Monday, June 16, 2014

Pak Boas



Pak Boas.
Begitulah beliau biasa disapa. Dosen tetap pengajar Jurusan Filsafat Program Studi Ilmu Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia ini merupakan sosok yang luar biasa. Beliau dosen pertama yang memarahi saya dan tak segan untuk memaki-maki mahasiswanya. Mungkin banyak pandangan miring mengenai beliau yang katanya dosen galak, kasar, dan lain sebagainya. Namun bagi saya Pak Boas justru telah mengajarkan banyak hal. Beliau sejatinya berasal dari Jurusan Sastra Slavia Program Studi Sastra Rusia, karena beliau pun alumnus dari jurusan itu. Namun karena sikap bebalnya yang anti mainstream sehingga kadang beliau dicap sebagai pemberontak hingga akhirnya beliau memutuskan untuk hengkang dari jurusan yang telah membesarkan namanya untuk menyeberang di jurusan sebelah yang masih satu fakultas.

Beruntung saya diajar Pak Boas. Masih ingat ketika beliau mengampu dua mata kuliah Sejarah Pranata Uni Soviet dan Sejarah Federasi Rusia. Mata kuliah bertema sejarah merupakan spesialisasi beliau. Saya ingat ketika itu saya tidak sempat membaca tugas paper berbahasa Inggris yang diberikan beliau. Walhasil saya kena semprot beliau. Tak segan-segan beliau memaki mahasiswanya jika memang salah. Namun jangan salah jika si mahasiswa rajin belajar dan bertanya maka beliau pun tidak segan untuk memuji setinggi langit. Hal ini saya rasakan di dua mata kuliah tersebut dimana saya mendapat nilai A. Salah satunya pada mata kuliah Sejarah Pranata Uni Soviet, ketika itu bulan Ramadhan dan saya harus pulang pergi kuliah Bekasi-Depok yang jaraknya cukup jauh. Berhubung nilai saya tertinggi satu kelas pada ujian tengah semester maka saya mendapat mandat pertama untuk maju dalam persentasi mengenai tema Bolshevisme. Saya hanya diberi waktu dua hari dua malam untuk membaca sekian buku tebal yang diberi oleh Pak Boas dalam bahasa Inggris. Berat rasanya pada awalnya bagi saya ketika itu menerima buku yang diserahkan beliau. Betapa tidak saya harus mengerjakan tugas multitasking: membaca, sedikit menerjemahkan, membuat tulisan, ikhtisar, serta slide presentasi yang kala itu masih manual dengan kertas bening berbeda seperti sekarang ini yang sudah canggih.

Janji beliau pada waktu itu: “kalau kamu bisa presentasi dengan bagus, nilaimu saya kasih A tanpa prasyarat ujian akhir semester”.

Artinya apa? Yaitu saya kelak dapat nilai A jika presentasi saya baik dan memuaskan tanpa pengaruh dari nilai ujian akhir yang kelak saya tempuh di mata kuliah ini. Sungguh awalnya saya kira beliau hanya bergurau. Ternyata tidak.

Hari-H pun tiba.
Saya persentasi di depan kelas. Satu jam mata kuliah saya habiskan dengan presentasi dan diskusi tanya jawab. Di ujung presentasi saya mendapat aplaus yang meriah dari Pak Boas serta rekomendasi nilai A. Beliau bilang: “sesuai janji saya karena presentasimu bagus, kamu layak dapat nilai A”.

Ternyata omongan beliau bukan omong kosong. Saya dapat nilai A di penghujung semester. Sungguh luarbiasa. Beliau guru yang saya kagumi. Entah mengapa banyak cibiran dari mahasiswa yang menganggap beliau itu dosen killer, padahal sejatinya tidak. Beliau hanya ingin mahasiswanya lebih pintar dari beliau, ingin agar kita sebagai mahasiswanya tidak jadi mahasiswa dungu yang malas membaca dan bertanya. Baginya, jika seorang mahasiswa itu cepat puas maka layak untuk dapat cacian, kebalikannya jika seorang mahasiswa itu tidak cepat puas dan selalu haus akan ilmu pengetahuan, maka layak untuk dipuji setinggi langit. Itu kesan yang saya tangkap dari Pak Boas. Tegas, lugas, namun berisi. Beliau tidak hanya mengajar namun juga mendidik dengan memberikan nilai-nilai yang tidak ada di buku pelajaran. Sifat beliau yang amanah pada janji layak untuk ditiru mahasiswanya.

Ada pula yang saya ingat dari Pak Boas mengenai kisah cintanya dengan salah seorang professor di Jurusan Sastra Rusia. Kerap kali beliau menyebut sang profesor ketika beliau mengajar. Entah apa maksudnya mungkin beliau masih memendam cinta lama yang tak terlaksana, kasih tak sampai. Saya yakin Pak Boas ketika masih muda itu ganteng dan gaul namun beliau setia sehingga hanya tergila-gila pada seorang wanita yang kelak jadi profesor satu jurusan dengannya kala itu. Entahlah.

