Wednesday, April 15, 2015

Kasih: Aku Lala Padamu


Aku merenung dalam kembaraku
Coba untuk resapi maknamu
Berbagai gunung ku punggahi
Bermacam hati ku temui

Lagi-lagi dan lagi namamu bersipongang
Kamu terlalu angkuh untuk tetap hidup
Jadi benalu termanis di hatiku
Kasihmu begitu nyata begitu kuat begitu indah
Menyala seraya menari di setiap jengkal jiwaku
Namamu yang kasih dari Dzat Maha Kasih

Aku sudah coba angkuh tak mengingatmu
Semakin itu pula aku semakin menemukanmu
Aku percaya doa Rahvana kala menculik Shinta:
“Ya Tuhan, jika cintaku pada Shinta terlarang, mengapa kau bangun megah perasaan ini dalam sukmaku” [Sujiwo Tejo, Rahvayana: Aku Lala Padamu]

Tak ada yang salah dalam kita yang cinta
Cinta kita membenarkan segenap ego dalam satu suara
Menerima kekurangan cela aib noda yang ada pada diri kita
Memaksa kita untuk bilang kamu ketimbang aku
Karena selama ini kita sibuk mengumpat dengan asu
Aku tak ingin mencari yang sepertimu
Biar kamu jadi indah gentayangan selalu

Ketahuilah, dalam puisi ini aku bermunajat
Bahwa cintaku tak pernah habis buatmu
Karena Tuhanku Allah Maha Cinta
Kasih, Aku Lala Padamu.