Monday, June 16, 2014

[Resensi Buku] Dilan - Pidi Baiq



Dia adalah Dilanku tahun 1990.

Begitu kalimat pembuka di sampul buku yang bergambar seorang anak lelaki SMA sedang bergaya di samping sepeda motornya.

Bandung kala September 1990 ternyata menyimpan kisah menarik sepasang insan yang bernama Milea Adnan Hussain yang akrab disapa Lia dan Dilan. Cinta berlatar SMA ini menarik untuk disimak. Pidi Baiq sang Imam Besar The Panas Dalam Ketua Front Pembela Islam Kristen Hindu Budha mengupas cerita klasik ini dengan apik. Dilan seorang cowok yang tergabung dalam geng motor namun dia berbeda dari kebanyakan cowok geng motor yang dikenal urakan, justru kebalikannya. Konflik cerita yang dinamis kala Lia yang telah mempunyai cowok di Jakarta bernama Beni yang harus menentukan sikapnya pada hati yang telah terpaut pada pesona Dilan. Di dalam novel ini digambarkan sosok Dilan seorang lelaki sederhana yang misterius, penuh canda, romantis namun tidak alay. Dia merupakan sosok teladan bagi anak muda seusianya yang selalu memperjuangkan apa yang benar meskipun harus berhadapan dengan gurunya sekalipun. Dilan selalu punya cara unik untuk membahagiakan Lia. Bagaimana di dalam novel ini digambarkan perasaan Lia yang selalu tak menentu kala mengingat sang pujaan hati.  Menarik pula untuk disimak bagaimana sikap cemburu Anhar, mahasiswa ITB yang tergila-gila pada Lia, apakah dia sanggup meraih cinta sang gadis jelita ini. Dengan gaya bahasa ala anak muda, Pidi Baiq menghadirkan cerita yang renyah untuk dinikmati. Buku yang memiliki 332 halaman ini layak untuk melengkapi isi rak buku sidang pembaca yang budiman. Tak percuma DAR! Mizan menerbitkan salah satu karya apik Pidi Baiq. Selamat membaca.



No comments:

Post a Comment