiakan Lia. Bagaimana di dalam novel ini digambarkan perasaan Lia yang
selalu tak menentu kala mengingat sang pujaan hati. Menarik pula untuk disimak bagaimana sikap
cemburu Anhar, mahasiswa ITB yang tergila-gila pada Lia, apakah dia sanggup
meraih cinta sang gadis jelita ini. Dengan gaya bahasa ala anak muda, Pidi Baiq
menghadirkan cerita yang renyah untuk dinikmati. Buku yang memiliki 332 halaman
ini layak untuk melengkapi isi rak buku sidang pembaca yang budiman. Tak
percuma DAR! Mizan menerbitkan salah satu karya apik Pidi Baiq. Selamat
membaca.
No comments:
Post a Comment