Pak Boas.
Begitulah beliau
biasa disapa. Dosen tetap pengajar Jurusan Filsafat Program Studi Ilmu Filsafat
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia ini merupakan sosok yang
luar biasa. Beliau dosen pertama yang memarahi saya dan tak segan untuk
memaki-maki mahasiswanya. Mungkin banyak pandangan miring mengenai beliau yang
katanya dosen galak, kasar, dan lain sebagainya. Namun bagi saya Pak Boas
justru telah mengajarkan banyak hal. Beliau sejatinya berasal dari Jurusan
Sastra Slavia Program Studi Sastra Rusia, karena beliau pun alumnus dari jurusan
itu. Namun karena sikap bebalnya yang anti mainstream sehingga kadang beliau
dicap sebagai pemberontak hingga akhirnya beliau memutuskan untuk hengkang dari
jurusan yang telah membesarkan namanya untuk menyeberang di jurusan sebelah
yang masih satu fakultas.
Beruntung saya
diajar Pak Boas. Masih ingat ketika beliau mengampu dua mata kuliah Sejarah
Pranata Uni Soviet dan Sejarah Federasi Rusia. Mata kuliah bertema sejarah
merupakan spesialisasi beliau. Saya ingat ketika itu saya tidak sempat membaca
tugas paper berbahasa Inggris yang diberikan beliau. Walhasil saya kena semprot
beliau. Tak segan-segan beliau memaki mahasiswanya jika memang salah. Namun jangan
salah jika si mahasiswa rajin belajar dan bertanya maka beliau pun tidak segan
untuk memuji setinggi langit. Hal ini saya rasakan di dua mata kuliah tersebut
dimana saya mendapat nilai A. Salah satunya pada mata kuliah Sejarah Pranata
Uni Soviet, ketika itu bulan Ramadhan dan saya harus pulang pergi kuliah Bekasi-Depok
yang jaraknya cukup jauh. Berhubung nilai saya tertinggi satu kelas pada ujian
tengah semester maka saya mendapat mandat pertama untuk maju dalam persentasi
mengenai tema Bolshevisme. Saya hanya diberi waktu dua hari dua malam untuk
membaca sekian buku tebal yang diberi oleh Pak Boas dalam bahasa Inggris. Berat
rasanya pada awalnya bagi saya ketika itu menerima buku yang diserahkan beliau.
Betapa tidak saya harus mengerjakan tugas multitasking: membaca, sedikit
menerjemahkan, membuat tulisan, ikhtisar, serta slide presentasi yang kala itu
masih manual dengan kertas bening berbeda seperti sekarang ini yang sudah
canggih.
Janji beliau pada
waktu itu: “kalau kamu bisa presentasi
dengan bagus, nilaimu saya kasih A tanpa prasyarat ujian akhir semester”.
Artinya apa? Yaitu
saya kelak dapat nilai A jika presentasi saya baik dan memuaskan tanpa pengaruh
dari nilai ujian akhir yang kelak saya tempuh di mata kuliah ini. Sungguh
awalnya saya kira beliau hanya bergurau. Ternyata tidak.
Hari-H pun tiba.
Saya persentasi di
depan kelas. Satu jam mata kuliah saya habiskan dengan presentasi dan diskusi tanya
jawab. Di ujung presentasi saya mendapat aplaus yang meriah dari Pak Boas serta
rekomendasi nilai A. Beliau bilang: “sesuai janji saya karena presentasimu
bagus, kamu layak dapat nilai A”.
Ternyata omongan
beliau bukan omong kosong. Saya dapat nilai A di penghujung semester. Sungguh
luarbiasa. Beliau guru yang saya kagumi. Entah mengapa banyak cibiran dari
mahasiswa yang menganggap beliau itu dosen killer, padahal sejatinya tidak.
Beliau hanya ingin mahasiswanya lebih pintar dari beliau, ingin agar kita
sebagai mahasiswanya tidak jadi mahasiswa dungu yang malas membaca dan
bertanya. Baginya, jika seorang mahasiswa itu cepat puas maka layak untuk dapat
cacian, kebalikannya jika seorang mahasiswa itu tidak cepat puas dan selalu
haus akan ilmu pengetahuan, maka layak untuk dipuji setinggi langit. Itu kesan
yang saya tangkap dari Pak Boas. Tegas, lugas, namun berisi. Beliau tidak hanya
mengajar namun juga mendidik dengan memberikan nilai-nilai yang tidak ada di
buku pelajaran. Sifat beliau yang amanah pada janji layak untuk ditiru
mahasiswanya.
Ada pula yang saya
ingat dari Pak Boas mengenai kisah cintanya dengan salah seorang professor di Jurusan
Sastra Rusia. Kerap kali beliau menyebut sang profesor ketika beliau mengajar.
Entah apa maksudnya mungkin beliau masih memendam cinta lama yang tak
terlaksana, kasih tak sampai. Saya yakin Pak Boas ketika masih muda itu ganteng
dan gaul namun beliau setia sehingga hanya tergila-gila pada seorang wanita
yang kelak jadi profesor satu jurusan dengannya kala itu. Entahlah.
Sungguh pengabdian
beliau sebagai dosen sangat luar biasa. Menjelang akhir hayatnya beliau tetap
setia mengajar walau selalu sebelum mengajar terkadang beliau minum obat karena
penyakit menahun yang dideritanya, entah itu apa karena saya tidak pernah
bertanya soal itu. Bahkan kabarnya beliau pernah pingsan selagi mengajar
sehingga harus digotong dari kelas. Sampai suatu ketika terdengar kabar pada Ahad 14 Desember 2008 di RS Cipto Mangunkusumo, saya mendengar kabar
duka beliau berpulang. Sungguh saya sedih mendengarnya. Pak Boas, saya ucapkan
terimakasih tak terhingga atas ilmu yang telah dirimu berikan. Semoga ilmu
darimu selalu bermanfaat bagi siapapun. Engkau adalah guru yang tahu bagaimana
menjadi guru yang baik, Dr. Singkop Boas Boang Manalu. Selamat jalan Pak Boas.
NB: Video ini saya dedikasikan untuk semua orang yang sayang Pak Boas, maaf Pak kalau saya tidak minta ijin terlebih dahulu untuk merekamnya. Kami selalu menyayangimu.