Wednesday, April 30, 2014

Dear Diary,


Entah ini kali ke berapa aku menulis diary; yang ketika aku masih duduk di bangku SMP aku mengeja diary dengan diare; yang konon padan dengan kata mencret di KBBI. Aku pernah punya buku diary sebagai bukti anak yang hidup di jaman 90an. Isinya? Mirip formulir cuma minus pas foto dan materai 6 ribu saja.  Buku diary-ku waktu itu gak pakai gembok; karena aku tahu buat apa juga digembok kalau ujungnya bakal dibuka kembali, bikin repot saja. Oh iya aku pernah punya memorabilia unik jaman SMP; namanya buku ‘asal coret’. Norak sih tapi kenangan di dalamnya luar biasa; karena muatan sejarah yang menulisnya itu teman-teman saya sendiri. Tolol memang namun itulah narsis ala anak yang hidup di jaman itu; jaman dimana pengguna internet masih bisa dihitung dengan jari. Walaupun begitu, buku asal coret ini sampai dibikin jilid 3. Mencengangkan. Terhitung hal ini dikarenakan rekues dari teman-teman saya sendiri untuk melanjutkan buku ini sampai sejauh mana kuatnya; dan walhasil sampai tiga seri. Luar biasa. Tepuk tangan.

Aku kangen. Aku kangen kenangan kita; mungkin naïf terdengarnya. Nggilani. Menjijikkan. Sudah 4 hari aku hanya terbaring di kamar, tak bisa melakukan sesuatu dengan normal; alias butuh seseorang untuk membantu kegiatan sehari-hari. Aku tahu kamu sibuk. Ya apalah dengan segala tetek bengek aktifitasmu.  Jujur sih aku gak butuh ini itu dari kamu; aku cuma butuh kabarmu dalam format teks pesan singkat. Sederhana. Apa susahnya sih kirim pesan? Gak tau lah. Aku makin gak paham dirimu, apalagi diriku sendiri aku makin njeleh. Sebenarnya malas buatku untuk kasih kabar ke kamu; ngapain juga. Seakan ada dan tiadanya kamu itu gak ngaruh juga di sakitku ini.

Aku teriak-teriak gak jelas juntrungannya karena toh gak ada juga orang yang mendengar teriakanku. Aku tahu kalau aku gak tahu apa yang mesti aku lakukan.  Rasanya aku ingin keluarkan roh dari dalam jasad terus aku gentayangi kamu. Biar kamu mampus; gitu bahasa sastranya Chairil Anwar. Sudahlah aku akhiri saja curhatku; bukan suratku. Karena konon kata ‘surat’ sudah gak payu lagi ketimbang kata ‘curhat’ untuk mewakili emosi anak gaul masa kini padahal artinya cuma kepanjangan dari kata curahan hati. Sudahlah. Aku capek. Intinya andai kamu ada di hadapanku sekarang, aku cuma mau lakukan satu hal untukmu: gampar pipi kamu bolak-balik.

Monday, April 21, 2014

Hari Ngatini, Eh Kartini

 Ibu kita Kartini putri sejati putri Indonesia harum namanya.



Begitu kata syair lagu nasional berjudul Ibu Kita Kartini yang nyatanya dan sebenarnya tak lebih dari lagu plagiat dari lagu daerah Minahasa berjudul O Ina Ni Keke. Kartini yang bergelar ibu kita ini dikenal berkat surat-suratnya kepada pemerintah Hindia Belanda pada jaman penjajahan. Tentu yang paling populer berjudul "Door Duisternis Tot Licht" yang diterjemahkan menjadi "Habis Gelap Terbitlah Terang". Saya yakin banyak orang yang tidak kenal siapa Kartini, karena saya sendiri pun tidak. Di jaman ini di kala emansipasi teramat dijunjung tinggi, sudah banyak sosok wanita yang telah menjadi anu menjadi itu, ya istilahnya jadi 'orang' lah; begitu kata orang-orang. Kartini konon telah 'menjelma' jadi sosok yang multitasking alias serbabisa mengurus tetek bengek kehidupan ini; tentunya tanpa mengesampingkan aspek privat feminis yang senang bersolek dan narsis, ya sah sah saja sih.