Sungguh pengabdian beliau sebagai dosen sangat luar biasa. Menjelang akhir hayatnya beliau tetap setia mengajar walau selalu sebelum mengajar terkadang beliau minum obat karena penyakit menahun yang dideritanya, entah itu apa karena saya tidak pernah bertanya soal itu. Bahkan kabarnya beliau pernah pingsan selagi mengajar sehingga harus digotong dari kelas. Sampai suatu ketika terdengar kabar pada Ahad 14 Desember 2008 di RS Cipto Mangunkusumo, saya mendengar kabar duka beliau berpulang. Sungguh saya sedih mendengarnya. Pak Boas, saya ucapkan terimakasih tak terhingga atas ilmu yang telah dirimu berikan. Semoga ilmu darimu selalu bermanfaat bagi siapapun. Engkau adalah guru yang tahu bagaimana menjadi guru yang baik, Dr. Singkop Boas Boang Manalu. Selamat jalan Pak Boas. 




NB: Video ini saya dedikasikan untuk semua orang yang sayang Pak Boas, maaf Pak kalau saya tidak minta ijin terlebih dahulu untuk merekamnya. Kami selalu menyayangimu.

[Resensi Buku] Dilan - Pidi Baiq



Dia adalah Dilanku tahun 1990.

Begitu kalimat pembuka di sampul buku yang bergambar seorang anak lelaki SMA sedang bergaya di samping sepeda motornya.

Bandung kala September 1990 ternyata menyimpan kisah menarik sepasang insan yang bernama Milea Adnan Hussain yang akrab disapa Lia dan Dilan. Cinta berlatar SMA ini menarik untuk disimak. Pidi Baiq sang Imam Besar The Panas Dalam Ketua Front Pembela Islam Kristen Hindu Budha mengupas cerita klasik ini dengan apik. Dilan seorang cowok yang tergabung dalam geng motor namun dia berbeda dari kebanyakan cowok geng motor yang dikenal urakan, justru kebalikannya. Konflik cerita yang dinamis kala Lia yang telah mempunyai cowok di Jakarta bernama Beni yang harus menentukan sikapnya pada hati yang telah terpaut pada pesona Dilan. Di dalam novel ini digambarkan sosok Dilan seorang lelaki sederhana yang misterius, penuh canda, romantis namun tidak alay. Dia merupakan sosok teladan bagi anak muda seusianya yang selalu memperjuangkan apa yang benar meskipun harus berhadapan dengan gurunya sekalipun. Dilan selalu punya cara unik untuk membahagiakan Lia. Bagaimana di dalam novel ini digambarkan perasaan Lia yang selalu tak menentu kala mengingat sang pujaan hati.  Menarik pula untuk disimak bagaimana sikap cemburu Anhar, mahasiswa ITB yang tergila-gila pada Lia, apakah dia sanggup meraih cinta sang gadis jelita ini. Dengan gaya bahasa ala anak muda, Pidi Baiq menghadirkan cerita yang renyah untuk dinikmati. Buku yang memiliki 332 halaman ini layak untuk melengkapi isi rak buku sidang pembaca yang budiman. Tak percuma DAR! Mizan menerbitkan salah satu karya apik Pidi Baiq. Selamat membaca.



Tuesday, June 10, 2014

CKP



Oh iya aku ingat kisahnya sekitar penghujung 90-an. Sebut saja si cewek ini CKP, inisial namanya. Terserah mau panggil apa si CKP ini, sebut saja CKP itu singkatan dari CaKeP lah. CKP ini punya teman dekat bernama Mala, cewek juga. Tapi nanti dulu, ada awal mulanya. Kisah ini waktu di SMP.

Waktu itu aku lagi suka sama cewek yang namanya Fani, sapaan akrabnya di sekolah. Dia itu kakak kelasku: aku kelas 2, Fani kelas 3. Aku sering berkirim surat sama Fani. Cerita singkatnya aku nekat tiba-tiba beranikan diri untuk bertemu dia sepulang sekolah. Fani gak tahu kalau aku nulis surat itu menghabiskan waktu semalam suntuk cuma buat nulis kata-katanya berikut kertasnya yang salah melulu. Aku kasih surat beramplop warna-warni itu ke Fani sambil garuk-garuk kepala. Dia terima surat itu seraya senyum simpul. Tak lama berselang Fani balas suratku yang isinya dia senang terima suratku yang pertama itu, katanya itu surat pertama dari cowok yang dia terima. Aku pun begitu, betapa sumringahnya menerima surat balasan dari cewek yang aku suka, pertama kalinya dalam hidupku sebagai manusia. Seingatku surat-surat Fani sekarang sudah aku bakar semuanya, tapi ada sedikit yang masih sisa ya sekitar seruas robekan kertas saja yang isinya udah gak jelas.

Ternyata aku kecewa, Fani sudah ada yang suka sebelum aku. Namanya Andi. Karena dia tua dari aku ya aku sebut dia Bang Andi. Usut punya usut ternyata Bang Andi ini kakak kandungnya si Mala yang kelak jadi biangkerok cerita ini. Ya sudah, kisah berikutnya aku mulai menjauhi Fani, demi menghormati yang lebih tua: Bang Andi. Karena aku laki-laki yang berprinsip untuk pantang berkelahi demi seorang wanita, ya sudah aku pilih mundur teratur nan terhormat saja, pikirku waktu itu.

