CAST
Ucup as Ucup
John de Koplo as Pak Tua
INTRO
Seorang tua paruh baya sedang duduk termenung di trotoar depan Stasiun
Bogor. Dia asyik masyuk merokok dengan khusyuk. Tampak jelas air muka
kebingungan di wajahnya yang berkerut tanpa sudah tidak muda lagi. Asap rokok
mengepul dengan ganas di depan wajahnya sambal sesekali tampak dia menghisap
rokok dengan kuat-kuat. Pak Tua sebut saja begitu namanya, tampak menggendong
tas ransel dan mengenakan pakaian batik ala kadarnya serta celana panjang
lusuh.
Kemudian muncul sosok anak muda dari arah pintu keluar Stasiun Bogor,
sebut saja namanya Ucup. Dia merupakan pengangguran yang baru saja lulus dari
salah satu kampus swasta yang terkenal di Jakarta.
KONFLIK
Ucup menghampiri Pak Tua yang tampak kebingungan. Dia mencoba untuk
sekedar berbasa-basi sekaligus mempraktikkan kemampuan berbicara yang dia
pelajari dari kampusnya. Basa-basi yang dalam bahasa Inggris disebut dengan ice
breaking. Ucup mencoba basa-basi dengan menggunakan dialek Betawi. Ternyata Pak
Tua membalas dengan dialek yang sama.
UCUP
Beh, numpang tanya. Kalau mau ke Terminal Baranangsiang dari sini naik
apa ya?
PAK TUA
Iya dek. Gampang itu mah. Dari sini tinggal naik angkot 05 jurusan
Ciheuleut – Pasar Baru via Baranang Siang, nanti tinggal turun di depannya.
Alternatif lain bisa naik bis kuning yang dari Kampung Rambutan. Atau kalau mau
gak ribet, adek tinggal naik ojek aja. Deket kok.
UCUP
Oh gitu ya Beh. Terimakasih ya Beh.
PAK TUA
Iya.
Ucup mulai memperluas pembicaraan
dengan bertanya seputar kota Bogor. Dia pikir si Pak Tua ini warga asli Bogor
karena mampu menunjukkan kepadanya rute angkutan kota dengan tepat dan cermat.
UCUP
Beh, gimana nih dengan kebijakan walikota Bogor yang baru?
PAK TUA
Ya gitu ya, A. Namanya orang kecil mah ya gini-gini aja. Kebijakan
kurang berpihak pada orang kecil. Hehehe.
UCUP
Iya sih, Beh. Ngomong-ngomong Babeh warga asli Bogor atau bagaimana nih?
PAK TUA
Saya mah asli Jakarta, Tenabang.
UCUP
Lah saya kira si Babeh asli sini. Hehehe. Soalnya kan tadi nunjukin saya
dengan fasih rute angkot dimari.
PAK TUA
Oh kalau itu soalnya saya abis kecopetan, A. Barusan. Di Terminal
Baranangsiang. Makanya bisa paham rute angkot ke sana.
UCUP
Astaghfirullah. Ya ampun, Beh. Kenapa gak cerita ke saya dari awal? Kan
saya bisa bantu Babeh.
PAK TUA
Gak enak lah, A. Saya orangnya malu ngemis-ngemis gitu. Mendingan saya
mah duduk merenung aja dimari. Mikirin cara gimana saya bisa balik ke rumah.
UCUP
Emang rumah dimana, Beh?
PAK TUA
Rumah ane mah di Tenabang. Cuma ini tujuan ane mau ke Depok, ke tempat
keponakan.
UCUP
Oh gitu Beh. Ongkos ke Depok berapa duit?
PAK TUA (mengulang dialog sebelumnya)
Duh, A. Ane malu minta-minta.
UCUP
Ga kapa-apa Beh. Anggap aja ane beramal.
PAK TUA
Ya 10 rebu cukup lah, A.
Ucup langsung membuka dompetnya seraya mengambil dua lembar uang pecahan
IDR5000.
UCUP
Ini beh, anggap aja sedekah dari hamba Allah.
PAK TUA
Ya ampun, A. Terimakasih banyak. Ane gak tau mesti bilang apa ke Aa.
UCUP
Doain aja beh, saya mah orang miskin. Biar Allah yang ganti.
PAK TUA
ENDING