Lantas apa bedanya Kartini dengan Ngatini?
Halah.
Ngatini. Siapa sih yang kenal? Ngatini merupakan sosok yang diciptakan oleh komedian Tukul Arwana ketika meledek Vega Darwanti yang konon katanya ndeso banget ketika awal mula datang ke Jakarta. Namun karena sosok Ngatini yang mau belajar, banyak bertanya, hingga menjadikan dirinya semakin menyaingi eh lebih tepatnya menyerempet Kartini. Lha wong namanya mirip sedikit kok. Hahaha. Sosok Ngatini yang melekat pada diri Vega Darwanti ini menjadikan namanya populer di dunia industri pertelevisian tanah air. Jadi boleh dibilang kalau ibu kita Kartini itu ya namanya Kartini saja tanpa punya nama alias; nah kalau si Vega Darwanti ini punya nama samaran Ngatini yang pada awal kemunculannya disandingkan dengan sejawatnya, Ngatiyem; namun tidak ngetop seperti dia.

Ya memang sih Kartini punya lagu yang diciptakan walau plagiat; namun Ngatini tak perlu lagu untuk dikenal. Sudah banyak wanita yang menjadi Kartini ataupun Ngatini di jaman ini. Tapi sedikit sekali wanita yang menjadi semacam Ibu Sud, kalau kata teman saya yang bernama Shubhi; atau sedikit sekali wanita yang ingin menjadi Bu Kasur yang istrinya Pak Kasur. Masih terngiang lirik lagu berjudul Dongeng yang dipopulerkan grup band Wayang:

"Dongeng sebelum tidur, ceritakan yang indah biar ku terlelap"

Setelah bait ini terdengar suara Bu Kasur bercerita tentang dongeng kancil yang legendaris:
"Hore, hidup kancil, hidup kancil! Kancil binatang yang cerdik. Seru mereka yang baru saja terbebas dari ancaman harimau. Terimakasih kancil."

Bu Kasur. Wanita yang bernama asli Sandiah; mendapat julukan Bu Kasur karena ikut panggilan sang suami yaitu Pak Kasur yang bernama asli Suryono yang disingkat Kak Sur. Jadilah Bu Kasur dan Pak Kasur.

Saya merindukan masa-masa dimana seorang ibu mendongengkan kepada anaknya cerita sebelum tidur. Bu Kasur tidak perlu bergelar ibu kita untuk mengajarkan nilai kebaikan kepada anak kecil. Seorang wanita yang mendidik generasi penerus bangsa ini menjadi lebih baik, bukan Kartini yang telah bergelar ibu kita.
 


Friday, April 11, 2014

Angguk-angguk Guk-guk

 Mengangguk-anggukan kepala sok mengerti; tampaknya hal ini hanya terjadi di negeri ini. Ceramah, khutbah, kuliah, seminar, sarasehan, diskusi yang jadi TKP-nya. Sebut saja: angguk-angguk guk-guk.

Mengangguk, yang berasal dari kata dasar angguk menurut KBBI bermakna: angguk 1 /ang·guk / n gerakan menundukkan kepala (tanda setuju, mengantuk, dsb);-- bukan, geleng ia, pb lain di mulut lain di hati;

Ya, guk-guk. Alias anjing; hewan yang bisa menggonggong kalau dia penakut, tapi setia pada sang majikan. Manusia negeri ini hobi meniru tingkah polah hewan berkaki empat yang sering jadi bahan caci makian umpatan ini. Goyang kepala ke atas-bawah berulang-ulang seolah di leher ada per elastis yang bikin nikmat asyik masyuk mengangguk. Saya heran dengan tipe manusia model ini, yang terkadang pada nyatanya hal apa yang dia anggukan tersebut dia sendiri tidak paham artinya. Persis seperti kelakuan anjing; disuruh majikannya ini itu ya manut saja, tanpa paham esensi apa yang ada di balik perintah majikan tersebut. Pesan apa yang terkandung di dalamnya. Biasanya kegiatan mengangguk ala guk-guk ini disertai dengan gestur mata yang sedikit ditutup seperti orang sedang santai di pinggir pantai sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Entahlah apa yang ada di benak si pengangguk. Guk!