Waktu berlalu. Hingga akhirnya entah darimana datang seorang cewek bernama CKP. Ternyata dia ini teman dekatnya Mala. Dekat sekali aku lihat hubungan mereka. Kemana-mana selalu berdua, ibarat ban sepeda motor. CKP dan Mala ini duduk di kelas 1. Berhubung mereka berdua masuk sekolah di siang hari makanya sering berseliweran sebelum jam sekolah pagi usai. Aku sering lihat dua manusia ini. Singkatnya temanku bernama Eko dan Cuplis, dua karibku ini kenal dengan CKP. Berhubung waktu itu aku yang masih jomblo mereka berdua ingin nyomblangin aku sama salah satu di antara CKP atau Mala. Walhasil aku dikenalkan sama Eko ke CKP dan Mala. Dua-duanya agak mirip, sama-sama punya senyum manis. Entah pakai gula alami atau pengawet.

Setelah sekian hari, minggu, bulan, aku semakin kenalan dengan dua cewek ini. Tapi anehnya yang satu yakni si Mala malah mulai menjauh. Kebalikannya si CKP makin dekat ke aku. Entah apa namanya, cinta monyet kek, cinta apa kek. Yang jelas waktu itu aku beranikan diri nembak si CKP. Hasilnya? Diterima. Tanpa butuh waktu lama, tanpa butuh persyaratan dan ketentuan macam operator telepon seluler. Tak sampai hitungan jam.

Namun waktu jua yang menjawabnya. Keburukan itu walau ditutup-tutupi pasti akan ketahuan juga, ibarat daging ikan busuk. Suatu hari si CKP ketemu aku di sekolah. Dia cerita ke aku semua tentang dia, tentang aku. Semua. Tanpa disadari dia terpeleset berbicara soal si Mala, yang adiknya Bang Andi itu. Dia buka semua aibnya sendiri bersama si Mala. Ternyata mereka berdua itu menjadikan aku sebagai bahan taruhan mereka berdua. Artinya cinta si CKP ke aku cuma sebatas tipuan rekayasa belaka. Si CKP sampai ketakutan sendiri, raut wajahnya jadi seperti ingin menangis. Aku marah. Gak peduli sama raut wajahnya yang menurutku ketika itu juga tipuan belaka. Sebenarnya di awal aku menaruh hati sama si Mala, tapi karena aku tahu dia itu adiknya Bang Andi aku merasa gak enak. Belakangan aku tahu kelakuan buruk si CKP ini yang ternyata semakin jelas.

Sampai akhirnya aku lulus sekolah. Melanjutkan sekolah. Kuliah. Pindah rumah.  Aku sudah gak pernah tahu kabar semua tokoh yang ada dalam cerita ini. Sampai suatu ketika di Stasiun Bekasi, waktu aku hendak ke kampus Universitas Indonesia di Depok sempat aku bertemu dengan seorang cewek yang persis seperti CKP bersama seorang wanita paruh baya sedang duduk di bangku peron. Tak lama dia menyapa.
“Hai.
“Jun? Iya Jun kan kamu? Sapa dia.
Aku menjawab dengan elegan.
“Hai juga”
“Siapa ya?”
“Ini gw, CKP” Seraya menjabat tanganku.
Aku balas jabat tangannya.
Di sebelahnya ada sang ibunda. Dia kenalkan aku ke ibundanya:
“Ini loh ma, yang aku certain dulu waktu SMP. Si Jun yang waktu itu.”
Aku langsung mencium tangan ibundanya.
“Oh iya tante. Saya Jun, teman sekolah-nya CKP dulu”.
“Iya. Senang berkenalan dengan kamu, nak.”
“Sama-sama tante. Anaknya sekarang sudah besar yah. Mirip ibundanya”
Tak lama saya pamit kepada mereka berdua.
“CKP, Tante. Saya gak bisa berlama-lama ngobrol. Maaf saya harus pamit. Kereta saya sudah tiba”
“Oh iya, nak. Kapan-kapan main lah ke rumah. Kami udah pindah kok”. Si Tante seraya memberikan nomor telepon rumahnya.
“Insya Allah”. Saya pun pamit.

Begitu ceritanya. Gak menarik kan? Ya memang. Tapi buatku in pengalaman berharga jangan sampai jadi pecundang di lain waktu. Tidak enak memang rasanya jadi bahan permainan, apalagi ini permainan cinta. Mungkin terdengar naïf, ya kalau tidak jangan didengar, apalagi dibaca kisah ini. Tapi terlanjur nasi telah menjadi bubur, tinggal tambahkan cakwe, bawang goreng, ayam suwir, dan kerupuk sesuai selera. Biar tidak mubazir.

Suatu ketika berselang, sekitar beberapa tahun semenjak pertemuan terakhir itu, CKP sms aku, isinya mengajak untuk menikah. Aku jawab, maaf. Tak ada permainan kedua, terlebih bagi sang mantan.