Thursday, April 10, 2014

Balada Manusia Kerdil

Cinta terkadang hanya isapan jempol tahi kucing belaka yang nyata menimpa anak manusia.|

"maaf uda (Abang-ed), aku gak bisa. terima kasih udah sayang aku tapi aku gak sayang uda :) "

"uda  sama SI ANU itu aja dia masih mengharapkan uda kok, dia sayang banget sama uda makanya dia begitu".


Begitu bunyi dua larik pesan surat listrik yang saya terima. Singkat, namun menyakitkan.
Mengapa?


Alkisah, saya jatuh cinta pada seorang wanita. Singkatnya dari sebuah perjalanan wisata alias ngetrip, saya bersua dengannya, wanita yang awalnya biasa saja; macam syair sebuah lagu. Saya tipe laki-laki yang blak-blakan tanpa tedeng aling-aling dalam hal mengungkapkan perasaan cinta. Sampai suatu ketika waktu yang dinanti yakni ketika saya pulang touring sepeda motor dari Pelabuhan Ratu bersama teman semasa kuliah dulu, saya langsung menyambangi kediaman si gadis ini.

Tanpa ba-bi-bu saya langsung nyatakan AKU CINTA KAMU kepadanya. Hening. Dia cuma diam alias gak berani bilang sepatah kata pun. Saya menunggu. Menunggu. Menunggu. Menunggu.

Entah berapa lama saya harus mengulang lema yang berawalan me- ini. Kegiatan yang berulang-ulang saya lakukan, disertai dengan munajat kepada-Nya bahwa saya sayang dia, saya ingin dia jadi istri saya, garwa; sigaraning nyawa; yang kelak mendampingi saya hingga saya mati. Namun apa kelanjutannya?

******

Hari, bulan, tahun berlalu. Esok demi esok, lusa, tulat, tubin. Saya cuma menunggu. Apa sih yang saya tunggu? Sepele memang, jawaban YA atau TIDAK. Ibarat kuis di televisi. Hahaha.

Jogjakarta, medio selang beberapa tahun.
Jawaban yang saya tunggu akhirnya datang juga. Sepintas memang basi, namun bubur telah hancur seperti hati saya yang benar-benar lebur. Tak ada kata yang keluar dari mulut saya. Air mata. Ya, cuma air mata yang jatuh tanpa saya sadari. Kesimpulannya: TIDAK. Itulah jawabannya. Syabas.

Ribuan kilometer saya tempuh, uang, waktu, peluh keringat, darah, air mata saya perjuangkan demi menggapai cinta saya di dunia ini yang sejatinya cuma macam fatamorgana di padang pasir gersang nan tandus. Saya kecewa, betul-betul kecewa. Naif memang rasanya mengejar angan-angan semu. Semua reputasi dan nama baik saya pertaruhkan di depan semua orang yang kenal saya di dunia ini, sampai banyak komentar dan respon positif dari teman-teman sejawat saya, bahwa intinya mereka pun merestui seandainya kelak hubungan saya berlanjut ke jenjang pernikahan. Namun apadaya, untng tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Saya terima takdir ini dengan (tidak) ikhlas. Maksudnya, hati saya menerima, namun lisan saya memaki, misuh, mengumpat. Jancuk! Mungkin ini kosakata yang tepat untuk menggambarkan emosi saya.


Jawaban terkutuk penuh iblis mungkin. Begitu di benak saya. Ditambah lagi selang beberapa tahun saya menerima undangan pernikahan. Saya cuma tertawa dan memaki. Semoga Dia yang Maha Adil dan Maha Mengetahui hamba-Nya melindungi saya selalu. Amin





2 comments:

  1. Jadi sekarang gimana kelanjutan cerita si laki-laki yang ngumpat jancuk ini?

    ReplyDelete
    Replies
    1. masih setia ngumpat jancuk pada cewek manja yang mangkal di lantai atas kamar nomer 20

      Delete