Thursday, April 10, 2014

Balada Manusia Kerdil

Cinta terkadang hanya isapan jempol tahi kucing belaka yang nyata menimpa anak manusia.|

"maaf uda (Abang-ed), aku gak bisa. terima kasih udah sayang aku tapi aku gak sayang uda :) "

"uda  sama SI ANU itu aja dia masih mengharapkan uda kok, dia sayang banget sama uda makanya dia begitu".


Begitu bunyi dua larik pesan surat listrik yang saya terima. Singkat, namun menyakitkan.
Mengapa?


Alkisah, saya jatuh cinta pada seorang wanita. Singkatnya dari sebuah perjalanan wisata alias ngetrip, saya bersua dengannya, wanita yang awalnya biasa saja; macam syair sebuah lagu. Saya tipe laki-laki yang blak-blakan tanpa tedeng aling-aling dalam hal mengungkapkan perasaan cinta. Sampai suatu ketika waktu yang dinanti yakni ketika saya pulang touring sepeda motor dari Pelabuhan Ratu bersama teman semasa kuliah dulu, saya langsung menyambangi kediaman si gadis ini.

Tanpa ba-bi-bu saya langsung nyatakan AKU CINTA KAMU kepadanya. Hening. Dia cuma diam alias gak berani bilang sepatah kata pun. Saya menunggu. Menunggu. Menunggu. Menunggu.

Entah berapa lama saya harus mengulang lema yang berawalan me- ini. Kegiatan yang berulang-ulang saya lakukan, disertai dengan munajat kepada-Nya bahwa saya sayang dia, saya ingin dia jadi istri saya, garwa; sigaraning nyawa; yang kelak mendampingi saya hingga saya mati. Namun apa kelanjutannya?

******

Hari, bulan, tahun berlalu. Esok demi esok, lusa, tulat, tubin. Saya cuma menunggu. Apa sih yang saya tunggu? Sepele memang, jawaban YA atau TIDAK. Ibarat kuis di televisi. Hahaha.

Jogjakarta, medio selang beberapa tahun.
Jawaban yang saya tunggu akhirnya datang juga. Sepintas memang basi, namun bubur telah hancur seperti hati saya yang benar-benar lebur. Tak ada kata yang keluar dari mulut saya. Air mata. Ya, cuma air mata yang jatuh tanpa saya sadari. Kesimpulannya: TIDAK. Itulah jawabannya. Syabas.

Ribuan kilometer saya tempuh, uang, waktu, peluh keringat, darah, air mata saya perjuangkan demi menggapai cinta saya di dunia ini yang sejatinya cuma macam fatamorgana di padang pasir gersang nan tandus. Saya kecewa, betul-betul kecewa. Naif memang rasanya mengejar angan-angan semu. Semua reputasi dan nama baik saya pertaruhkan di depan semua orang yang kenal saya di dunia ini, sampai banyak komentar dan respon positif dari teman-teman sejawat saya, bahwa intinya mereka pun merestui seandainya kelak hubungan saya berlanjut ke jenjang pernikahan. Namun apadaya, untng tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Saya terima takdir ini dengan (tidak) ikhlas. Maksudnya, hati saya menerima, namun lisan saya memaki, misuh, mengumpat. Jancuk! Mungkin ini kosakata yang tepat untuk menggambarkan emosi saya.


Jawaban terkutuk penuh iblis mungkin. Begitu di benak saya. Ditambah lagi selang beberapa tahun saya menerima undangan pernikahan. Saya cuma tertawa dan memaki. Semoga Dia yang Maha Adil dan Maha Mengetahui hamba-Nya melindungi saya selalu. Amin